Naypyitaw, Ibu Kota Myanmar yang senyap

Naypyitaw, Ibu Kota Myanmar yang senyap

Pebalap sepeda Indonesia Ryan Areihaan melaju melintasi pagoda Uppatartandhi saat bertanding pada nomor Individual Time Trial 40 km Sea Games ke-27 di Naypyitaw, Myanmar, Minggu (15/12). (ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo)

Naypyitaw (ANTARA News) - Setelah menempuh perjalanan darat selama enam jam ke arah utara dari Yangon, perlahan terlihat tanda-tanda Kota Naypyitaw, ibu kota Myanmar yang baru dibangun.

Spanduk-spanduk SEA Games ke-27 Myanmar terpasang di kiri kanan jalan raya yang lebar dan mulus setelah menempuh perjalanan 400 kilometer menyusuri jalan raya dengan dua lajur.

Jalan yang lebar dan tidak berlubang sedikit pun itu membuat perjalanan sekitar enam jam menggunakan bus umum terasa nyaman.

Tanda-tanda perumahan penduduk belum tampak.

Tapi ada beberapa petani yang sedang yang sedang membersihkan bekas-bekas panen padi dan hamparan sawah luas membentang di sepanjang jalan raya yang menghubungkan Yangon dan Naypyitaw.

"Kita sedang memasuki Kota Naypyitaw," kata sopir bus menjawab pertanyaan penumpang yang hendak menuju ibu kota negara penghasil beras itu.

Naypyitaw dibangun di hamparan tanah yang sebelumnya kosong sehingga bukan hal sulit bagi pemerintah Myanmar untuk membuat bangunan luas dengan jarak rata-rata 100 meter lebih dari jalan raya.

Kota yang ditetapkan menjadi ibu kota Myanmar tahun 2006 itu terlihat sunyi senyap.

Sangat jarang kendaraan yang melintasi jalanan Naypyitaw yang mirip jalan-jalan utama Beijing, ibu kota China, yaitu lurus dan lebar dengan trotoar tertata rapi yang nyaman bagi pejalan kaki meski kenyataannya sangat jarang warga yang berjalan kaki melewatinya.

Pada malam hari, hampir tidak ada kehidupan yang terlihat meski waktu masih menunjukkan pukul 20.00. Hanya terlihat beberapa kendaraan yang lalu lalang atau beberapa anggota polisi yang berjaga-jaga di pos di setiap sudut jalan.


Pemindahan

Ketika pemerintahan militer Myanmar mulai berbenah-benah untuk memindahkan pusat kekuasaan ke daerah pedalaman di sebuah kota di Distrik Mandalay, sekitar 2005, banyak masyarakat yang bingung.

"Saya tidak mengerti mengapa mereka memutuskan untuk meninggalkan Yangon. Saya tidak tahu mengapa mereka ingin datang kesini," kata seorang warga Naypyidaw seperti yang dikutip BBC News.

Sebagian masyarakat ketika itu berharap rencana pemindahan Ibu Kota tidak benar-benar terjadi karena ongkos yang harus ditanggung akan besar.

Ketika kota tersebut dibuka pada 2006, tidak gampang bagi orang asing untuk memasuki kota baru yang diberi nama Naypyitaw, yang berarti Istana Raja.

Hampir semua orang asing, terutama wartawan, dilarang keras berkeliaran di kota itu.

Dua wartawan Myanmar yang berkantor pusat di Yangon bahkan dipenjara selama tiga tahun karena mencoba merekam arena sekitar kota.

"Saya melihat bangunan baru yang terus dibangun, tapi saya tidak tahu untuk apa bangunan itu," kata seorang wanita yang tinggal di pinggir kota Naypyitaw.

Pada masa pembangunan, mereka yang tinggal di sepanjang jalan utama ke Naypyitaw sudah terbiasa melihat truk-truk lalu lalang mengangkut bangunan atau para pimpinan militer.

"Jika Anda berkendara di jalanan saat mereka lewat, Anda harus berhenti untuk memberikan jalan kepada mereka," kata seorang warga.

Sementara Yangon, yang kini tidak lagi menjadi ibu kota negara, terkena dampak langsung berupa pengurangan pasokan listrik.

"Mereka mengeluarkan jutaan dolar untuk membangun ibu kota baru, akibatnya layanan di Yangon, seperti pasokan listrik menjadi semakin buruk, tapi Naypyidaw terang benderang," demikian komentar beberapa diplomat asing.

"Sekarang ada lelucon di antara masyarakat lokal bahwa yang yang terjadi sekarang adalah "transfer tenaga listrik."


Berbagai Spekulasi

Ada banyak spekulasi mengenai latas belakang keputusan pemerintah militer Myanmar memindahkan ibu kota negara daerah yang berada sekitar 400 kilometer di utara Yangon.

Sebagian yakin bahwa militer ingin memindahkan ibu kota ke pedalaman karena takut akan serangan asing, terutama serangan dari Amerika Serikat.

Ada pula orang Myanmar yang masih percaya dengan takhyul yang menganggap pemindahan tersebut bisa membawa keberuntungan.

Percaya kepada tukang ramal adalah hal yang lumrah di Myanmar sehingga bahkan Jendral Ne Win yang mulai berkuasa pada 1962 pun diberitakan sangat tergantung pada nasehat ahli nujum.

"Ia pernah diberitakan memutuskan untuk mengubah arah penerbangan pada malam hari (karena nasehat tukang ramal). Akibatnya, terjadi kecelakaan yang menimbulkan banyak korban jiwa," kata Joseph Silverstein, pengamat Myanmar asal Univesitas Rutgers, Inggris.

Menurut pejabat militer Myanmar, pemindahan ibu kota dilakukan karena Naypytaw berada di tengah-tengah dan mempunyai akses lebih cepat ke seluruh penjuru negara.

Aung Kin, seorang ahli sejarah asal Myanmar yang tinggal di London mengatakan, ketakutan tersebut bisa jadi dilakukan karena kekuatan angkatan darat Myanmar jauh lebih tangguh dibanding angkatan laut.

"Jadi lebih mudah untuk mempertahankan garis pertahanan darat seperti Naypyitaw dibanding daerah pantai di Kota Yangon," kata Aung Kin.

Sementara para diplomat asing berpendapat bahwa alasan yang masuk akal adalah karena lokasi Naypyitaw yang berada di tengah-tengah akan memudahkan pemerintah untuk memonitor daerah perbatasan di distrik yang dihuni etnik Shan, Chin dan Karen.

Apa pun alasannya, pasti para atlet, ofisial dan pendatang yang berada di kota itu untuk mengikuti atau menyaksikan SEA Games 2013 menghadapi banyak kendala transportasi karena sulitnya kendaraan umum.

Shuttle bus yang disediakan panitia selama SEA Games ternyata juga diperuntukkan bagi masyarakat umum sehingga sering penuh sesak. Penumpang pun sering berebut naik.

Namun kesulitan itu membawa hikmah bagi sebagian orang, termasuk Rosman Razak, pelatih tim bulutangkis asal Malaysia.

"Para pemain menjadi lebih kompak dan terus bersama seperti lem karena tidak bisa kemana-mana akibat kesulitan alat transportasi. Kondisi akan menciptakan kekompakan diantara sesama pemain," kata Rosman seperti yang dikutip laman The Star beberapa waktu lalu.

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar