Wina (ANTARA) - Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, memutuskan untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak saat ini setidaknya hingga kuartal ketiga (Q3) 2024 guna mendongkrak harga minyak.

Usai pertemuan virtual para menteri perminyakan dan energi OPEC+, OPEC dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa OPEC+ akan memperpanjang kuota produksi tahun ini untuk para anggotanya hingga 2025. Kuota tersebut termasuk pemangkasan 2 juta barel per hari (barrels per day/bpd) dari target produksi resmi yang awalnya disepakati pada akhir 2022.

Sementara kuota produksi 2025 untuk negara-negara OPEC+ sebagian besar masih tetap sama dengan 2024, OPEC+ pada Minggu (2/6) sepakat untuk menaikkan batas produksi minyak Uni Emirat Arab sebanyak 300.000 barel per hari menjadi 3,519 juta barel per hari, menurut pernyataan itu.

Dalam sebuah pernyataan terpisah yang dirilis di situs web OPEC, delapan negara OPEC+, yaitu Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, menyebutkan bahwa mereka akan memperpanjang pemangkasan produksi sukarela sebesar 1,65 juta barel per hari hingga akhir 2025. Pemangkasan secara sukarela tersebut pertama kali diumumkan pada April 2023.

Delapan negara itu juga akan memperpanjang pemangkasan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari, yang awalnya diumumkan pada November 2023, hingga akhir September 2024. Bagian dari pemangkasan produksi sukarela ini akan "dihapuskan secara bertahap setiap bulan hingga akhir September 2025 guna mendukung stabilitas pasar." Namun, "peningkatan bulanan tersebut dapat dihentikan sementara atau dibatalkan, bergantung pada kondisi pasar," menurut pernyataan tersebut.

Pengumuman pemangkasan produksi sukarela ini dibuat setelah para menteri perminyakan dari delapan negara tersebut bertemu secara langsung di Riyadh di sela-sela pertemuan tingkat menteri OPEC+ yang lebih luas.

Pemangkasan produksi sukarela itu dikurangi dari kuota produksi masing-masing negara yang ditetapkan oleh OPEC+.

Harga minyak Brent, acuan minyak mentah internasional, telah berada sedikit di atas 80 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.253) per barel selama beberapa pekan terakhir di tengah ketidakpastian ekonomi global, tingginya tingkat suku bunga, dan meningkatnya suplai dari para produsen di luar OPEC+."

Dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu itu, OPEC mengatakan bahwa OPEC+ telah membuat berbagai keputusan terbaru untuk "mencapai dan menjaga stabilitas pasar minyak, serta untuk memberikan panduan jangka panjang dan transparansi bagi pasar, dan mengimplementasikannya dengan mengikuti pendekatan yang berhati-hati, proaktif, dan bersifat antisipatif."

 Meski harga minyak mereda, OPEC berupaya mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global yang kuat sebesar 2,2 juta barel per hari untuk 2024 dan 1,8 juta barel per hari untuk 2025 dalam laporan pasar terbarunya. 

OPEC+ akan menggelar pertemuan tingkat menteri berikutnya pada Desember mendatang.

Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2024