Beijing (ANTARA) - Direktur Pelaksana DBS Group Research Taimur Baig menilai perekonomian China menunjukkan sinyal pemulihan yang semakin positif saat serangkaian kebijakan yang diluncurkan di seluruh negara itu untuk menggenjot pasar properti mulai memberikan hasil.

Dalam sesi wawancara eksklusif dengan Xinhua tersebut, Baig menegaskan bahwa DBS memandang berbagai kebijakan pendukung yang diumumkan otoritas China dalam beberapa bulan terakhir untuk menggenjot pasar properti sebagai hal yang substansial.

"Menyelesaikan permasalahan terkait properti di China akan memerlukan waktu, tetapi kami merasa senang dengan totalitas berbagai kebijakan yang diambil dalam beberapa bulan terakhir," ujarnya.

Baig menilai selain peningkatan yang lebih baik dari perkiraan dalam pasar properti China, kinerja perdagangan yang tangguh di negara itu juga membantu mendorong perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.

"Para eksportir China telah bekerja dengan cukup baik, terlepas adanya fluktuasi secara bulanan. Jika Anda mengamati perdagangan selama empat bulan pertama 2024, hal tersebut tercatat lebih baik dari perkiraan," kata Baig.

Menurut Administrasi Umum Kepabeanan (General Administration of Customs), nilai ekspor China dalam empat bulan pertama 2024 naik 4,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 7,81 triliun yuan (1 yuan = Rp2.238) atau sekitar 1,1 triliun dolar AS (1 dolar AS = Rp16.220).

Perihal konsumsi, Baig menuturkan bahwa jumlah pelancong dan total konsumsi di China selama Festival Musim Semi, Festival Qingming, dan liburan Hari Buruh tahun ini telah menunjukkan pemulihan yang signifikan dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019. "Ke depannya, dukungan dari pemerintah China, seperti subsidi untuk kebijakan tukar tambah (trade-in) barang konsumsi, akan memacu pertumbuhan penjualan retail dalam beberapa bulan mendatang," imbuhnya.

Menurut Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS), Produk Domestik Bruto (PDB) China pada kuartal pertama 2024 tumbuh 5,3 persen (yoy), yang melampaui ekspektasi. Dengan melonjaknya optimisme terhadap perekonomian China, DBS memutuskan untuk menaikkan proyeksinya terkait pertumbuhan PDB China pada 2024 menjadi 5 persen dari 4,5 persen berdasarkan data NBS.

Laporan dari DBS Group Research pada April menunjukkan bahwa investasi aset tetap China pada kuartal pertama 2024 mencatatkan peningkatan, saat inisiatif pemerintah yang ditujukan untuk pembaruan peralatan dalam sejumlah sektor strategis mulai membuahkan hasil.

Baig menyatakan bahwa mengingat pertumbuhan ekonomi China yang stabil, negara itu tetap menjadi tujuan yang populer bagi investasi asing. Menurut dia, skala dan kapasitas pembelian konsumen China masih menjadi daya tarik yang besar bagi perusahaan-perusahaan multinasional global.

Dia mengatakan mayoritas raksasa farmasi global memiliki kehadiran yang substansial di China, dan sedang menyiapkan rencana ekspansi. Baig menambahkan bahwa "produsen barang konsumen global memandang China sangat menguntungkan dari segi bisnis.

Kami juga mengamati perusahaan-perusahaan tersebut memiliki rencana investasi dan ekspansi yang besar di China dalam beberapa tahun dan dekade mendatang.

Baig menyatakan bahwa seiring dengan China yang memajukan keterbukaan dua arah di sektor keuangannya, banyak lembaga keuangan internasional termasuk DBS memperoleh lebih banyak peluang untuk memanfaatkan pasar keuangan China.

Dia memaparkan seiring dengan upaya China mendorong pembangunan berkualitas tinggi, berbagai pencapaian inovasi yang impresif telah dicatatkan oleh perusahaan-perusahaan China.

Menurut Baig, China menjadi pemimpin global dalam hal pemanfaatan kemampuan produksi dan teknologi secara efisien terkait kendaraan listrik, baterai lithium, panel surya, dan produk lainnya.

Di sektor jasa, beberapa perusahaan perdagangan elektronik (e-commerce) lintas batas dan perusahaan keuangan telah memperoleh pengakuan global melalui inovasi.

Pakar tersebut menyatakan optimismenya terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang China, sembari menyoroti bahwa China telah banyak berinvestasi dalam bidang pendidikan serta penelitian dan pengembangan (litbang) untuk menggenjot inovasi, juga menciptakan penerapan inovasi yang dikomersialkan dengan biaya yang efisien.

"Saat kita mengamati bentuk investasi yang dilakukan oleh China dalam mengedukasi masyarakatnya, membekali mereka dengan berbagai keterampilan untuk (menghadapi) gelombang teknologi berikutnya, serta output para ilmuwan China, kami merasa terkesan dengan potensi jangka panjang China," ujar Baig.

Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2024