Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berbicara mengenai peran Indonesia sebagai mediator perdamaian pada Oslo Forum di Norwegia pada Selasa.

Dalam sesi pembuka, dia berdiskusi dalam satu panggung yang sama dengan Perdana Menteri Norwegia, Presiden Somalia, dan State Minister Qatar.

“Undangan untuk berpartisipasi dalam sesi pembukaan tersebut merupakan pengakuan terhadap peran Indonesia yang selalu aktif dalam memajukan perdamaian internasional,” kata Retno dalam keterangan tertulis dari Kemlu RI.

Para panelis dalam sesi itu berbicara tentang tantangan yang dihadapi mediator di tengah konflik dan perang yang kian meningkat dan kompleks.

“Dalam diskusi itu antara lain saya sampaikan bahwa tidak semua negara dapat menjadi mediator, tetapi semua dapat berkontribusi untuk mewujudkan perdamaian, menciptakan situasi yang kondusif untuk perdamaian,” tutur Retno.

“Jadi diskusinya saya usulkan untuk diperluas, bukan hanya ‘mediation against all odds’ tetapi ‘mediation and peace making against all odds’,” katanya, menambahkan.

Retno menyoroti bahwa jumlah konflik dan perang dari tahun ke tahun bukannya berkurang, tetapi justru semakin bertambah.

Tahun lalu, misalnya, tidak ada perang di Gaza, tetapi tahun ini lebih dari 36 ribu orang, yang separuhnya anak-anak, terbunuh di wilayah Palestina itu.

“Upaya untuk mencapai perdamaian tidak mudah. Terkadang, pihak yang berkonflik tidak ingin atau belum ingin berdamai. Mereka beranggapan jika berdamai berarti menyerah. Oleh karena itu kita harus yakinkan semua pihak, terutama pihak-pihak yang berkonflik untuk meninggalkan pendekatan zero sum game,” kata Retno.

Dia menjelaskan bahwa sifat konflik juga semakin kompleks karena dipengaruhi oleh politik domestik dan rivalitas geopolitik.

Pada titik itu, kata Retno, konflik biasanya terjadi karena ada perbedaan terhadap suatu isu.

Namun, makin lama sifatnya menjadi semakin kompleks karena tidak hanya perbedaan isu tentu saja, tetapi juga dipengaruhi oleh adanya politik domestik dan juga rivalitas geopolitik.

“Saya juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dalam engagement kita di setiap upaya untuk menyelesaikan konflik,” kata Retno.

Dia juga menekankan pentingnya penguatan sistem multilateral untuk menciptakan perdamaian, mengingat sistem multilateral saat ini sudah tidak mampu untuk menyelesaikan konflik secara efektif.

“Kita paham bahwa mediasi selalu memerlukan waktu yang panjang. Dan saya jelaskan, sambil menunggu hasil mediasi, kita dapat lakukan banyak hal, contohnya untuk Palestina,” kata Retno.

Menurut dia, ada dua hal penting yang dapat dilakukan dunia internasional, yaitu memperlancar bantuan kemanusiaan dan mempersiapkan Palestina dalam bernegara, antara lain melalui pengakuan dan keanggotaan penuh di PBB.

“Dalam konteks inilah, saya sampaikan penghargaan kepada Norwegia yang telah memutuskan untuk mengakui Palestina pada 28 Mei lalu. Dan pada saat saya bicara mengenai pengakuan terhadap Palestina ini, hadirin yang hadir semua bertepuk tangan,” kata Retno.

Oslo Forum merupakan forum tahunan yang diselenggarakan oleh Norwegia dengan mengundang para mediator dan negosiator dari berbagai negara.

Tahun ini, forum tersebut mengangkat tema “Mediation Against All Odds” (Mediasi di Tengah Situasi yang Serba Sulit).

Tema tersebut dinilai sangat relevan di tengah terus meningkatnya konflik dan perang di dunia, antara lain di Gaza dan Ukraina.

Tahun ini merupakan keempat kalinya Menlu RI diundang ke Oslo Forum. Hal ini didasari pertimbangan peran aktif yang terus dimainkan Indonesia, baik untuk isu Myanmar, Afghanistan, maupun Palestina.

Baca juga: Di KTT terkait Gaza, Prabowo sebut RI siap evakuasi dan bangun RS
Baca juga: Indonesia sambut disahkannya resolusi gencatan senjata DK PBB

 

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2024