Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita melakukan kunjungan bilateral ke Turki untuk bertemu dengan Menteri Industri dan Teknologi Turki Mehmet Fatih Kacir serta sejumlah CEO industri terkemuka di Turki.

Sebagai ekonomi terbesar di masing-masing wilayahnya dan sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim di dunia, Agus menegaskan pentingnya persaudaraan Indonesia-Turki yang akan bermanfaat untuk memajukan perekonomian kedua negara serta mempromosikan perdamaian dan kesejahteraan global.

"Turki adalah mitra penting Indonesia untuk mengejar capaian prioritas industrialisasi terutama industri manufaktur, food processing, dan restrukturisasi permesinan industri, " kata Menperin Agus usai pertemuan dengan Menteri Mehmet, seperti disampaikan KBRI Ankara pada Kamis.

Dalam pertemuan bilateral dengan Mehmet, Rabu (5/6), Agus menjelaskan komitmen Indonesia dalam menjalankan kebijakan hilirisasi untuk industri pengolahan dalam rantai pasok global.

Saat ini, pemerintah Indonesia mendorong pemanfaatan teknologi untuk hilirisasi komoditas, termasuk di antaranya komoditas berbasis mineral dan logam seperti bauksit, timah, tembaga, dan nikel.
Baca juga: Luhut: Dampak persaingan asing ke Indonesia tak perlu dikhawatirkan

Dengan Turki, Indonesia akan mengembangkan kerja sama untuk pengembangan industri baterai dan industri otomotif kedua negara, mengingat Turki telah sukses mengembangkan industri otomotif, terutama kendaraan listrik nasionalnya.

Menperin juga menekankan pentingnya kedua negara untuk dapat bekerja sama dalam pengembangan industri halal dan kerja sama antar kawasan industri.

Turki dikenal memiliki model pengembangan kawasan industri yang baik dan dapat ditiru oleh operator kawasan industri di Indonesia.

Kedua menteri memiliki pandangan yang sama mengenai masih besarnya ruang bagi kedua negara untuk mengembangkan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan investasi melalui pertukaran keahlian, pengalaman dan praktek baik, terutama di bidang industri manufaktur.

Turki juga menyambut baik maksud Indonesia untuk menjadi anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dan siap mendukung keanggotaan Indonesia tersebut.

Dalam hal ini, Indonesia akan dapat mempelajari praktik baik dan standar-standar terkait tata kelola perekonomian, pengelolaan lingkungan hidup, dan pengelolaan sektor industri.
Baca juga: OJK: Praktik di sektor asuransi RI harus sesuai standar Internasional

"Indonesia dan Turki perlu terus menguatkan kemitraan di berbagai sektor termasuk sektor industri. Tidak hanya di industri pertahanan, Turki unggul dalam industrialisasi di berbagai bidang seperti industri farmasi, alat kesehatan, dan konstruksi," cetus Duta Besar RI untuk Turki Achmad Rizal Purnama.

Dubes Rizal, yang telah bertugas di Turki sejak September 2023, menjelaskan bahwa industrialisasi di Turki ditopang oleh ekosistem yang kondusif seperti penerapan kemitraan triple helix antara pemerintah-industri-universitas, pengembangan R&D dan inovasi, regulasi yang koheren, serta insentif menarik bagi industri startup dan UMKM.

Menperin Agus sebelumnya bertemu dengan sejumlah petinggi industri terkemuka Turki seperti Kordsa (salah satu perusahaan global produsen ban), Koc Holding (konglomerasi energi, otomotif, barang elektronik rumah tangga), dan Sanko Holding (konglomerasi industri tekstil, semen, pengemasan, dan pengolahan perikanan).

Dengan perusahaan-perusahaan tersebut, Agus menyambut baik komitmen untuk mengembangkan dan meningkatkan kehadiran di Indonesia sebagai pasar terbesar di kawasan Asia Tenggara yang akan menjadi kekuatan ekonomi ke-4 dunia pada 2045.
Baca juga: Menteri Keuangan ASEAN tetapkan visi baru ASEAN Single Window

Dia juga memaparkan salah satu prioritas industrialisasi di Indonesia adalah memperluas cakupan pelaku industri terutama industri asing, untuk meningkatkan kapabilitas dan daya saing industri nasional.

Berdasarkan statistik tahun 2023, impor Indonesia dari Turki sebesar 409,9 juta dolar AS (sekitar Rp6,7 triliun) sementara ekspor Indonesia ke Turki mencapai 1,9 miliar dolar AS (sekitar Rp30,9 triliun).

Bagi Indonesia, Turki merupakan tujuan ekspor ke-25 dan sumber impor ke-37. Sementara itu, bagi Turki, Indonesia merupakan tujuan ekspor ke-83 dan sumber impor ke-34.

Produk ekspor Indonesia ke Turki utamanya yarn, steel, kayu, karet, fiber, minyak sawit, dan kertas sementara produk ekspor Turki ke Indonesia berupa mesin, alutsista, minyak mentah, dan turbin.

Kedua negara saat ini tengah berupaya untuk mempercepat penyelesaian perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif yang diharapkan dapat menghapus hambatan-hambatan perdagangan yang ada serta mendongkrak nilai perdagangan ke depan.

Baca juga: Indonesia berkomitmen bangun kerja sama lebih kuat dengan Turki
Baca juga: Dubes Rizal dorong peningkatan interaksi pebisnis Indonesia dan Turki

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2024