Kupang (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut aktivitas kegempaan dari Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai mengalami penurunan.

"Secara umum jumlah gempa menunjukkan penurunan cukup signifikan bila dibandingkan periode satu minggu sebelumnya," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Ile Lewotolok Jeffry Pugel ketika dihubungi dari Kupang, Senin.

Berdasarkan data kegempaan periode 1-7 Juni 2024, tercatat ada 7 kali gempa Letusan/Erupsi, 2.463 kali gempa Hembusan, 11 kali gempa Vulkanik Dangkal, 3 kali gempa Vulkanik Dalam, 2 kali gempa Tektonik Lokal, serta 4 kali gempa Tektonik Jauh.   

Menurut Jeffry, jumlah itu mengalami penurunan bila dibandingkan dengan data kegempaan pada periode 23 Mei-1 Juni 2024.

Pada periode yang lalu, Gunung Api Ile Lewotolok tercatat mengalami 64 kali gempa Letusan/Erupsi, 3.128 kali gempa Hembusan, 25 kali gempa Vulkanik Dangkal, 11 kali gempa Vulkanik Dalam, 4 kali gempa Tektonik Lokal, serta 4 kali gempa Tektonik Jauh.

Ia mengatakan Gempa Vulkanik Dangkal dan Dalam memang masih terekam, namun tidak signifikan. Kemunculan gempa-gempa Vulkanik ini mengindikasikan adanya tekanan atau stres pada tubuh Gunung Ile Lewotolok yang berkaitan dengan suplai fluida magmatik dangkal dan dalam.

"Tremor menerus juga terekam dengan amplitudo rata-rata menurun bila dibandingkan dengan periode sebelumnya," ucap Jeffry.

Jeffry menjelaskan Badan Geologi masih mempertahankan tingkat aktivitas Gunung Api Ile Lewotolok pada Level III atau Siaga. Oleh karena itu, masyarakat, pengunjung, pendaki, dan wisatawan direkomendasikan untuk tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas dalam wilayah radius 2 km dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok.

Badan Geologi mengimbau masyarakat Desa Lamatokan dan Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya guguran atau longsoran lava dan awan panas dari bagian timur puncak gunung.

Selanjutnya masyarakat Desa Jontona dan Desa Todonara diingatkan agar tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas dalam wilayah sektoral selatan dan tenggara sejauh 3 km dari pusat aktivitas gunung, serta mewaspadai potensi ancaman bahaya guguran atau longsoran lava dan awan panas dari bagian selatan dan tenggara puncak gunung.

Sedangkan bagi masyarakat Desa Amakaka, Badan Geologi berpesan agar tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas dalam wilayah sektoral barat sejauh 3 km dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok.

"Waspada juga potensi ancaman bahaya guguran atau longsoran lava dan awan panas," kata Jeffry mengingatkan.

Baca juga: Badan Geologi imbau warga Amakaka waspada aliran lava Ile Lewotolok
Baca juga: Badan Geologi ingatkan warga waspada banjir lahar Gunung Ile Lewotolok
Baca juga: Badan Geologi sebut ada penambahan jarak aliran lava Ile Lewotolok


 

Pewarta: Fransiska Mariana Nuka
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2024