... poros politik Uni Eropa tidak dapat dibantah lagi telah berbelok ke sayap kanan selama dua dekade terakhir.
Jakarta (ANTARA) - Eropa sedang menjalani periode krisis eksistensial dan tidak pernah memiliki banyak sekali musuh internal dan eksternal seperti saat ini.

Ucapan itu bukanlah terlontar dari penganut anti-Barat di negara luar Eropa, melainkan itu adalah pernyataan dari Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Macron, yang dikenal sebagai politikus yang sangat ingin memperkuat fungsi, peran, dan posisi Uni Eropa, menyatakan hal tersebut saat diundang pada acara peringatan 75 tahun konstitusi Jerman di Berlin pada 26 Mei lalu.

Sebagaimana dikutip oleh Kantor Berita Sputnik, Macron menyatakan bahwa banyaknya musuh internal dan eksternal serta krisis eksistensi Eropa itu telah dikemukakannya di berbagai kesempatan.

Menurut dia, hal tersebut sebagian besar, antara lain, karena adanya konflik di Ukraina--yang banyak terkait dengan keterlibatan negara-negara di Uni Eropa--serta tantangan kondisi perekonomian.

Dengan berbagai faktor yang tidak kondusif itu, Eropa juga beberapa hari lagi, atau tepatnya pada 6 -- 9 Juni (tergantung dari ketentuan setiap negara), akan menjalani pemilihan umum 2024 untuk Parlemen Eropa.

Pemilu untuk anggota Parlemen Eropa periode 2024 -- 2029 ini menarik untuk diperhatikan karena adanya merupakan pemilihan pertama yang digelar Uni Eropa setelah terjadinya Brexit atau keluarnya Inggris Raya dari organisasi regional tersebut.

Pemilu kali ini juga banyak disorot karena beberapa waktu terakhir ini ada kebangkitan partai populis sayap kanan yang memegang atau memiliki posisi signifikan di dalam pemerintahan, seperti partai Fidesz di Hungaria, Fratelli d'Italia di Italia, Demokrat Swedia di Swedia, dan Partai Finns di Finlandia.

Selama ini khususnya periode 2019 -- 2024, partai populis-nasionalis sayap kanan di Parlemen Eropa diketahui bergabung dalam fraksi Identitas dan Demokrasi (ID) serta fraksi Konservatif dan Reformis Eropa (ECR).

Kesamaan dari partai-partai sayap kanan itu, antara lain, adalah keinginan dari mereka untuk memperketat aturan terkait dengan imigrasi, memperkuat kedaulatan masing-masing negara-negara Eropa sekaligus tidak setuju dengan memperkuat federalisme Eropa, serta menentang pembentukan negara super "Eropa", sembari menginginkan birokrasi Uni Eropa tidak berlebihan dan lebih transparan.

Pada saat ini, jumlah persentase kursi partai-partai sayap kanan di Parlemen Eropa untuk fraksi ID adalah 76 kursi (10,8 persen dari keseluruhan kursi Parlemen Eropa), dan fraksi ECR 62 kursi (8,2 persen).

Jumlah itu memang masih jauh di bawah dua fraksi terbesar di Parlemen Eropa, yaitu fraksi Partai Rakyat Eropa (EPP) yang berhaluan kanan tengah dengan 187 kursi, serta fraksi Aliansi Progresif Sosialis dan Demokrat (S&D) yang berhaluan kiri tengah dengan 148 kursi.

Namun, pemilihan Parlemen Eropa yang akan berlangsung selama beberapa hari ke depan kemungkinan, hasilnya bisa merombak jumlah-jumlah tersebut.


Meraup banyak suara

Media CNN pada 31 Mei 2024 memberitakan tentang bagaimana partai-partai ekstrem kanan berpotensi bakal meraup banyak suara dalam Parlemen Eropa mendatang.

Dalam laporan itu, dikemukakan bahwa poros politik Uni Eropa tidak dapat dibantah lagi telah berbelok ke sayap kanan selama dua dekade terakhir.

Pembelokan ke haluan politik kanan itu, antara lain, ditunjukkan dengan kemenangan Partai untuk Kebebasan (PVV) pimpinan Geert Wilders yang memiliki sejumlah kasus terkait dengan Islamofobia dan sejarah anti-imigran dalam aktivitas politiknya dalam pemilu parlemen Belanda tahun 2023.

Selain itu, pada 2027 juga dijadwalkan digelar pemilihan presiden di Prancis yang kemungkinan besar dapat dimenangkan Marine Le Pen dari partai Barisan Nasional (RN). Le Pen juga sama Wilders, kerap dinilai Islamofobia dan sangat ingin memperketat aturan imigrasi.

Dengan adanya haluan ke ekstrem kanan, maka hal tersebut juga akan dapat berdampak signifikan kepada politik Eropa dalam 5 tahun mendatang, apalagi mengingat bahwa Uni Eropa juga merupakan salah satu kekuatan utama dalam geopolitik global saat ini.

Sementara itu, media BBC juga memberitakan, antara lain, mengenai bagaimana pemimpin ekstrem kanan yang berusia muda semakin menarik banyak pemilih di Eropa, serta bagaimana warga di Austria juga semakin banyak yang terbuai janji-janji partai sayap kanan.

Singkat kata, kebangkitan politik berhaluan ekstrem kanan yang populis dan nasionalis saat ini akan semakin tidak bisa dielakkan lagi dan kian mewarnai perpolitikan Eropa. Kebangkitan ini akan semakin kuat dengan penyelenggaraan pemilu Parlemen Eropa tahun ini.

Lembaga wadah pemikir Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR) juga telah membuat prediksi bahwa pemilihan Parlemen Eropa 2024 akan mengakibatkan "belokan tajam ke kanan" di banyak negara, dengan partai kanan radikal populis akan semakin memperoleh banyak suara dan kursi.

ECFR memprediksi bahwa partai-partai populis tersebut akan memuncaki suara di sembilan negara anggota yaitu Austria, Belanda, Belgia, Ceko, Hongaria, Italia, Polandia, Prancis, dan Slovakia. Adapun partai-partai sejenis akan berada di posisi kedua atau ketiga di sembilan negara lainnya, yaitu Bulgaria, Estonia, Finlandia, Jerman, Latvia, Portugal, Romania, Spanyol, dan Swedia.


Trauma Eropa

Dalam kajian kebijakan sebelumnya bertajuk "A crisis of one’s own: The politics of trauma in Europe’s election year", ECFR mengingatkan bahwa politik Eropa sebenarnya tidak dapat dijelaskan secara simplistik antara bentrokan politik kiri dan kanan, tetapi sebenarnya lebih disebabkan oleh adanya berbagai krisis utama yang mengakibatkan munculnya trauma dalam perpolitikan Eropa.

Kajian tersebut memaparkan bahwa selama 15 tahun terakhir, Eropa telah mengalami lima peristiwa krisis besar yaitu perubahan iklim, krisis finansial global, migrasi, pandemi COVID-19, serta perang di Ukraina.

Kelima krisis itu dinilai telah menimbulkan hantaman besar di Eropa sehingga berdampak terjadinya adanya krisis identitas politik di berbagai negara di sepanjang Eropa.

ECFR mengungkapkan bahwa dalam pemilihan Parlemen Eropa 2024 ini, kemungkinan dua hal yang menjadi isu kunci bagi pemilih adalah terkait dengan krisis iklim dan migrasi.

Migrasi, seperti diketahui, adalah satu hal yang banyak menjadi penekanan dalam sejumlah kebijakan yang didorong partai-partai ekstrem kanan.

Tidak heran pula bila beberapa tokoh, seperti Shada Islam, seorang pemerhati masalah Uni Eropa menyatakan dalam kolom di media Guardian pada 28 Mei 2024 bahwa dirinya sebenarnya cemas dengan besarnya kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki, baik di dalam maupun di luar pemerintahan, oleh para politikus yang sangat rasis, xenofobia atau anti-orang asing, dan Islamofobia.

Perempuan berkewarganegaraan Belgia yang lahir di Pakistan ini menyatakan bahwa saat-saat sekarang ini etnis minoritas di Eropa sedang mengalami kecemasan yang mendalam dan personal.

Menurut lulusan Universite libre de Bruxelles ini, banyak dari mereka yang merasa terkhianati atau terabaikan sebagian besar oleh media dan "pakar" yang tidak betul-betul melihat bahaya yang mengancam di Eropa dengan kebangkitan politik ekstrem kanan ini.

Kecemasan yang dirasakan Shada Islam sepertinya juga dirasakan oleh banyak pihak lainnya sehingga patut untuk disimak, apakah prediksi kebangkitan partai ekstrem kanan akan benar-benar terjadi di Parlemen Eropa pada pemilihan tahun ini, karena hal ini jelas akan mewarnai perpolitikan Uni Eropa di masa depan.

Editor: Achmad Zaenal M
 

Copyright © ANTARA 2024