Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nurul Ichwan mengatakan bahwa patokan harga ditunggu-tunggu oleh investor untuk berinvestasi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.

“Jadi, memang kuncinya dari kesepakatan, dari policy agreement. Nah ini kemudian yang patokan harga ini yang masih akan ditunggu-tunggu oleh pihak investor,” kata Nurul menghadiri kegiatan Road to PLN Investment Days 2024 di Jakarta, Selasa.

Menurut Nurul peluang untuk melakukan investasi energi baru terbarukan di Indonesia sangat besar, namun terdapat sejumlah tantangan di antaranya harga patokan sehingga para investor bisa menyesuaikan terkait hal itu.

“Nanti kalau RUPTL Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN sudah keluar kemudian juga dari PPA (Power Purchase Agreement) nya sudah bisa ada indikatifnya, maka saya yakin begitu ini dihitung-hitung masuk ke dalam hitungan investasi mereka (investor), mereka akan masuk,” tutur Nurul.

Bahkan dia mengatakan banyak negara yang ingin menjadi investor energi terbarukan di Indonesia. Namun, dia tidak merinci negara-negara mana saja yang ingin melakukan investasi di Tanah Air.

“Karena sejauh ini banyak di negara negara maju investornya itu memang sudah tertarik sejak lama untuk bisa berkontribusi di energi baru terbarukan di Indonesia,” ucap Nurul.

Menurutnya, penetapan patokan harga akan menciptakan keadilan dalam investasi baik bagi PLN dan investor lainnya, dengan demikian terjadi kesepakatan yang berkeadilan.

“Jadi kalau kita bicara fairness (keadilan) bukan untung di satu pihak kemudian PLN merugi, atau untung di PLN pihak yang lain juga merugi,” katanya.

Dia menyebut sejauh ini, investasi EBT yakni Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata di Purwakarta, Jawa Barat. Investasi itu merupakan hasil kerja sama Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA).

Bahkan Nurul mengungkapkan, ada sejumlah negara dari Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika ingin berinvestasi energi terbarukan di Indonesia seperti yang ada di Cirata, Jawa Barat.

Lebih lanjut Nurul mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam investasi energi baru terbarukan karena memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah.

Ia mencontohkan ketika investasi seperti energi surya, maka akan terbentuk ekosistem termasuk pembangkit listrik, industri panel surya, dan elemen lainnya.

“Apa kita punya kemampuan itu? Jawabannya iya karena sumber daya alam kita cukup untuk mendukung itu,“ jelas Nurul.

Nurul juga menekankan pentingnya pasar domestik sebagai faktor penentu untuk menarik investor dalam sektor energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.

Menurutnya, kondisi pasar domestik yang kuat memberikan sinyal positif bagi investor untuk menanamkan modalnya dalam proyek-proyek EBT di Indonesia.

“Cuma mereka (investor) juga selalu meminta bahwa salah satu dari pertimbangan investor untuk masuk adalah domestik market nya juga harus bisa ditumbuhkan dengan baik,” imbuh Nurul.

Baca juga: PLN rancang RUPTL 75 persen pemangkit listrik EBT dan 25 persen gas
Baca juga: Kementerian ESDM sebut harga keekonomian EBT kian kompetitif
Baca juga: Berkat teknologi, harga listrik EBT kian murah ketimbang fosil

 

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2024