Gaza (ANTARA) - Ahmed Arfan (39), seorang warga Palestina yang mengungsi dari Rafah, mendirikan sebuah tenda sementara di Khan Younis, Gaza selatan, untuk keluarganya yang terdiri dari enam orang.

"Selama berhari-hari, saya terpaksa tidur di tempat terbuka. Saya harus menitipkan anak-anak dan istri saya ke tenda-tenda kerabat sampai akhirnya saya dapat mendirikan tenda kami sendiri," ungkap Arfan kepada Xinhua.

Setelah melewati cobaan berat, Arfan menemukan sebuah area kecil di dekat tempat pembuangan sampah di wilayah Mawasi, Khan Younis, untuk mendirikan tendanya.

"Sepanjang hari kami menderita karena bau busuk sampah. Nyamuk dan serangga mengganggu kami siang dan malam, tetapi saya tidak punya pilihan. Ada banyak pengungsi di sini dan tidak ada tempat lain bagi kami," ujarnya.
 
   Warga Palestina yang melarikan diri dari Rafah tiba di pantai di selatan Jalur Gaza, pada 4 Juni 2024. (Xinhua/Khaled Omar)


Pada 7 Mei, tentara Israel memperluas operasi militernya di Rafah, memerintahkan lebih dari 1,5 juta warga Palestina yang berlindung di sana untuk berpindah ke Khan Younis dan wilayah-wilayah Gaza tengah lainnya.

"Tentara Israel mengklaim bahwa wilayah-wilayah aman tersebut akan memiliki semua kebutuhan hidup dan hunian. Namun, kami tidak menemukan apa-apa. Penderitaan kami makin berlipat ganda," keluh Arfan.   

Seperti ribuan pengungsi lainnya, Arfan harus berjalan kaki beberapa kilometer setiap hari untuk mengambil air dan membeli makanan dengan harga tinggi.

Situasi ini diperparah dengan ketidakmampuan Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) dalam menangani tingginya jumlah pengungsi di Khan Younis dan wilayah lainnya.

"UNRWA tidak bisa menangani jumlah pengungsi di sini," imbuh Arfan.
 
Warga Palestina yang melarikan diri dari Rafah terlihat di pantai di selatan Jalur Gaza, pada 4 Juni 2024. (Xinhua/Khaled Omar)   


Munira al-Sayed (27), seorang wanita pengungsi, juga terpaksa tidur di tenda kerabatnya di Deir al-Balah, Gaza tengah.

"Ini ketiga kalinya saya mengungsi bersama dua anak saya setelah suami saya tewas terbunuh dalam serangan udara Israel di Al-Nuseirat," tutur al-Sayed kepada Xinhua dengan mata yang berkaca-kaca.   

Al-Sayed sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan dari UNRWA, tetapi kurangnya distribusi di wilayahnya memaksa Al-Sayed membeli makanan di pasar gelap.

"Saya tidak punya cukup uang. Saya dan anak-anak saya hanya makan satu kali sehari, dan ini sangat memengaruhi kesehatan kami," ungkapnya.

Selama sekitar 15 hari, Hassan Ismail, seorang pengungsi Palestina lainnya, masih belum menerima bantuan dari UNRWA.

"Saya tidak bisa menyalahkan UNRWA karena jumlah pengungsi yang sangat banyak, dan organisasi itu menghadapi banyak kendala dalam memenuhi kebutuhan kami," ujar ayah berusia 42 tahun itu.

"Anak bungsu saya yang masih bayi menderita malanutrisi selama beberapa bulan. Dia membutuhkan susu bayi secara teratur, tetapi ada kelangkaan pasokan di pasar," kata Ismail dengan cemas.
 
   Warga Palestina yang melarikan diri dari Rafah terlihat di pantai di selatan Jalur Gaza, pada 4 Juni 2024. (Xinhua/Khaled Omar).


UNRWA menyatakan bahwa pihaknya terus memberikan layanan esensial meski tantangan makin meningkat dan kondisi sangat memprihatinkan. Badan tersebut memperkirakan bahwa wilayah Khan Younis dan Gaza tengah kini menampung sekitar 1,7 juta orang, seraya menekankan bahwa pekerjaan kemanusiaannya "makin menyusut."

Keluarga-keluarga Palestina hidup dalam "kondisi yang tidak manusiawi dengan kelangkaan air, makanan, dan persediaan," kata UNRWA, seraya menyerukan agar blokade segera diakhiri. 
 

Pewarta: Xinhua
Editor: Citro Atmoko
Copyright © ANTARA 2024