Dibandingkan bank BUMN, BTN kurang efisien

Dibandingkan bank BUMN, BTN kurang efisien

Karyawan membenahi papan suku bunga kredit di kantor Bank Tabungan Negara (BTN), Jakarta, Kamis (24/4). Keputusan pemerintah menunda akusisi BTN menyebabkan anjloknya saham bank tersebut, tercatat saham BTN turun sebesar 6,51 persen menjadi Rp 1.220 pada penutupan sesi I. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

... bank pelat merah tersebut kurang efisien atau angka BOPO BTN ini jauh lebih tinggi dibandingkan Bank Mandiri 67,66 persen, BNI 67,1 persen dan BRI 60,58 persen... "
Jakarta (ANTARA News) - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menjadi bank yang kurang efisien dibandingkan tiga bank BUMN lainnya, lantaran rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang tinggi.

Sehingga perlu perubahan struktur permodalannya agar mampu bersaing dan tumbuh menjadi bank yang kuat.

Pengamat pasar modal, Edwin Sinaga, di Jakarta, Senin, mengatakan, BOPO BTN per Desember 2013 mencapai 82,19 persen menandakan bank pelat merah tersebut kurang efisien atau angka BOPO BTN ini jauh lebih tinggi dibandingkan Bank Mandiri 67,66 persen, BNI 67,1 persen dan BRI 60,58 persen.

Menurut Edwin, agar BOPO BTN turun maka diperlukan tambahan modal usaha. Tambahan modal ini bisa datang dari pemerintah ataupun melalui pinjaman.

Namun cara yang paling baik adalah dengan diakuisisi oleh bank BUMN lain semisal Bank Mandiri.

Dengan diakuisisinya BTN oleh Mandiri akan menambah besar bisnis BTN sehingga angka BOPO bisa menjadi lebih kecil atau bisa lebih efisien.

"Memperbesar bisnis tanpa melibatkan dana dari pemerintah (melalui akuisisi) adalah yang paling bagus," kata dia.

Edwin menambahkan BTN juga tidak mampu mengkapitalisasi aset karyawannya secara maksimal guna memperbesar perolehan laba bersihnya. Hal ini terlihat dari kontribusi yang diberikan setiap karyawan BTN ke perolehan laba bersih perusahaannya.

Setiap karyawan BTN hanya mampu menyumbang laba bersih sebesar Rp 195 juta, jauh dibandingkan karyawan Bank Mandiri yang mampu menyumbang Rp 554,09 juta, BNI Rp 347 juta, dan BRI sebesar Rp 260,5 juta.

Perhitungan kontribusi karyawan atas laba bersih tersebut dihitung dari perolehan laba bersih bank dibagi jumlah karyawan. Dengan laba bersih BTN pada 2013 sebesar Rp 1,56 triliun dan jumlah karyawan sebanyak 8.011 orang, diperoleh rasio laba bersih per karyawan BTN hanya sebesar Rp 195 juta.

Artinya, satu orang karyawan BTN hanya mampu menghasilkan laba bersih Rp 195 juta.

Di sisi lain, Bank Mandiri merupakan bank yang karyawannya mampu mengontribusi laba bersih paling besar. Dengan jumlah karyawan sebanyak 33.982 orang dan perolehan laba bersih 2013 sebesar Rp 18,83 triliun, tiap karyawan Bank Mandiri mampu menyumbang perolehan laba bersih ke perusahaannya sebesar Rp 554,09 juta.

Di posisi kedua dan ketiga karyawan bank dengan produktivitas tertinggi ditempati oleh BNI dan BRI. Setiap karyawan BNI mampu menyumbang perolehan laba bersih sebesar Rp 347 juta, dihitung dari pembagian laba bersih 2013 sebesar Rp 9,05 triliun dibagi 26.100 orang karyawan bank tersebut.

Sedangkan karyawan BRI mampu memberikan kontribusi laba bersih sebesar Rp 260,5 juta, dihitung dari pembagian laba bersih 2013 sebesar Rp 21,16 triliun dibagi 81.238 orang karyawan.

Pewarta: Budi Suyanto
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2014

2000 Rumah bersubsidi untuk warga kurang mampu

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar