Jihad Islam nyatakan gencatan senjata kini diberlakukan di Gaza

Jihad Islam nyatakan gencatan senjata kini diberlakukan di Gaza

Sejumlah kantor pemerintahan hancur setelah apa yang dikatakan sejumlah saksi mata sebagai serangan udara Israel di Gaza, Palestina, Kamis (21/11). Serangan udara Israel mengguncang Jalur Gaza dan roket Palestina menghantam daerah perbatasan saat Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menggelar pertemuan di Yerusalem Rabu dini hari, meminta dilaksanakannya gencatan senjata yang dapat menahan serangan pasukan angkatan darat Israel. (REUTERS/Mohammed Salem)

Mereka tahu bahwa jika penembakan terus dilakukan, reaksi Israel akan sangat keras, dan hal terakhir yang diinginkan Jihad Islam dan Hamas kini adalah peningkatan dan pemburukan kekerasan."
Kota Gaza (ANTARA News) - Kelompok pejuang Jihad Islam menyatakan, Kamis, gencatan senjata yang ditengahi Mesir diberlakukan untuk menghentikan konfrontasi yang terus berlangsung dengan Israel.

"Gencatan senjata yang ditengahi Mesir berlaku mulai pukul 14.00 (pukul 19.00 WIB)," kata juru bicara Jihad Islam Daud Shihab kepada AFP.

Namun, seorang pejabat Israel mengatakan, ia tidak tahu-menahu tentang pengaturan gencatan senjata.

"Mereka tahu bahwa jika penembakan terus dilakukan, reaksi Israel akan sangat keras, dan hal terakhir yang diinginkan Jihad Islam dan Hamas kini adalah peningkatan dan pemburukan kekerasan," katanya kepada AFP.

Israel dan pejuang Jihad Islam terlibat dalam pertikaian selama 24 jam terakhir, dimana puluhan roket ditembakkan ke Israel dan pesawat-pesawat tempur melancarkan sekitar 30 serangan ke sejumlah sasaran di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas.

Sejauh ini belum ada korban di kedua pihak.

Ketegangan di dan sekitar Gaza meningkat setelah masa relatif tenang selama setahun.

Peristiwa besar mematikan terakhir di Gaza terjadi pada 1 November ketika empat pejuang Hamas tewas dan lima prajurit Israel cedera selama operasi militer untuk menghancurkan sebuah terowongan Gaza-Israel.

Israel dan kelompok pejuang Hamas yang menguasai Jalur Gaza terlibat dalam perang delapan hari pada November 2012 yang menewaskan 177 orang Palestina, termasuk lebih dari 100 warga sipil, serta enam orang Israel -- empat warga sipil dan dua prajurit.

Kekerasan itu meletus pada 14 November, dengan pembunuhan komandan militer Hamas Ahmed Jaabari oleh Israel.

Selama operasi delapan hari itu, militer Israel menyatakan telah menghantam lebih dari 1.500 sasaran, sementara pejuang Gaza menembakkan 1.354 roket ke Israel, 421 diantaranya disergap oleh sistem anti-rudal Iron Dome.

Perjanjian gencatan senjata Hamas-Israel dicapai pada 21 November 2012, sehari setelah diplomasi bolak-balik yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon -- yang tercoreng oleh kekerasan lintas batas yang semakin mematikan antara Israel dan para pejuang di Gaza.

Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun 2007 setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmud Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari.

Sejak itu wilayah pesisir miskin tersebut semakin dibloklade oleh Israel. Palestina pun menjadi dua wilayah kesatuan terpisah -- Jalur Gaza yang dikuasai Hamas dan Tepi Barat yang berada di bawah pemerintahan Abbas. Kini kedua kubu tersebut telah melakukan rekonsiliasi.

Uni Eropa, Israel dan AS memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris.


Penerjemah: Memet Suratmadi

Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Indonesia tentang AS soal permukiman Israel di Tepi Barat

Komentar