Xi'an, China (ANTARA) - Zhang Yinglong (61) berhasil menemukan cara untuk menanam jamur matsutake merah atau jamur pinus merah, di Gurun Maowusu, salah satu gurun terbesar di China.

Dia berharap penanaman jamur itu dapat membawa manfaat ekonomi dan mendorong lebih banyak orang untuk bergabung dalam upaya penghijauan.

"Kita tidak bisa hanya mengontrol pasir. Kita juga harus memikirkan cara untuk memanfaatkan pasir agar masyarakat di daerah berpasir dapat mencapai kesejahteraan," kata Zhang yang merupakan Kepala Basis Pengendalian Penggurunan dan Aforestasi Maowusu, Kota Shenmu, Provinsi Shaanxi, China.

Berlokasi di tepi tenggara Maowusu, basis tersebut saat ini dikelilingi pepohonan lebat. Namun, Zhang masih mengingat tempat berpasir dan berangin yang didapatinya saat pertama kali tiba di sana 21 tahun lalu.

Selama dua dekade terakhir, Zhang telah menjadi pakar pengendalian penggurunan dan telah bekerja di area seluas sekitar 28.533 hektare, yang cakupan hutan dan rumputnya meningkat dari 3 persen menjadi 65 persen.

"Dalam upaya memerangi penggurunan selama 21 tahun, kami telah melalui dua tahap, yaitu mencegah dan mengendalikan penggurunan serta melindungi dan memanfaatkan pasir. Kini, kami berada di tahap kedua," ujar Zhang.

Dia menambahkan bahwa tujuan awalnya adalah untuk mencapai stabilitas gurun, sedangkan tujuan jangka menengahnya adalah untuk secara efektif melindungi dan membentuk sejumlah industri, menstimulasi perkembangan industri melalui pengendalian pasir, serta mendorong pengendalian pasir melalui industri.

Sejak tahun 1950-an dan 1960-an, China telah meluncurkan serangkaian proyek pencegahan dan pengendalian penggurunan serta pengendalian ekologi skala besar, termasuk Program Hutan Penahan Angin Tiga Utara (Three-North Shelterbelt Forest Program/TSFP). Selama 46 tahun terakhir, tingkat cakupan hutan di wilayah-wilayah yang tercakup oleh TSFP telah naik dari 5,05 persen menjadi 13,84 persen.

Di Daerah Otonom Mongolia Dalam, China, terdapat pula kisah-kisah mengenai upaya untuk memerangi penggurunan dan menciptakan manfaat ekonomi melalui pengembangan industri.

"Bibit pohon ditanam, dan keesokan harinya bibit-bibit itu tertiup angin. Kami berhasil mempertahankan beberapa anak pohon, tetapi karena kekeringan dan rendahnya curah hujan, anak pohon itu kesulitan bertahan hidup pada tahun kedua," kata Sekretaris Partai di Desa Bulgtai, Chen Guofa.

Setelah berulang kali gagal, Chen menemukan bahwa pohon aprikot liar di gunung tandus dapat terus bertahan di tengah terpaan angin dan pasir.

"Aprikot gunung dapat bertahan di tengah kekeringan, tahan dingin, dan memiliki kemampuan beradaptasi yang kuat. Itu adalah spesies pohon asli yang sangat baik untuk fiksasi pasir dan konservasi air. Masyarakat bisa menikmati bunga di musim semi dan buah-buahan di musim panas, jadi spesies itu memiliki nilai ekonomi," kata Chen.

Pada 2012, Chen memimpin desa tersebut dalam menanam lebih dari 60.000 pohon aprikot gunung di lahan tandus seluas lebih dari 66 hektare. Setelah dirawat selama bertahun-tahun, pohon-pohon itu berhasil membantu melindungi desa dari badai pasir.

Dengan dukungan dari departemen kehutanan, desa tersebut telah menjalankan proyek basis penanaman hutan buah dengan total luas area pembudidayaan sekitar 233 hektare, dengan 17 varietas pohon buah ditanam di area itu.

Pada 2023, desa itu menanam Huangqi dan Cangzhu, dua jenis tanaman obat tradisional China, di lahan seluas 133 hektare di basis tersebut. Hal ini memperkaya bentuk ekonominya melalui teknik tumpang sari (intercropping) antara hutan dan obat-obatan.

Diharapkan bahwa pada puncak musim panen buah tahun ini, basis hutan buah tersebut dapat menghasilkan sekitar 300 ton buah, sementara pendapatan tahunannya bisa meraup lebih dari 1,2 juta yuan (1 yuan = Rp2.245), mencapai manfaat ekologi, ekonomi, dan sosial.

Skala dari industri-industri yang ada di daerah tersebut, seperti hutan pangan atau forest food, biji-bijian dan minyak kayu, tanaman psammous, bahan obat-obatan China, serta rumput pakan ternak yang berkualitas tinggi, terus berkembang, dan total nilai output industri kehutanan, pasir, dan rumput di daerah itu mencapai 85,6 miliar yuan atau sekitar 12,03 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp16.286) pada 2023.

Di Kota Zhongwei, Ningxia, pasir menjadi sumber daya di sektor pariwisata dalam beberapa tahun terakhir.

Objek Wisata Shapotou, yang merupakan destinasi wisata gurun pasir, memasuki puncak musim pariwisata menjelang datangnya musim panas. Berbagai kegiatan hiburan, seperti menunggang unta, berseluncur di pasir, pengamatan bintang, dan spa pasir, berhasil menarik wisatawan ke tempat yang dahulu kerap dihindari itu.

Kota tersebut menerima kedatangan lebih dari 15,02 juta wisatawan, dengan pendapatan pariwisata melampaui 8,8 miliar yuan pada 2023.

"Tanpa pengendalian penggurunan, tidak akan ada objek wisata Shapotou," kata Tang Ximing, yang telah mengabdikan diri untuk memerangi penggurunan selama lebih dari tiga dekade di Gurun Tengger, gurun terbesar keempat di China.

Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2024