counter

Glenn Fredly keluarkan Petisi Selamatkan Kepulauan Aru

Glenn Fredly keluarkan Petisi Selamatkan Kepulauan Aru

Glenn Fredly saat tampil dalam mini konser "Demo Lagu Sendiri" di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta, Kamis (5/9). Kali ini dia menyuarakan Petisi Selamatkan Kepulauan Aru. (ANTARA FOTO/Teresia May)

... Pulau Seram, pabrik semen dan pabrik gula yang dulu direncanakan ternyata bohong. Pengusaha kabur setelah hutan dibabat dan kayu dijual ke luar... "
Jakarta (ANTARA News) - Selamatkan Kepulauan Aru, kali ini seruan itu berupa petisi dari penyanyi putra Maluku, Glenn Fredly; karena hutan-hutan di Kepulauan Aru, Maluku, telah dibabat dijadikan kebun besar dengan berbagai masalahnya. 

Pernyataan tertulis Fredly, di Jakarta, Minggu, pembabatan tersebut mengikis 500.000 Hektare dari keseluruhan luas Kepulauan Aru, yakni 643.000 Hektare. Tersisa cuma kurang dari sepertiga wilayah darat Kepulauan Aru!

"Lalu apa yang tersisa dari Maluku...," ujar Fredly.

Dia mengatakan, saat ini 19 dari 28 perusahaan perkebunan di bawah PT Menara Group sudah mengantongi izin Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, atas wewenang Bupati Aru, Theddy Tengko, yang saat ini berada di penjara di Sukamiskin, Bandung, karena terjerat kasus korupsi.

Fredly sangat khawatir akan nasib kampung halaman dengan kekayaan dan keindahaan alamnya tersebut. 

Karena itu, ia melayangkan petisi yang kini sudah didukung sebanyak 5.000 orang.

Dia mengatakan sebelumnya, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Maluku bertemu Komisi B DPRD Maluku terkait penyelamatan lahan tersebut.

"Mereka sepakat bahwa ada indikasi kejahatan dalam kasus Aru," katanya.

Dia berharap masyarakat Indonesia turut mendukung petisi tersebut agar izin perusahaan perkebunan di kepulauan Aru dicabut.

"Di Pulau Seram, pabrik semen dan pabrik gula yang dulu direncanakan ternyata bohong. Pengusaha kabur setelah hutan dibabat dan kayu dijual ke luar," katanya.

Fredly menjelaskan perusahaan pengembang sawit mengobrak-abrik lahan-lahan di Pulau Seram dan saat ini menyisakan hamparan sawit ratusan ribu Hektare.

"Hutan habis dan yang tersisa bagi penduduk lokal hanya status buruh lepas harian, miskin, dan kebanjiran," katanya.

Hal sama juga disampaikan aktivis pluralisme asal Ambon, Jacky Manuputy, yang mengatakan gerakan penolakan penebangan hutan untuk perkebunan semakin menguat di komunitas masyarakat Kepulauan Aru.

"Hampir semua penduduk dari 117 desa menolak perkebunan ini. Ini yang membuat gerah pemerintah Kabupaten Aru yang kini dipimpin pejabat sementara," katanya.

Dia menuturkan Kepulauan Aru terdiri atas hampir 300 pulau dengan enam pulau besar yang dipenuhi flora dan fauna endemik yang juga terdapat di Papua dan Australia.

Di dalamnya, lanjut dia, terdapat empat spesies burung cendrawasih, kakatua raja, kanguru pohon, kasuari, dan lainnya.

"Kepualuan Aru itu unik, indah namun rentan terhadap kerusakan ekologi," katanya.

Cara tradisional berburu babi hutan di Kuningan

Pewarta: Juwita T Rahayu
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar