jangan ganggu petani dengan ulah distributor dan pengecer pupuk yang menyulitkan produksi komoditas pangan
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengingatkan kepada seluruh distributor dan pengecer pupuk subsidi agar tidak mempersulit distribusi apalagi memainkan harga, utamanya yang ada di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

“Kami mengingatkan para pengecer dan distributor pupuk bersubsidi agar tidak memainkan harga pupuk yang dapat merugikan petani,” kata Mentan pada acara akselerasi peningkatan produksi pangan di Sulawesi Selatan, dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Ia menegaskan bahwa Sulawesi Selatan (Sulsel) harus menjadi penggerak utama dalam menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Sehingga Mentan meminta agar distributor dan pengecer pupuk bersubsidi tak mempersulit distribusi demi mewujudkan harapan itu.

"Saya katakan, produksi turun karena dua hal. Pertama, sarana produksi seperti pupuk tidak dipenuhi, kemudian harga tidak menentu. Karena itu, jangan ganggu petani dengan ulah distributor dan pengecer pupuk yang menyulitkan produksi komoditas pangan,” tegas Amran.

Mentan menyampaikan bahwa pemerintah melalui Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menambah pupuk subsidi untuk petani di seluruh Indonesia. Kebijakan itu untuk membantu meningkatkan produktivitas pertanian di tanah air sehingga bisa mewujudkan swasembada pangan.

“Pupuk adalah komponen penting yang saat ini sudah terpenuhi dengan baik,” ucap Amran.

Lebih lanjut Amran mengatakan bahwa pemerintah juga menggencarkan program optimasi lahan dan pompanisasi untuk mengantisipasi kekeringan panjang. Semua program tersebut harus dijaga bersama untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

"Kami melakukan maraton selama lima bulan untuk menyelesaikan masalah pupuk ini. Baru lima bulan jadi Menteri, Alhamdulillah semua dapat kami selesaikan. Karena itu, mari kita jaga agar kita mampu mewujudkan Indonesia lumbung pangan dunia," katanya.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian telah menyerahkan bantuan reguler dan bencana untuk wilayah Sulawesi Selatan mencapai Rp410 miliar. Bantuan tersebut meliputi pupuk subsidi, alat mesin pertanian (alsintan), handsprayer, pompa air, traktor, benih, dan bibit.

Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Selatan Zudan Arif Fakrulloh, mengajak para petani di wilayahnya untuk memanfaatkan bantuan Kementan secara optimal, terutama dalam meningkatkan produksi padi dan jagung sebagai komoditas strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

"Kalau kebutuhan pangan terpenuhi, Insya Allah kita bisa beranjak ke arah yang lebih baik. Alhamdulillah, setelah kami mendapat bantuan selama ini, produksi di Sulsel terus mengalami peningkatan. Mari kita optimalkan apa yang diberikan untuk kepentingan masyarakat Sulawesi Selatan," kata Zudan.

Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad), Letnan Jenderal TNI Tandyo Budi Revita mengapresiasi langkah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam menjadikan lahan rawa sebagai lahan produktif. Salah satunya melalui penguatan benih dan program pompanisasi sebagai solusi cepat dalam mengatasi kekeringan panjang.

"Sangat penting bahwa orientasi kerja beliau (Mentan) adalah turun langsung ke lapangan. Bagaimana petani bisa langsung berinteraksi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara paling kuat dalam urusan pangan. Termasuk berbagai program yang terus digencarkan. Baru tahun ini mungkin lahan rawa dijadikan lahan sawah yang produktif," katanya.

Tandyo menambahkan bahwa gebrakan dan inovasi yang dijalankan Mentan Amran sangat luar biasa. Secara perlahan namun pasti, Indonesia mulai menuju swasembada dan lumbung pangan dunia.

"Terima kasih Pak Mentan, dan juga tak lupa terima kasih kepada Pak Pangdam yang telah mengoptimalkan semua ini. Mudah-mudahan TNI bisa memberikan kontribusi bagi Indonesia lumbung pangan dunia," jelasnya.

Baca juga: Mentan ajak semua pihak awasi distribusi pupuk subsidi
Baca juga: Kementan pastikan pupuk subsidi tepat sasaran dengan Permentan 1/2024
Baca juga: Mentan imbau petani tebus pupuk subsidi yang berlimpah


Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2024