Harga ekspor karet Indonesia capai terendah

Harga ekspor karet Indonesia capai terendah

Petani menyadap getah karet di kebun karet di Blambangan Umpu, Waykanan, Lampung. (ANTARA/Garifianto)

Medan (ANTARA News) - Harga ekspor karet Indonesia jenis SIR 20 di bursa Singapura pada tanggal 24 Januari 2014 turun ke level terendah sejak 2013 menjadi 2,083 dolar AS per kg untuk pengapalan Februari.

"Tahun lalu di bulan yang sama harga jual masih bisa 2,882 dolar AS per kg," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, di Medan, Sabtu.

Menurut dia, penurunan harga itu disebabkan melemahnya permintaan khususnya dari negara konsumen utama karet alam di tengah terjadinya kelebihan pasokan atau " over supply".

Melemahnya permintaan itu sendiri dampak kekhawatiran akan pelemahan yang lebih dalam atas pertumbuhan ekonomi China yang merupakan salah satu konsumen utama.

Stok karet di Shanghai bulan ini yang diinformasikan meningkat 1,8 persen menjadi 160.260 ton juga menjadi penyebab melemahnya permintaan.

Permintaan semakin melemah karena pembeli China juga mulai mengurangi pembelian karena mendekati liburan Imlek

Edy menyebutkan, adanya protes anti-pemerintah di Thailand yang berpotensi menurunkan produksi karet pada Januari-Februari 2014 sebesar 10-20 persen tampaknya belum bisa mendongkrak harga atau menahan laju penurunan harga komoditas tersebut..

Bahkan kenaikan harga crude oil juga belum bisa mempengaruhi harga karet di pasar.

"Kalau harga turun lagi, maka eksportir bisa semakin melakukan wait and see (menunggu dan melihat), sedangkan pedagang memilih menghentikan penderesan getahnya,"katanya.

Petani seperti lazimnya akan berganti profesi yakni memilih kerja serabutan karena harga karet dinilai tidak mencukupi kebutuhan.

"Untuk menahan harga agar tidak jatuh lagi adalah menjaga keseimbangan supply and demand dan itu bisa dilakukan kalau semua negara produsen bersama-sama mengatur penjualan alias menahan ekspor," kata Edy.

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar