Memaknai kebanggaan dalam sepotong siang di rumah Een Sukaesih

Memaknai kebanggaan dalam sepotong siang di rumah Een Sukaesih

Een Sukaesih (50), guru penderita rheumatoid arthritis. Meski menderita kelumpuhan sejak 30 tahun lalu dan terbaring di ranjangnya, Een Sukaesih warga kabupaten Sumedang masih menjadi guru dan memberikan pendidikan kepada warga Cibeureum. (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)

Alhamdulillah kita dan Ibu Een bisa bertemu kembali
Jakarta (ANTARA News) - "Aku anak-anak Indonesia. Semua punya cita-cita. Kelak aku ingin berguna. Untuk nusa bangsa..."

Bait lagu yang meluncur dari bibir Een Sukaesih, perempuan paruh baya yang menghabiskan separuh hidupnya terbaring lumpuh di peraduan namun tetap gigih untuk tidak melepaskan cita-citanya guna mengabdi kepada bangsa itu seakan-akan mencerminkan semangat kuat Een untuk tetap berguna bagi bangsa, tak peduli didera keterbatasan.

Laiknya pesan dalam lagu yang berjudul "Aku Bangga Jadi Anak Indonesia" itu, Een tidak sedikitpun malu atau menyerah atas kekurangannya dan berharap hal yang sama pula dari seluruh anak Indonesia.

Terbaring di pembaringan tanpa mampu menggerakkan anggota tubuhnya, siang itu, 3 Febuari 2014, Een meminta waktu untuk menyanyikan lagu itu khusus untuk sang pencipta lagu tersebut, Susilo Bambang Yudhoyono.

Duduk bersimpuh di karpet merah yang menghiasi ruang istirahat Een Sukaesih, Presiden Yudhoyono, mendampingi Een menyanyikan lagu yang liriknya dicari Een melalui mesin pencari itu.

Tentang lagu itu, Presiden Yudhoyono menjelaskan bahwa penciptaan lagu itu berangkat dari kekhawatirannya pada kurangnya lagu anak-anak di saat membanjirnya lagu-lagu dewasa.

Di sela-sela kunjungan kerja ke Sumedang, Jawa Barat, Presiden Yudhoyono mengaku memang secara khusus meluangkan waktu guna mengunjungi Een di rumahnya di Dusun Batu Karut, Cibereum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat itu.

"Alhamdulillah kita dan Ibu Een bisa bertemu kembali," kata Presiden merujuk pada pertemuan sebelumnya dengan Een Sukaesih di Istana Negara para pertengahan 2013.

Ia mengaku bahwa sepekan sebelum memulai kunjungan kerjanya memperoleh informasi jika rumah Een tidak jauh dari lokasi kunjungan kerjanya.

"Diberitahu minggu lalu, tidak jauh dari rumah Ibu Een, wajib itu (singgah)," lanjut Presiden menjelaskan keputusannya untuk singgah di rumah panggung Een yang sederhana.

Bersama dengan Ibu Ani dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu, antara lain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa serta Mensesneg Sudi Silalahi, Presiden bertamu ke rumah Een yang terletak lebih kurang 300 meter dari jalan utama dengan jalanan menanjak.

Duduk di lantai beralaskan karpet merah dalam ruangan berukuran sekitar 4x4 meter tersebut para tokoh itu bercakap-cakap dengan Een yang siang itu mengenakan kerudung berwarna biru.

Sambil terbaring di tempat tidurnya, Een menceritakan perkembangan program pengajaran yang dirintisnya, terutama terkait perkembangan pembangunan rumah pintar yang tengah dibangunnya.

"Kegiatan pembelajaran di sini sekarang Alhamdulillah sudah semakin berkembang. Apalagi dengan bantuannya...anak-anak diberi semangat baru untuk belajar. Kami berterima kasih kepada bapak ibu yang sudah memberi sumbangan," kata Een bertutur tentang Rumah Pintar Al Baroqah.

Menurut Een, rumah pintar yang masih dalam pembangunan itu didesain dalam bentuk panggung terbuka di atas kolam untuk tetap mempertahankan nuansa alam.

Pada kesempatan itu Een juga bertukar pikiran tentang ide untuk memberdayakan masyarakat di desanya yang langsung memperoleh sambutan hangat dari Presiden. Rupanya Een tidak ingin berhenti pada mengajar anak-anak saja.

Mendengar antusiasme guru yang kini telah mendidik 100-an anak itu, Kepala negara kemudian berbagi pengalamannya saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah industri kecil di beberapa daerah.

Melihat semangat Een untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya, seakan-akan tak pernah ada Rheumatoid arthritis yang bersarang di tubuh perempuan yang dilahirkan pada 10 Agustus 1963 itu.

Seakan pula sejak 26 tahun terakhir lulusan IKIP Bandung (Universitan Pendidikan Indonesia) itu tidak harus melepaskan cita-citanya untuk bekerja menjadi guru di sekolah formal karena kelumpuhan.

Siapa sangka jika dibalik tubuhnya yang mungil dan terkesan rapuh, Een menyimpan semangat baja. Tanpa mempedulikan keterbatasan fisiknya Een tetap mengejar keinginannya untuk mengabdi demi bangsa, memberikan sumbangsih bagi negeri. Atau singkat kata berguna bagi bangsa.

Kegigihan Een tidak hanya memperoleh pengakuan dari murid-muridnya yang telah didampinginya hingga banyak di antara mereka telah mampu mencapai pendidikan di universitas, namun juga memperoleh penghormatan dari Presiden Yudhoyono, selaku pemimpin bangsa.

Een yang menerima penghargaan dari sebuah televisi swasta tidak menyangka jika keinginannya untuk bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono dapat terwujud.

Tidak hanya sekali. Setelah secara khusus menjadi tamu Presiden dan Ibu Ani di Istana Negara pada pertengahan 2013. Kini Een justru berkesempatan menjamu sang Presiden.

Di ruang istirahatnya yang hanya berisikan sebuah pembaringan dan lemari pendek yang dipenuhi buku dan piala penghargaan, Een menerima pemimpin negeri itu.

Didampingi kerabatnya dan sejumlah murid-muridnya di luar ruangan, Een berbagi harapannya dengan para tamu istimewanya ditemani hembusan angin yang menerobos melalui jendela di rumah panggungnya.

Ada tawa saat Een berkisah tentang keberhasilan muridnya, ada binar harapan ketika kisah tentang pembangunan rumah pintar tertutur, dan ada keharuan ketika ibu guru itu berbagi tentang makna pengabdian dan kebanggaan.

Dan dibalik kebangga Een memajang foto bersamanya dengan Presiden dan Ibu Ani di Istana Negara di dinding biliknya, ibu guru dari Sumedang itu memberi makna baru akan sebuah kebanggaan.

Kebanggaan menjadi anak bangsa dalam bentuk pengabdiannya yang tanpa batas.

Oleh GNC Aryani
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar