Pemimpin diharapkan meneladani Hamka

Pemimpin diharapkan meneladani Hamka

ilustrasi University of Muhammadiyah Prof DR HAMKA (Uhamka) Jakarta. (uhamka.ac.id)

Sekarang ini persiapan kaderisasi di negara ini kan lemah. Tidak ada tokoh yang benar-benar disiapkan. Justru banyak mereka yang terlibat kasus korupsi, perempuan, dan sebagainya,"
Semarang (ANTARA News) - Irfan Hamka, putra kelima ulama besar Buya Hamka mengingatkan para pemimpin negeri ini harus meneladani perjuangan tokoh nasional yang bernama asli Haji Malik Abdul Karim Amrullah itu.

"Sekarang ini persiapan kaderisasi di negara ini kan lemah. Tidak ada tokoh yang benar-benar disiapkan. Justru banyak mereka yang terlibat kasus korupsi, perempuan, dan sebagainya," katanya di Semarang, Jumat.

Hal tersebut diungkapkannya usai seminar "Kontribusi Buya Hamka terhadap Pengembangan Dakwah dan Pemikiran Islam di Indonesia" yang diprakarsai Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Menurut dia, kaderisasi yang lemah itulah yang menyebabkan sulitnya sekarang ini untuk mencari tokoh-tokoh pengganti yang benar-benar bisa diteladani oleh masyarakat sebagaimana Soekarno, Hatta, dan Buya Hamka.

Irfan menilai bahwa tokoh panutan itu dipilih dan diakui oleh masyarakat karena kontribusi yang diberikan bagi bangsa, bukan sebaliknya melakukan berbagai cara untuk memaksa atau menarik masyarakat memilihnya.

"Tokoh panutan itu diakui sendiri oleh masyarakat, bukan dikarbitkan. Baik itu menjadi menteri, anggota dewan, dan presiden harus menjadi panutan. Jangan hanya siap pelurunya saja, yakni dana," katanya.

Ia mengatakan bahwa pemimpin harus dekat dengan masyarakat untuk bisa dijadikan panutan dan tentunya membuktikan kepeduliannya terhadap nasib bangsa dan kontribusinya secara nyata dalam kehidupan masyarakat.

"Buya Hamka memiliki moto perjuangan yang patut diteladani pemimpin atau calon pemimpin. Pertama, niatkan apa yang dilakukan itu untuk Allah SWT, bukan karena mengharapkan proyek, misalnya," katanya.

Kedua, kata dia, menggunakan modal yang dimilikinya secara apa adanya, atau istilahnya meski hanya "nasi sebungkus", bukan justru mencari-cari modal ke sana ke mari untuk mendukungnya maju dalam pemilihan.

"Ketiga, pantang mundur karena punya keyakinan yang benar. Buya Hamka berjuang secara tegas dan pantang mundur karena merasa apa yang dilakukannya benar. Itulah moto perjuangan yang selalu beliau tanamkan," kata Irfan.

Sementara itu, pengamat sosial-politik Fachry Ali yang juga pembicara menilai figur Buya Hamka sebagai sosok pemimpin yang romantik, sama seperti halnya sosok Soekarno dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Buya Hamka ini pemimpin romantik. Beliau menggemari sastra, Soekarno pun juga sama menggemari sastra. Pak SBY juga suka mencipta lagu. Beda lagi Jusuf Kalla, cenderung sama gayanya dengan karakter Syahrir," katanya.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar