Wereng ganggu ketersediaan pangan 2014

Wereng ganggu ketersediaan pangan 2014

ilustrasi Seorang petani menyebar pupuk urea di lahan persawahan tadah hujan Antang, Makassar, Rabu (20/11). Kementerian Pertanian (Kementan) optimistis neraca perdagangan (ekspor-impor) sektor pertanian pada tahun ini akan surplus US$ 19,21 miliar atau naik 15% dibanding realisasi 2012 yang mencapai US$ 16,69 miliar. (ANTARA FOTO/Ekho Ardiyanto) ()

Sepanjang 2013 ini sudah muncul titik-titik serangan wereng di sentra produksi padi Pulau Jawa. Wereng suka dengan hujan, ramalan BMKG hampir di seluruh sentra produksi padi akan mengalami curah hujan di atas normal,"
Jakarta (ANTARA News) - Ahli proteksi tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB), Hermanu Triwidodo memperkirakan adanya ledakan hama wereng di sentra-sentra produksi padi Pulau Jawa sehingga mengganggu ketersediaan pangan khususnya beras untuk 9,5 juta orang pada 2014.

"Sepanjang 2013 ini sudah muncul titik-titik serangan wereng di sentra produksi padi Pulau Jawa. Wereng suka dengan hujan, ramalan BMKG hampir di seluruh sentra produksi padi akan mengalami curah hujan di atas normal," kata Hermanu Triwidodo di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, penggunaan pestisida secara berlebihan oleh petani justru menjadi pemicu munculnya wereng. Perkembangan hama ini akan semakin pesat di musim hujan mengingat wereng senang dengan lingkungan basah.

Ia mengatakan berdasarkan penelitian terbaru yang dilakukan di Semarang pada 4--14 Desember 2013 menunjukkan penggunaan aplikasi pestisida yang semakin banyak untuk mengatasi wereng membuat lahan puso atau gagal panen semakin luas.

"Praktik di lapangan memang ada reaksi cepat dari pihak Dinas Pertanian setempat, tapi diatasi dengan cara biasa menyemprot padi dengan pestisida secara bersama-sama. Harusnya dibuat kampanye jangan pakai pestisida kalau ada serangan wereng, ini malah jadi tambah banyak," ujar dia.

Karena itu, lanjutnya, perlu respon masif dan "komando" tegas seperti yang dilakukan pada 1986 untuk memerangi wereng untuk mencegah terjadinya gagal panen secara besar-besaran melalui Inpres Nomor 3 Tahun 1986 tentang Penerapan Pengendalian Hama Penyakit secara Terpadu (PHT) dan Pelarangan 57 Jenis Insektisida.

Manager advokasi Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan jika ledakan wereng tidak dapat dicegah, diperhitungkan gagal panen akan mencapai enam juta ton gabah kering giling petani (GKP) pada akhir 2014.

Angka tersebut setara dengan 3,3 juta ton beras senilai Rp19 triliun, yang dapat dikonsumsi 9,5 juta orang. Sebanyak 1,5 juta petani diperkirakan akan kehilangan penghasilan karena gagal panen.

Ahli dari Direktorat Kajian Strategis Kebijakan Pertanian IPB Suryo Wiyono mengatakan pentingnya penyelarasan dan perbaikan kebijakan di sektor pertanian pangan. Keselarasan kebijakan diperlukan dari pemerintah pusat hingga daerah, jika tidak persoalan pertanian sulit diatasi.

Lebih lanjut, ia mengatakan pembangunan pertanian dengan pendekatan pertanian berkelanjutan dan PHT perlu dilakukan. Hal ini untuk menghindari gangguan hanya penyakit seperti dalam kasus hama wereng yang muncul kembali pada tahun 2013 ini.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar