Petani NTT diimbau kembangkan verietas "inpari"

Petani NTT diimbau kembangkan verietas "inpari"

ilustrasi - Petani encabut benih unggul "Inpari Sidenuk" hasil rekayasa Kemenristek dan Badan Tenaga Atom Nasional. Varietas tersebut memiliki karakteristik batang yang tinggi sehingga cocok untuk ditanam di rawa dengan potensi hasil 8 ton gabah kering perhektar serta sudah bisa dipanen dalam tempo 103 hari. (FOTO ANTARA/Asep Fathulrahman)

Kupang (ANTARA News) - Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nusa Tenggara Timur, Amirudin Pohan, mengimbau petani sawah lahan basah agar mengembangkan jenis padi "Inbrid Padi Irigasi" atau Inpari sebagai varietas unggul.

"Sejak 2008 penamaan padi berubah. Untuk padi sawah dinamakan Inpari (Inbrid Padi Irigasi)," katanya di Kupang, Selasa, terkait dengan solusi yang ditawarkan pemerintah kepada para petani untuk meningkatkan produksi dan menjaga ketahanan pangan.

Dia menyebut varietas inpari seperti Inpari 1-10, Inpari 11, Inpari 12 dan Inpari 13 berdasarkan uji laboratorium memiliki sejumlah keunggulan seiring dengan perkembangan musim dan iklim.

"Pada 2010/2011 untuk varietas Inpari, INPARI 13-lah yang banyak ditanam petani. Ini sesuai dengan target pemerintah agar INPARI 13 menggeser varietas ciherang yang paling banyak ditanam petani," katanya.

Pada 2011 Balai Besar Penelitian Padi telah mengeluarkan varietas terbaru dengan keunggulan yang lebih baik seperti Inpari 14 Pakuan, Inpari 15 Parahyangan, Inpari 16 Pasundan, Inpari 17, Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20, Inpari 21.

Demikian pula untuk 2012 telah dilepas beberapa varietas padi, antara lain inpari 22-29. Dan untuk Padi Rawa ( Inpara ) juga banyak dilepas pemerintah seperti Inpara 1-8. Demikian pula untuk padi gogo (inpago)yakni Inpago 1-5.

Dia menyebut November 2013, kerjasama Badan Litbang Pertanian yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT dengan Kodim Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) berhasil memproduksi benih sumber padi varietas inpari 10.

"Setelah dilakukan panen simbolis oleh Kasdam Udayana (7 November 2013), maka selanjutnya benih tersebut diproses menjadi benih berlabel ungu," katanya.

Hasil pengembalian dengan petani penangkar sebanyak satu ton kepada BPTP/Kodim selanjutnya diserahkan kepada petani lainnya untuk dikembangkan menjadi benih (label biru).

"Varietas ini cocok dikembangkan di sejumlah titik di wilayah NTT didasarkan pada karakteristik tanah dan lingkungan," katanya.

Pewarta: Hironimus Bifel
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Mencari varietas unggul melalui kontes durian

Komentar