Shanghai (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menkomarinves) Luhut Binsar Pandjaitan membidik universitas dengan dana riset besar di China untuk bekerja sama dengan kampus-kampus di Indonesia.

"China kan universitas berkualitasnya banyak. Cara mengukurnya sederhana. Berapa dana risetnya? Di sini, universitas yang melakukan riset dan dikaitkan dengan perusahaan-perusahaan dan ternyata tidak susah," kata Luhut kepada ANTARA di Shanghai, Minggu.

Menko Luhut melakukan kunjungan kerja ke China sejak Rabu (12/6) dengan mendatangi sejumlah kota dan daerah seperti Beijing, Jilin dan Shanghai.

Ia antara lain bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Kepala National Development and Reform Commission (NDRC) China Zheng Shanjie, pejabat dari Tsinghua University dan para pengusaha asal Tiongkok.

"Kita juga ada salah, riset semua disatukan di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), ini kan repot. Kalau di China pemerintah membantu dana riset universitas tapi 'private sector' juga bantu karena mereka juga perlu butuh," tambah Luhut.

Ia mencontohnya kerja sama Beijing Genomics Institute (BGI) yaitu perusahaan yang berkantor pusat di Shenzhen dengan bidang kerja pusat penelitian genetika yang antara lain mengurutkan genom hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme lain.

"Itu kita ajak kerja sama dengan kampus di Indonesia, misalnya dengan IT (Institut Teknologi) Del selama 10 tahun. Kenapa 10 tahun? Supaya membangun ekosistemnya, membangun budayanya. Kalau hanya datang satu dua orang tidak akan terbangun budaya riset padahal budaya itu yang perlu, dan mereka mau melakukan, sangat mau," jelas Luhut.

Kerja sama tersebut, menurut Luhut, adalah pusat riset bersama (joint research center) maupun laboratorium bersama (joint laboratory) di bidang herbal.

"Kemudian kita juga berencana mengirim sebanyak mungkin lagi orang-orang hebat kita untuk sekolah, di tempat-tempat yang punya dana risetnya tinggi," ungkap Luhut.

Pada 2022, tim R&D World menyebut Amerika Serikat berada di posisi pertama sebagai negara yang mengeluarkan dana untuk riset yaitu senilai 679,4 miliar dolar AS atau 3,07 persen dari PDB periode 2022.

Peringkat kedua adalah China dengan nilai 551,1 miliar dolar AS, ketiga diduduki Jepang (182,2 miliar dolar AS), keempat Jerman (143,1 miliar dolar AS) dan kelima Korea Selatan (106,1 miliar dolar AS).

Sementara anggaran riset di Indonesia adalah 8,2 miliar dolar AS atau berada di posisi 34 namun dengan rasio penganggaran riset terhadap PDB paling rendah yaitu hanya sebesar 0,24 persen pada 2022.

Adapun jumlah pelajar dari Indonesia di China berdasarkan data Kedutaan Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia pada 2023 adalah sekitar 15.000 mahasiswa.

Laporan Times Higher Education’s (THE) World University Rankings terkait peringkat perguruan tinggi dunia periode 2024 sendiri menunjukkan perguruan tinggi dari China semakin mendekati untuk masuk ke kelompok 10 terbaik.

China kini menempatkan 13 perguruan tingginya dalam kelompok 200 terbaik atau meningkat hampir dua kali lipat dalam waktu empat tahun, di mana tahun 2020 baru ada tujuh perguruan tinggi yang masuk dalam kelompok 200 terbaik.

Tsinghua University dan Peking University (keduanya berada di Beijing), misalnya, kini berada di peringkat ke-12 dan ke-14 dunia. Tahun sebelumnya kedua universitas ini berada di peringkat ke-16 dan ke-17 dunia.

Meski kampus di AS dan Inggris masih memimpin dalam peringkat, dominasinya mulai menyusut dalam kelompok 200 terbaik sejak 2021.

Analis dari THE mengatakan membaiknya peringkat perguruan tinggi China antara lain disebabkan mulai dari makin seringnya perguruan tinggi di China memahami metode pemeringkatan hingga mengalirnya pendanaan dari pemerintah untuk mengembangkan pendidikan tinggi.

Terlebih ketika dunia pendidikan barat mengalami stagnasi di saat pandemi, terutama dalam memproduksi hasil-hasil penelitian, China unggul di bidang riset-riset ilmiah, terutama di bidang kesehatan.

Sementara Universitas Indonesia dalam THE 2024 masih menjadi perguruan tinggi terbaik di Indonesia yaitu pada peringkat ke-878 (kelompok 801-1.000). Posisi ini sudah membaik dibandingkan 2023 di mana UI berada di kelompok 1.001-1.200.

Baca juga: Kementan kerja sama teknologi pertanian dengan lembaga riset di China
Baca juga: Kemenko PMK dorong industri riset bentuk kampung elektronika Indonesia

 

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2024