"Ronggeng Dukuh Paruk" dikonversi ke buku audio

"Ronggeng Dukuh Paruk" dikonversi ke buku audio

Penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari saat hadir dalam jumpa pers penayangan perdana film "Sang Penari" di Jakarta, Rabu (2/11). Film yang terinspirasi dari novel berjudul "Ronggeng Dukuh Paruk " karya Ahmad Tohari ini menceritakan tentang drama percintaan dengan setting pergulatan politik tahun 1960-an. (FOTO ANTARA/Teresia May)

Jakarta (ANTARA News) - Trilogi "Ronggeng Dukuh Paruk" karya Ahmad Tohari dikonversi menjadi buku audio.

Buku audio berbahasa Indonesia ini dinarasikan oleh seniman Butet Kertaredjasa. Butet membacakan tiga buku ("Catatan Buat Emak", "Jantera Bianglala", dan "Lintang Kemukus Dini Hari") berdurasi 23 jam. Pecinta sastra Indonesia diajak menyelami kisah Srintil ditemani musik yang diaransemen oleh Darno Kartawi.

Sang penulis mengatakan tujuannya membuat buku ini adalah agar perasaan dan kesaksiannya terhadap peristiwa tahun 65 dapat dijadikan pelajaran dan tidak terulang lagi.

"Persaksian ini supaya bisa disaksikan sebanyak mungkin manusia terutama generasi muda," kata Tohari saat peluncuran buku audio "Ronggeng Dukuh Paruk" di Galeri Indonesia Kaya, Jumat (7/3) malam.

Butet perlu waktu setahun merekam buku audio ini, dari tahun 2012-2013. Dalam satu hari, ia mampu menyelesaikan 20 halaman.

"Orang bisa menikmati sambil menyetir mobil, masak. Proses sastra semakin dekat ke masyarakat," kata Butet.

Berbeda dengan monolog, membaca novel membuat Butet setia kepada teks. Ia tidak berimprovisasi saat membacakan teks tersebut.

Buku audio "Ronggeng Dukuh Paruk" dibuat oleh Digital Archipelago. Christina Nikolic Multi dari Digital Archipelago mengatakan buku ini didistribukan melalui aplikasi di ponsel. Buku ini dijual seharga Rp119.000 untuk trilogi dan Rp49.000 untuk satuan, selama sebulan masa promosi. Setelah itu buku akan dijual dengan harga Rp139.000 dan Rp59.000.

"Ronggeng Dukuh Paruk" menceritakan kisah cinta penari ronggeng Srintil dengan Rasus temannya sejak kecil. Rasus menjadi tentara, meninggalkan Dukuh Paruk sejak Srintil menjadi ronggeng, menggantikan penari terakhir yang meninggal belasan tahun silam.

Kisah Srintil dan Rasus berlatar Dukuh Paruk yang terseret arus konflik politik pada tahun 1965. (*)

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar