Jakarta (ANTARA) -  Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar mengatakan pengelolaan sampah organik menjadi pupuk sebagai salah satu langkah yang berguna untuk pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK).

Dalam diskusi di Jakarta, Jumat, Direktur Penanganan Sampah KLHK Novrizal menyebut sampah-sampah organik dapat dimanfaatkan untuk tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) salah satunya untuk kompos atau diolah menggunakan lalat black soldier fly (BSF).

"Biasanya itu komposisi satu ton organik dengan composting akan menurunkan 0,7 ton CO2," jelas Novrizal.

"Ini juga kita dorong upaya mitigasi seperti itu," tambahnya.

Dia menjelaskan pengelolaan sampah diperlukan selain untuk menekan emisi metana yang dihasilkan dekomposisi sampah organik sekaligus mencegah kepunahan keanekaragaman hayati karena bocornya sampah anorganik ke ekosistem seperti keberadaan sampah plastik.

Baca juga: DLH Bantul sebut pembuatan jugangan metode pengolahan sampah sederhana

Novrizal memaparkan bahwa pengelolaan sampah dan limbah masuk dalam salah satu upaya untuk penanganan perubahan iklim, menjadi salah satu sektor yang ditargetkan mengalami penurunan emisi dalam dokumen iklim nasional Nationally Determined Contribution (NDC) milik Indonesia.

Sektor limbah dibagi menjadi empat sub-sektor yaitu yaitu limbah padat domestik, limbah cair domestik, limbah cair industri dan limbah padat industri.

Pemerintah menargetkan sektor limbah menyumbang pengurangan emisi 1,4 persen dengan usaha sendiri dan 1,5 persen dengan bantuan internasional, dari target keseluruhan 31,89 persen melalui upaya sendiri dan 43,2 persen ketika memiliki dukungan internasional.

Sementara itu, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK memperlihatkan total timbulan sampah pada 2023 mencapai 24 juta ton per tahun, dengan 33,71 persen di antaranya tidak terkelola. Jenis sampah organik menjadi penyumbang mayoritas sampah tersebut, dengan sampah sisa makanan mencakup 41,7 persen total timbulan sampah.

Baca juga: DLH Bantul ingatkan sampah yang masuk ke tanah hanya sampah organik

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2024