Male, Maladewa (ANTARA News) - Maladewa pada Sabtu, memulai pemungutan suara pemilihan presiden yang digelar di bawah tekanan internasional untuk memilih pemimpin baru dan mengakhiri kemelut politik yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

Tempat pemungutan suara di seluruh negara kepulauan di Samudra Hindia itu dibuka pada pukul 07.30 waktu setempat dan sebanyak 239 ribu pemilih diberi waktu selama delapan setengah jam untuk memilih dua kandidat, kata petugas Komite Pemilihan Umum Aishath Reema kepada AFP.

"Kali ini kami memiliki jumlah pemilih yang sedikit lebih banyak," katanya seraya menambahkan banyak diantaranya yang sudah mengantre sebelum 475 TPS di seluruh negeri dibuka.

Setelah hasil pemilu sebelumnya dianulir dan pelaksanaan pemilu dua kali ditunda, diplomat asing menilai penundaan itu bermotif politik dan Uni Eropa memperingatkan akan mengambil "langkah pantas" jika pemilu pada Sabtu ini tidak berjalan sesuai jadwal.

Pemimpin oposisi Mohamed Nasheed, mantan pegiat pro-demokrasi yang memenangi pemilu demokratis pertama pada 2008, memimpin perolehan suara, 21 bulan setelah ia mundur dibawah tekanan demonstrasi dan pemberontakan para perwira polisi.

Sementara itu menjelang digelarnya pemilu, pengganti Nasheed sebagai presiden, Mohamed Waheed meninggalkan negara tersebut pada Kamis menuju Hong Kong untuk pemeriksaan medis istrinya.

"Ia terus berkomunikasi. Tidak ada alasan untuk khawatir," kata jurubicaranya Masood Imad kepada AFP, Jumat, seraya menambahkan bahwa parlemen bertanggung jawab untuk melantik pemimpin baru pada Minggu.

Waheed, yang masa jabatannya telah berakhir pada akhir pekan lalu, tetap menduduki posisinya meski partai yang dipimpin Nasheed menuntutnya untuk turun dan negara-negara Barat serta India terus menekannya.

Dalam pidatonya pada Kamis, ia mengumumkan niat untuk turun setelah pemilu pada Sabtu.

Nasheed dalam pemilu tersebut berhadapan dengan Abdulla Yameen, saudara tiri mantan diktator Maumoon Abdul Gayoom yang memimpin negara kepulauan yang terkenal dengan rangkaian terumbu karang itu selama 30 tahun.

Bekas tahanan politik tersebut memenangi pemungutan suara pertama pada 7 September dengan perolehan suara 45 persen, namun hasil tersebut dianulir oleh Mahkamah Agung yang meluluskan aduan mengenai penyelewengan daftar pemilih.

Setelah upaya menggelar pemilu kembali gagal, pemilu ulang putaran pertama dilaksanakan pada 9 November dimana Nasheed unggul dengan suara lebih banyak hampir 47 persen, namun belum cukup untuk meraih kursi presiden.

Pemilu lanjutan yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum yang independen sehari kemudian, kembali ditunda oleh Mahkamah Agung yang didominasi oleh hakim-hakim dari masa kepemimpinan Gayoom selama tiga dekade.

Kepala kebijakan luar negeri UE, Catherine Ashton mengeluarkan peringatan pada Kamis.

"UE menggarisbawahi bahwa ketidakpastian yang berlanjut maupun langkah kearah pemerintahan diktator tidak akan diterima oleh UE dan oleh karenanya siap untuk mempertimbangkan langkah pantas jika pemilu pada Sabtu tidak berakhir dengan baik," katanya dalam sebuah pernyataan.

Pada Rabu, blok persemakmuran yang beranggotakan 53 negara mengeluarkan Maladewa dari panel disiplin blok yang mulai menyelidiki kekisruhan politik di negara itu dan bisa mengarah pada dikeluarkannya negara tersebut dari blok.

(S022)


Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2013