Momentum ini juga merupakan pengingat bahwa Kota Ambon memiliki potensi bencana alam gempa bumi dan tsunami yang sangat tinggi
Ambon (ANTARA) -
Indian Ocean Tsunami Information Center UNESCO melakukan verifikasi lapangan di Desa Galala dan Negeri Hative Kecil, Kota Ambon sebagai calon komunitas siaga tsunami pertama di kawasan timur Indonesia yang diakui UNESCO.

Verifikasi lapangan dilakukan oleh tim berupa kegiatan simulasi penyelamatan diri dari bencana gempa bumi dan tsunami yang diikuti oleh warga Desa Galala dan Negeri Hative Kecil, di Ambon, Rabu.

Baca juga: BMKG: SLG gempa bumi-tsunami tingkatkan edukasi bencana ke warga Biak

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I, Djati Cipto Kuncoro mengatakan, Provinsi Maluku khususnya, wilayah Kota Ambon merupakan daerah rawan bencana gempa bumi dan tsunami.

Dengan adanya ancaman nyata bencana alam maka diperlukan upaya mitigasi sebagai salah satu program prioritas pembangunan.

"Program tersebut mewujudkan masyarakat siaga tsunami melalui pemenuhan 12 indikator tsunami " ready community", di antaranya edukasi dan simulasi, dan sinergi antar pemangku kepentingan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota," katanya.

Ia menyatakan, jika dalam tahapan verifikasi internasional berhasil , maka komunitas siaga tsunami Desa Galala dan Hative Kecil akan menerima penghargaan di Banda Aceh pada peringatan 20 tahun tsunami Aceh.

Penjabat Wali Kota Ambon, Dominggus Kaya mengatakan, pengakuan ini menjadi kebanggaan, sebagai calon komunitas siaga tsunami pertama di Provinsi Maluku, bahkan di kawasan timur Indonesia yang diakui UNESCO.

Momentum ini juga merupakan pengingat bahwa Kota Ambon memiliki potensi bencana alam gempa bumi dan tsunami yang sangat tinggi.

Baca juga: Mukomuko susun dokumen rencana kontinjensi gempa-tsunami

"Kami mengapresiasi pemerintah Desa Galala dan Negeri Hative Kecil yang telah membenahi diri dan telah memperoleh pengakuan nasional dari National Tsunami Ready Board (NTRB) Tahun 2023," katanya.

Untuk sampai pada tahapan verifikasi memperoleh pengakuan internasional dari UNESCO, tidaklah mudah dan penuh perjuangan. Semua itu tak lepas dari bimbingan dan pendampingan dari BMKG Stasiun Geofisika Ambon dan BPBD Kota Ambon.

Dengan adanya pengakuan yang akan diterima Desa Galala dan Negeri Hative Kecil, menjadi motivasi bagi Pemkot Ambon dalam mendorong desa/negeri lainnya agar membangun masyarakat yang tangguh melalui strategi kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami yang dapat terjadi kapan saja.

"BPBD agar mempersiapkan desa, negeri dan kelurahan yang lain untuk memperkuat kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat dalam mengenal ancaman risiko di lingkungan, mampu mengelola informasi peringatan dini yang disediakan BMKG, memahami rambu peringatan, serta dapat melakukan evakuasi mandiri," ujarnya.

Ia berharap, apa yang telah dicapai Desa Galala dan Negeri Hative Kecil, menjadi katalis, motivasi dan inspirasi bagi negeri/desa/kelurahan lain untuk mempersiapkan diri, sehingga kota Ambon, sebagai kota tangguh dan siap menghadapi ancaman bencana gempa bumi dan tsunami.

Baca juga: BMKG: Deformasi batuan picu gempa Maluku Utara, tak berpotensi tsunami

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2024