Banda Aceh (ANTARA) - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh, menyatakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI menetapkan Bahasa Devayan yang digunakan masyarakat di kabupaten kepulauan tersebut sebagai warisan budaya tak benda (WTB).

"Bahasa Devayan merupakan bahasa asli masyarakat Pulau Simeulue. Kini, Bahasa Devayan resmi tercatat menjadi warisan budaya tak benda," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Simeulue Asmanuddin di Simeulue, Kamis.

Baca juga: "Smong nafi-nafi" masyarakat Simeulue jadi warisan budaya tak benda

Menurut Asmanuddin, Bahasa Devayan merupakan satu dari empat bahasa asli masyarakat Pulau Simeulue. Selain Bahasa Devayan, juga ada Bahasa Sigulai, Bahasa Simolol, dan Bahasa Lekon, yang digunakan sehari-hari masyarakat di kabupaten kepulauan di Samudra Hindia tersebut.

"Setelah Bahasa Devayan, kami juga akan mengusulkan tiga bahasa asli masyarakat Pulau Simeulue lainnya tercatat menjadi warisan budaya tak benda. Semuanya dilakukan untuk melestarikan bahasa asli masyarakat Pulau Simeulue," kata Asmanuddin.

Selain Bahasa Devayan, kata Asmanuddin, semong nafi-nafi, nandong, sebagai seni tradisional dan memek (makanan mirip bubur dan terbuat dari beras ketan dan pisang, makanan tradisional khas Simeulue juga telah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda.

"Saat ini sudah empat warisan budaya tak benda masyarakat Pulau Simeulue yang memiliki sertifikat pengakuan dari Kemendikbudristek RI," kata Asmanuddin.

Selain penetapan Bahasa Devayan menjadi warisan tak benda, Kemendikbudristek RI juga memberikan penghargaan kepada Mohd Riswan R sebagai maestro Bahasa Devayan.

"Saat ini maestro Bahasa Devayan sudah ada di Simeulue, yakni Mohd Riswan R. Yang bersangkutan menerima penghargaan, karena upayanya melestarikan bahasa tersebut agar tidak punah," kata Asmanuddin.

Baca juga: Sebanyak 17 karya budaya Aceh jadi warisan budaya tak benda Indonesia

Baca juga: 40 kebudayaan Aceh ditetapkan jadi warisan budaya tak benda Indonesia


Sementara itu, Mohd Riswan R mendorong pemerintah daerah ikut melestarikan Bahasa Devayan dengan menyisipkannya melalui pendidikan formal di sekolah.

"Kami juga mengajak masyarakat membiasakan penggunaan Bahasa Devayan dalam percakapan sehari-hari, termasuk kepada anak-anak, sehingga tidak hilang tergerus zaman," kata Mohd Riswan R.

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2024