Upaya Denny JA mewujudkan Indonesia Tanpa Diskriminasi

Upaya Denny JA mewujudkan Indonesia Tanpa Diskriminasi

Halaman Muka Buku "Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi (Data, Teori, dan Solusi)" karya Denny JA, PhD, Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang diluncurkan di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (22/4-2014). (istimewa)

Jakarta  (ANTARA News) - Denny JA, yang dikenal sebagai pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) berupaya menyumbangkan pikiran untuk mewujudkan Indonesia tanpa diskriminasi melalui karya bukunya "Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi" yang diterbitkan Inspirasi.co, awal Maret 2014.

Buku yang berisi 5 bab dan 335 halaman itu terdapat sepenggal puisi, "Jika masyarakat sudah penuh keadilan, perjuangan tak lagi diperlukan. Karena ketidakadilan sangat terasa, perjuangan bukan saja diperlukan, tapi juga diharuskan". (hal 288)

Demikian sepenggal puisi di dalam sebuah buku yang penuh dengan data statistik berisi teori dan solusi tersebut ditulis oleh Denny JA. Tokoh yang fenomenal dalam mempelopori tiga bidang dunia publik, pertama, Pelopor survei opini publik dan konsultan politik. Kedua, pelopor puisi esai yaitu genre baru dalam sastra. Ketiga, pelopor gerakan "Indonesia Tanpa Diskriminasi".

Diskriminasi dalam buku ini juga bisa diartikan sebagai ketidak adilan. Ketidakadilan yang masih ada perlu perjuangan untuk menegakkan keadilan, bukan hanya perlu tapi juga harus. Sebab Indonesia Tanpa Diskriminasi menjadi impian masyarakat Indonesia yang plural. Bagaimana mencapai kondisi Indonesia tanpa diskriminasi dan alasan utama mengapa Indonesia harus menjadi negara tanpa diskriminasi?

Buku ini berusaha menjawab pertanyaan itu dengan ilmiah, dan memberikan solusi yang bisa diterapkan di Indonesia. Jawaban itu berasal dari penelitian mendalam yang dilakukan oleh Denny JA terhadap negara lain yang telah lebih dulu mewujudkan kondisi negara tanpa diskriminasi, dengan susah payah dan dalam waktu yang sangat lama. Pelajaran paling penting tentu saja dipetik dari pengalaman Amerika Serikat, negara yang kini mempunyai presiden dari warga kulit hitam, golongan yang dulu mereka jadikan budak.

Denny JA memang mulai melangkahkan kaki dalam melakukan riset dan kajian melalui ikhtiar bermimpi, yaitu bermimpi yang indah tentang Indonesia di masa depan. Mimpi yang akan datang masa di mana tidak ada diskriminasi.Sama halnya mimpi Martin Luther King memperjuangkan hak warga kulit hitam yang mengalami diskriminasi, warga yang dianggap kelas dua. Pidato King merupakan pidato anti- diskriminasi terhebat di Amerika dalam memperjuangkan kelas sosial walau akhirnya 4 April 1968 mati ditembak.

Buku ini disajikan dengan bahasa yang enak dibaca walau disajikan dengan data-data statistik yang khas Denny JA sang pelopor survei opini publik. Buku ini dibagi dalam 5 bab yaitu pertama pertanyaan mengapa perlu Indonesia Tanpa Diskriminasi, Bab kedua, menjelaskan Data diskriminasi di Indonesia dan Dunia. Bab ketiga, menjelaskan penyebab diskriminasi. Bab keempat, menjelaskan pengalaman negara-negara maju dalam melawan diskriminasi. Bab kelima, Roadmap menuju Indonesia tanpa diskriminasi.

Denny JA mengungkapkan dalam buku ini, rahasia yang menjadikan Amerika Serikat –juga beberapa negara lain- bebas dari diskriminasi adalah dua faktor penting yaitu faktor I (Infrastruktur, berupa undang-undang dan peraturan lainnya), serta faktor A (aktor yang selalu berjuang menghapus diskriminasi). Faktor I menyumbang 55% dan faktor A menyumbang 45% membentuk negara tanpa diskriminasi.

Faktor itu dirumuskan dalam persamaan matematika: ND = I 55% + A 45%. Kombinasi dua faktor ini yang mampu mengubah Amerika menjadi negara yang bebas dari praktik diskriminasi. Di buku ini dijelaskan dengan rinci siapa sang aktor, dan apa peraturan yang mendukung. Penjelasan disajikan dengan rinci dan mudah dipahami.

Di samping teori dalam buku yang penuh dengan data dan solusi, Denny JA juga konsisten melakukan gerakan di masyarakat. Sehingga Gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi yang dipelopori pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), mendapat respon positif. Gerakan tersebut memperoleh "Democracy Award"  dalam Rakyat Merdeka Award 2013 sebagai gerakan yang menginspirasi.

Penghargaan tersebut diberikan kepada Gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi oleh Rakyat Merdeka  pada Rabu (20/3/2013) di Jakarta dalam acara yang dikemas sebagai Malam Budaya Rakyat Merdeka 2013 bertema "Beri Daku Sumba" yang terinspirasi dari puisi karya penyair senior, Taufiq Ismail.

Buku ini bisa menjadi momentum penting bagi paham sosial dalam membuka tradisi baru dunia akademik. Akan lahir begitu banyak riset mengenai paham sosial terkait dengan tema anti diskriminasi dari berbagai sudut dan wilayah. Riset dalam buku ini bisa bersinergi dan berakumulasi.

Puncak dari dunia riset lahirnya sederetan teori sosial yang bisa menjelaskan paham itu dan dikaitkan dengan aneka variabel sosial. Puncak dari puncaknya teori sosial adalah kemampuannya memprediksi dan memberikan roadmap. Cara mencapai visi sosial itu, setelah aneka variabel yang mempengaruhinya diketahui melalui sebuah riset yang valid. (hal 287).

Sehingga lahir begitu banyak gerakan sosial kemasyarakatan yang memperjuangkan visi sosial ini. Gerakan sosial itu bisa saja terjadi secara sporadis dan spontan. Bisa juga gerakan sosial itu didesain secara sistematis. Puncak dari gerakan sosial adalah perubahan realitas, perubahan paradigma.

Maka layak buku ini dijadikan referensi oleh siapa saja rakyat Indonesia, bahkan seorang presiden pun perlu untuk mempunyai perspektif anti- diskriminasi. Seperti disampaikan Direktur Yayasan Denny JA (YDJA) Novriantoni Kahar di Jakarta ketika Launching buku di kantor LSI Rawamangun (22 April 2014), mengatakan, buku itu banyak merekam data anti-diskriminasi, sehingga diharapkan menjadi referensi bagi capres nantinya dalam memutuskan kebijakan program anti-diskrimnasi.

Dalam buku tersebut juga dimuat tentang perbandingan tingkat diskriminasi agama di berbagai negara (hal 92). Di Indonesia, tingkat diskriminasi agama masih di angka 35,2 persen yang diukur dari mereka yang tidak mau hidup bertetangga dengan orang berbeda agama. Tingkat diskriminasi agama paling rendah adalah di negara Swedia (1,3 persen). Paling tertinggi adalah Yordania (43,0 persen). Jika kita melihat rata-rata tingkat diskriminasi di dunia adalah di angka 17,5 persen.

Buku ini memuat tiga tahap (roadmap) menuju Indonesia tanpa diskriminasi. Tahap pertama atau tahap jangka pendek adalah membatalkan semua Peraturan daerah (Perda) yang diskriminatif. Tahap kedua atau tahap jangka menengah adalah penguatan aparat hukum dalam melindungi keberagaman, dan tahap ketiga atau tahap jangka panjang adalah dengan cara penguatan kultur anti diskriminasi melalui "civil society" dan pendidikan.

Buku ini juga diniatkan untuk memberi arah sebuah gerakan sosial. Di Indonesia banyak sekali gerakan sosial yang terjadi  tanpa satu buku putih. Banyak sekali terjadi aktivisme tanpa roadmap perjuangan. Penulis ingin ikut membuat tradisi baru gerakan sosial, dengan menyediakan roadmap, data, dan tahapannya. Sebuah gerakan sosial bukan saja akan lebih efisien dan terarah, tapi juga disadari oleh aktivisnya sebagai bagian dari peta besar yang jelas. (hal 288).

Diskriminasi adalah bentuk ketidakadilan. Agama, ras, gender, bahkan orientasi seksual sebagian besar produk dari kelahiran dan lingkungan awal kita. Tak pernah diminta, seorang bayi terlahir menjadi seorang wanita, atau berkulit hitam, atau karena gennya, ia memiliki orientasi seksual yang berbeda. Adalah tidak adil jika seorang didiskriminasi karena ia memiliki identitas sosial di atas, yang sebagian besar bukan karena pilihan bebasnya. (hal 289)

Perjuangan menuju "Indonesia Tanpa Diskriminasi" tak lagi diperlukan jika sudah mempraktikkan kehidupan sosial di Indonesia yang tanpa diskriminasi. Namun justru karena trend kekerasan atas diskriminasi meningkat, maka perjuangan menuju "Indonesia tanpa Diskriminasi" bukan saja perlu, tetapi juga harus. (hal 290)

Sebagai catatan akhir, saya tidak bermaksud untuk mengrkritisi buku ini yang sudah lengkap memotret dari berbagai aspeknya. Namun ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan, bahwa diskriminasi dan kekerasan terhadap kelompok-kelompok minoritas masih saja berlangsung di Indonesia. Selain akibat penegakan hukum lemah, kondisi itu diperparah dengan adanya kelompok-kelompok politik yang bermain dan berusaha memanfaatkan sentimen perbedaan untuk kepentingannya.

Sekecil apapun sumbangan yang diberikan buku ini, Denny JA telah berikhtiar mulai meletakkan "satu batu bata" bagi dinding besar perubahan menuju "Indonesia Tanpa Diskriminasi".

Namun, ada kalanya ketika diskriminasi dilakukan oleh minoritas yang mempunyai kekuatan modal terhadap mayoritas warga yang kekurangan, maka itu perlu dilakukan perjuangan untuk menegakkan keadilan juga. Bagaimanapun, buku ini layak menjadi bacaan dan perbandingan dan bisa menjadi paham sosial yang kuat dalam menawarkan visi masyarakat yang koheren.(*)

Pewarta: Ruslan Burhani
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar