Rajungan Pantura tunjukkan gejala "overfisihing"

Rajungan Pantura tunjukkan gejala "overfisihing"

Seorang petugas menunjukan benih rajungan saat acara Fishery Improvement Project (FIP) "Restocking 100,000 Rajungan" di Pulau Panjang, Jepara, Janteng, Selasa (18/12). Penebaran 100 ribu benih rajungan yang digagas Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI), Balai Besar Pengembangan Budi Daya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Universitas Diponegoro Semarang dan Mitra Nelayan Rajungan tersebut guna menjaga lingkungan dan populasi rajungan. (FOTO ANTARA/ Andreas Fitri Atmoko)

diperlukan usaha bersama para pihak guna mengembalikan stok populasi rajungan sehingga tetap lestari.
Demak (ANTARA News) - Kondisi sumber daya rajungan (Portanus pelagicus) di wilayah pantai utara (Pantura) Jawa Tengah menunjukkan gejala "overfishing" atau penurunan populasi.

"Kajian yang dilakukan bersama Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Sumber Daya Ikan (P4KSI) Kementerian Kelautan dan Perikanan), IPB, Undip, dan Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan (Komnas Kajiskan)," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) Arie Prabawa kepada ANTARA News di Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Sabtu.

Oleh karena itu, kata dia, diperlukan usaha bersama para pihak guna mengembalikan stok populasi rajungan sehingga tetap lestari.

Terkait dengan itu, kata dia, para peneliti menetapkan Desa Betahwalang, Kabupaten Demak, sebagai kawasan konservasi rajungan, untuk memperbaiki sumber daya perikanan daerah tersebut yang cenderung makin kritis.

Para pihak yang berkolaborasi dalam upaya penetapan kawasan konservasi itu adalah nelayan rajungan setempat, APRI, dan Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (Undip).

Peluncuran kawasan konservasi rajungan itu ditandai dengan pemasangan tonggak bambu di tengah laut sejauh 2 mil dari pantai, yang juga dihadiri langsung Kepala Desa Betahwalang Ahmad Jamil beserta unsur muspika.

Bersamaan dengan peluncuran kawasan konservasi rajungan itu, juga dideklarasikan Lembaga Pengelolaan Perikanan Rajungan Lestari (LP2RL), yang unsurnya adalah nelayan, aparat desa, dan juga akademisi dari Undip.

Ketua LP2RL Slamet Suharto, M.Sc., yang juga staf pengajar FPIK Undip berharap bahwa upaya-upaya bersama semua pihak terkait guna menjaga kelestarian rajungan di Betahwalang, sebagai sentra utama penghasil rajungan maupun Kabupaten Demak pada umumnya bisa terwujud.

"Penetapan kawasan konservasi adalah salah satu ikhtiar, sedangkan yang lainnya juga terus dilakukan, seperti penetasan telur rajungan dan program terkait lainnya," katanya.

Rajungan sebagai salah satu komoditas perikanan yang penting bagi sebagian masyarakat dan nelayan Indonesia. Hingga tahun 2011 telah menghasilkan devisa sebesar 268 juta dolar AS (Rp2,47 triliun) atau berada di urutan ketiga setelah tuna dan udang.

Tidak kurang dari 65.000 nelayan kecil terlibat dalam penangkapan rajungan di Indonesia, dan lebih dari 13.000 tenaga pengupas rajungan yang mayoritas perempuan dan keluarga nelayan bekerja di industri pengolahan komoditas ini.

(A035)

Pewarta:
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar