Banda Aceh (ANTARA) - Margalena, siswi SD Negeri 1 Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alaman, Kabupaten Aceh Timur, tak pernah lelah belajar. Beragam lomba di tingkat desa hingga kecamatan diikutinya dan dia pun selalu keluar sebagai juara. Kini, Margalena duduk di Kelas 4 SD, dan sejak Kelas 1 SD, dia selalu meraih peringkat pertama di sekolah.

“Saya selalu belajar dengan tekun agar dapat terus berprestasi. Keinginan saya adalah suatu saat dapat mengangkat derajat hidup saya dan keluarga, sekaligus memberikan kebanggaan kepada orang tua dan daerah saya,” ujar Margalena pada akhir Mei lalu.

Provinsi Aceh adalah salah satu daerah dengan tingkat putus sekolah yang cukup tinggi di Indonesia. Angka putus sekolah pada tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) di Aceh mengalami kenaikan pada dua tahun terakhir di tahun ajaran 2021/2022 dan 2022/2023.

Berdasarkan Pusat Data dan Teknologi Informasi pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), anak putus sekolah tingkat SD di Aceh pada periode tahun ajaran tersebut mencapai 1.861 anak. Angka tersebut meningkat dari tahun ajaran 2021/2022 mencapai 801 anak, naik menjadi 1.061 anak putus sekolah pada tahun ajaran 2022/2023.

Jumlah anak putus sekolah tersebut tersebar di 23 kabupaten dan kota di provinsi paling barat di Indonesia itu. Sedangkan, daerah yang paling tinggi angka putus sekolah tingkat SD adalah Kabupaten Aceh Tenggara, yakni mencapai 290 anak. Kemudian di tempat kedua ada Kabupaten Aceh Timur, dengan angka putus sekolah sebanyak 267 anak.

Himpitan ekonomi seringkali jadi alasan seorang anak tidak melanjutkan sekolah. Padalah, pendidikan adalah salah satu modal untuk seseorang bisa memperbaiki taraf hidupnya. Ironisnya, di Aceh tingkat putus sekolah paling banyak terjadi pada anak kelas 1 dan kelas 6. Padahal, tidak sedikit anak-anak yang putus sekolah tersebut sebenarnya adalah anak yang cerdas dan berprestasi.

Sementara itu, pemerintah daerah memiliki keterbatasan anggaran untuk mengatasi masalah putus sekolah yang erat kaitannya dengan tingkat kemiskinan. Tanpa ada keterlibatan dari pihak swasta, masalah ini tidak akan bisa diatasi sendiri oleh pemerintah.

Margalena merupakan anak dari pasangan Hasan Basri dan Nilawati. Keluarga ini hidup sangat sederhana di desa. Hasan yang kini berusia 43 tahun, adalah seorang petugas kebersihan yang sekaligus mengurus pohon sawit di sekolah. Sejak kecil, Margalena memang sudah akrab dengan dunia perkebunan karena sang ayah yang bekerja di sektor ini.

Kehidupan mereka yang sederhana tak membuat Margalena putus semangat bersekolah dan mengejar pendidikan. Cita-citanya sungguh mulia: menjadi seorang pendidik, guru ataupun dosen. Kegigihan dan ketekunan dalam belajar dan mengejar cita-cita inilah yang membuat Margalena tumbuh menjadi pelajar berprestasi yang akhirnya berkesempatan mendapatkan beasiswa dari PT Medco E & P Malaka (Medco E&P) berupa bantuan biaya sekolah dan penyediaan perlengkapan belajar.

"Alhamdulillah, adanya beasiswa ini bisa meringankan beban ayah saya. Saya dapat membeli buku dan alat perlengkapan sekolah lainnya dengan uang beasiswa itu," katanya.
Dokumentasi saat perwakilan perusahaan migas menyerahkan bantuan pendidikan kepada pelajar SD di Indra Makmur, Kabupaten Aceh Timur pada 2022. (ANTARA/HO-Medco)


Yazid adalah siswa berprestasi lain yang mendapatkan beasiswa serupa dari perusahaan. Siswa SD Negeri 1 Blang Nisam ini juga selalu menjadi juara satu di kelasnya, dan dia pun sering menjuarai lomba adzan dan pidato di tingkat kecamatan.

Ayahnya, Ismail, adalah seorang pembudidaya ikan hias. Disamping itu, Ismail juga menjadi pelatih sepak bola untuk anak usia dini di desa tempat mereka tinggal.

Kepala Sekolah SDN 1 Panton Rayeuk T, Usman mengatakan, sedikitnya ada 17 orang penerima beasiswa berprestasi. Masing-masing siswa mendapatkan bantuan beasiswa tiap semester. Selain untuk membantu meringankan orangtua dalam pembiayaan Pendidikan anak-anak mereka, beasiswa ini juga untuk memotivasi siswa agar semakin giat belajar.

Program beasiswa dari Medco E&P ini sudah berjalan selama tiga tahun. Beasiswa tersebut memang diperuntukkan bagi pelajar kurang mampu namun memiliki prestasi gemilang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Timur, Saiful Basri, mengapresiasi kepedulian Medco E&P terhadap dunia pendidikan di Aceh Timur. “Kami berharap program ini dapat terus berjalan sehingga membuka harapan para pelajar di Aceh Timur untuk mengejar cita-cita mereka,” kata Saiful Basri.

Hingga kini, perusahaan minyak dan gas pertama yang berhasil mengembangkan gas di Blok A, Aceh Timur paska perdamaian Aceh itu telah mengucurkan bantuan beasiswa pendidikan kepada 327 siswa berprestasi di wilayah itu.

Keberadaan perusahaan migas di Provinsi Aceh tidak hanya memberi dampak positif bagi peningkatan pendapatan asli daerah atau PAD. Kehadiran perusahaan seperti PT Medco E&P telah meringankan beban pemerintah untuk menjangkau anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu, agar bisa terus melanjutkan sekolah demi mewujudkan cita-cita mereka. Dengan meningkatnya taraf pendidikan warga setempat, maka peluang mereka untuk bisa bekerja di sektor migas sebagai tenaga profesional semakin terbuka lebar.

Editor: Slamet Hadi Purnomo
Copyright © ANTARA 2024