Kementan dorong penggunaan benih jagung hibrida

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pertanian mengakui penggunaan benih jagung hibrida ke depan perlu ditingkatkan sebagai upaya peningkatan produktivitas komoditas pangan.

Menteri Pertanian Suswono di Jakarta Jumat menyatakan, upaya peningkatan produksi jagung saat ini terkendala keterbatasan areal pertanian yang semakin menurun akibat alih fungsi lahan.

"Dengan benih hibrida akan terjadi peningkatan produkvitas tanaman. Potensi kenaikan mencapai 4-5 ton per hektar," katanya.

Menurut Mentan, saat ini produksi jagung secara nasional mencapai 19-20 juta ton yang mana untuk tahun depan diharapkan mampu melebihi angka tersebut.

Suswono menyatakna, jika selama ini petani hanya mampu memanen 3 ton jagung, dengan benih jagung hibrida dapat dihasilkan 6-7 ton jagung.

"Apabila sektor jagung menjadi perhatian serius maka Indonesia tidak perlu lagi mengimpor pakan dari jagung," katanya.

Sehari sebelumnya (5/12) Mentan Suswono turut mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan panen jagung dan penanaman jagung di Desa Montok, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Pada kesempatan itu Suswono mengimbau petani jagung di tanah air tidak perlu khawatir merugi dalam mengembangkan produksi jagung karena prospek pasarnya lebih terbuka.

Selain itu, dari aspek kepastian usaha lebih terjamin dengan disahkannya Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

Menteri menyatakan, pihaknya juga mendorong agar jagung menjadi bagian konsumsi utama di masyarakat jika stok beras berkurang.

"Oleh sebab itu, sejak dini anak-anak perlu diperkenalkan untuk mengkonsumsi jagung dan tidak tergantung dengan beras," katanya.

Terkait peran pemerintah daerah, menurut mentan, mereka harus melindungi petani terutama saat harga komoditas pangan jatuh.

Menurut dia, pemda dapat mengalokasikan anggaran untuk melakukan pembelian hasil panen petani saat harga jatuh, sesuai dengan harga pembelian pemerintah (HPP).

"Uang yang dikeluarkan pemda ini tidak akan hilang hanya untuk mendongkrak harga di tingkat petani," katanya.

Sementara untuk menghadapi pasar bebas ASEAN 2015, Suswono menyatakan, pemerintah akan terus memberikan pelatihan kepada petani agar secara kuantitas dan kualitas dapat bersaing dengan produk dari negara lain dan produk petani diterima pasar.

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar