"Curhat" dari daerah tertinggal soal minimnya layanan kesehatan

"Curhat" dari daerah tertinggal soal minimnya layanan kesehatan

foto ilustrasi - Seorang ibu menggendong anaknya melintas usai penyerahan bantuan mobil ambulans di Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat (arsip/ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang)

Jakarta (ANTARA News) - Beberapa perwakilan daerah tertinggal berbagi cerita mengenai layanan kesehatan di daerah mereka Dalam Dialog Perdesaan Sehat yang bertajuk "Distribusi dan Penempatan Tenaga Kesehatan di Daerah Tertinggal" di Jakarta, Rabu.

"Ada puskesmas yang tidak punya dokter, terutama di daerah kepulauan, kadang-kadang nama dokternya ada, tapi orangnya tidak ada," kata Ahmad Sudirin dari Dinas Kesehatan Bangka Belitung dalam acara yang diadakan di Jakarta Pusat, Rabu.

Ia berharap, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dapat memenuhi kebutuhan dokter dan perawat di puskesmas daerah-daerah tertinggal.

Sementara itu, Rany Wulan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Garut menyebutkan, sebagaian besar dokter di daerahnya merasa kekurangan gaji.

"Minimnya tunjangan dari daerah mengurangi minat dokter untuk bertugas di daerah terpencil, sehingga pelayanan kesehatan semakin minim," katanya.

Menjawab "curahan hati" perwakilan dari sejumlah daerah tersebut, Tritarayati selaku Kepala Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDMK menyatakan "kami akan menempatkan 6.000 dokter yang baru lulus ke daerah-daerah terpencil. Delapan bulan di rumah sakit, empat bulan di puskesmas. Dan akan terus diperbaiki mengenai fasilitas dan insentif mereka," katanya.

Penugasan tersebut, tambahnya, sedang diupayakan untuk ditingkatkan menjadi minimal dua tahun, karena saat ini ada sekitar 10 persen daerah tertinggal yang belum memiliki dokter.

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar