"Melati gundul" dincar pembeli mancanegara

"Melati gundul" dincar pembeli mancanegara

Sopiah (50) memetik tanaman bunga melati di Desa Peleman,Kabupaten Tegal, Jateng, Selasa (7/2). Seorang buruh mampu memetik melati sebanyak 3 kilogram hingga 7 kilogram per hari dengan upah Rp 5600 perkilo. (FOTO ANTARA/Oky Lukmansyah)

...untuk agama Hindu biasanya minta yang kuncup polos ada mahkotanya. Kalau yang Buddha biasanya yang kuncup gundul tanpa mahkota

Tegal (ANTARA News) - Sebagai salah satu komoditas hortikultura yang diandalkan di pasar ekspor, bunga melati rupanya memiliki peminatnya masing-masing.

Negara yang paling banyak mengimpor melati Indonesia adalah negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu atau Buddha.

Salah satu petani bunga melati di Maribaya, Tegal, Wiryono Ngudi mengatakan ada perbedaan permintaan antara dua negara tersebut.

Untuk ekspor, varietas melati yang banyak diminati adalah melati emprit dan melati kebo.

"Dari kedua varietas itu, untuk agama Hindu biasanya minta yang kuncup polos ada mahkotanya. Kalau yang Buddha biasanya yang kuncup gundul tanpa mahkota," kata Wiryono.

Wiryono mengatakan penanaman bunga melati sangat tergantung dengan ada atau tidaknya sinar matahari.

"Semakin banyak sinar matahari maka kualitas melati semakin bagus. Warna bunga semakin putih dan semakin wangi," kata dia.

Sayangnya, Wiryono mengaku sumber daya manusia para petani terutama dalam hal sistem pertanian melati di Indonesia masih kalah saing dengan pertanian di negara tetangga seperti Thailand.

"Di Thailand, jarak tanam 1x1,5 meter. Di sini jaraknya 60 x 20 meter sehingga tanaman terinjak-injak dan sinar matahari tidak bisa masuk dengan sempurna, akhirnya bunga tidak tumbuh maksimal," katanya.

Wiryono mengaku, sebagai petani melati dirinya hanya mendapatkan untung 30 persen dari penjualan melati.

"Sisanya sudah dianggarkan untuk bayar pemetik Rp6.000 belum untuk ongkos produksi yang lain," katanya.

Harga melati saat ini dari petani Rp16.000 hingga Rp17.000. Untuk harga pabrik Rp20.000 sampai Rp22.000. Sementara untuk harga eksportir Rp27.000 hingga Rp29.000.

Kabupaten Tegal merupakan salah satu sentra produksi bunga melati di Jawa Tengah dengan luas lahan panen mencapai 371,3 hektare.
 
Pada 2013 produksi bunga melati Tegal sebesar 9.456 ton yang dihasilkan dari tiga kecamatan; Kecamatan Keramat, Kecamatan Warureja dan Kecamatan Suradadi.

Ekspor bunga melati dari Tegal telah dimulai sejak 2002 dengan permintaan luar negeri yang terus meningkat. Pada 2013 volume ekspor dari Kabupaten Tegal mencapai 3-4 ton per hari, bahkan pada hari-hari besar keagamaan dapat mencapai 10 ton per hari.
(I027)


Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar