counter

Kemenangan Guangzhou picu debat politik di China

Kemenangan Guangzhou picu debat politik di China

Huang Bowen dari klub Guangzhou Evergrande China merayakan kemenangan dengan mengibarkan bendera nasional Cina usai mengalahkan timnas Seoul pada final Liga Champions AFC di stadion Tianhe, Guangzhou, China, Sabtu (9/11). Guangzhou Evergrande menjadi klub pertama dari China yang menjadi juara Liga Champions AFC ketika bermain seri 1-1 dengan timnas Seoul di leg kedua untuk menang atas peraturan gol tandang setelah agregat 3-3. (REUTERS/Bobby Yip)

Guangzhou (ANTARA News) - Para pengguna internet di China mengkritik pemerintah yang terlibat di sepak bola, setelah Guangzhou Evergrande menjadi tim pertama dalam 23 tahun yang memenangi kejuaraan klub Asia, yang memicu reaksi dari media negara pada Senin.

Evergrande meraih gelar Liga Champions Asia pada Sabtu berkat keunggulan gol-gol tandang setelah bermain imbang 1-1 dengan FC Seoul.

Gol Elkeson pada menit 58 akhirnya bisa disamakan pemain FC Seoul Dejan Damjanovic, namun hasil seri sudah cukup mengantarkan Guangzhou juara setelah pada leg pertama di Seoul seri 2-2.

Pencapaian yang dicap banyak pengguna situs mirip Twitter - Sina Weibo - sebagai kemenangan bagi "reformasi pasar."

Klub Guangdong itu mampu menjadi tim terbaik di Asia berkat sokongan para pemilik kaya raya yang mempekerjakan pelatih yang membawa Italia menjadi juara Piala Dunia, Marcello Lippi, dan sederet pemain asing dengan kontrak-kontrak bernilai besar.

Li Chengpeng, mantan penulis sepak bola yang telah menjadi pemimpin pengkritik pemerintah, merupakan salah satu pengguna Weibo yang menyebut kesuksesan Evergrande tidak lepas dari campur tangan para pejabat.

"Selamat kepada Evergrande yang meraih mahkota. Sepak bola hanya sesederhana ini, sepanjang Anda melakukan hal-hal sesuai dengan aturan, dan mengikuti prinsip-prinsip pasar serta bukan peraturan pemerintah sebagai kriteria, mengambil pemain-pemain tidak menjadi dorongan kepada para pemimpin sebagai mana nilai-nilai inti," kata Li, yang memiliki hampir delapan juta pengikut di Weibo.

Di bawah sistem olahraga negara China, sepak bola sangat dikendalikan oleh Beijing, yang berupaya mengembangkan bintang-bintangnya melalui tugas patriotik, dan bukan melalui sistem remunerasi keuangan.

Tim nasional sering dikritik karena minimnya semangat juang di lapangan, dan klub-klub kerap mendapat banyak pengaruh dari para ofisial lokal, yang sering melakukan korupsi.

Namun dalam editorial di surat kabar The Global Times, yang dekat dengan Partai Komunis yang berkuasa, mereka mengkritik para pengguna internet yang "mempolitisasi" pencapaian Evergrande.

Tertulis bahwa keraguan itu merupakan bentuk "meragukan sistem sepak bola China saat ini berdasarkan hasil satu pertandingan semata."

"Niat-niat sebenarnya" dari pihak-pihak yang mempolitisasi keberhasilan Evergrande "mencurigakan," kata surat kabar itu.

Lippi, bersama dengan para bintang asal Amerika Selatan seperti pemain Argentina Dario Conca, dan dua pemain Brazil Elkeson dan Muriqui, dibayar cukup tinggi jika dibandingkan dengan para pelatih dan pemain papan atas di Eropa.

Evergrande, yang belakangan ini memenangi gelar China ketiga mereka secara beturut-turut, dimiliki oleh Grup Real Estate Evergrande, salah satu perusahaan pengembang perumahan terbesar di negeri itu, demikian AFP. 
(Uu.H-RF/D011)

Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2013

PSSI ingin juara piala Indonesia berlaga di AFC Cup

Komentar