counter

Warga Rohomoni gelar adat "Maasiri Rumah Sigit"

Warga Rohomoni gelar adat "Maasiri Rumah Sigit"

Tradisi Maasiri Rumah Sigit Warga Negeri Rohomoni, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, mengikuti tradisi Maasiri Rumah Sigit atau pergantian atap Masjid Tua Uli Hatuhaha, di Desa Rohomoni, Rabu (21/5). Tradisi pergantian atap Masjid yang dibangun pada abad 16 Masehi tersebut dilakukan setahun sekali sebagai simbol penyucian dan pembersihan diri menyambut bulan Ramadhan. (ANTARA FOTO/ Jimmy Ayal).

Ambon (ANTARA News) - Warga Negeri Rohomoni, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah menggelar tradisi adat tahunan "Maasiri Rumah Sigit", yakni mengganti atap Masjid tua Uli Hatuhaha di Negeri mereka secara bergotong royong.

Antara yang mengikuti tradisi adat tersebut, Kamis, melaporkan, ribuan warga Negeri Rohomoni bergotong royong mengganti atap masjid tua itu, yang dibangun pada abad 16 Masehi.

Masjid dengan konstruksi kayu tanpa menggunakan paku itu dibangun dengan desain kayu-kayu bangunannya disusun dan pada setiap sambungan hanya diikat dengan menggunakan "gemutu" (ijuk pohon aren).

Sedangkan atapnya terbuat dari anyaman daun sagu yang disusun dengan tingkat kerapatan dan jarak tertentu agar tahan lama, dan diselingi dengan serat ijuk.

Masjid tertua di Pulau Haruku tersebut merupakan tempat ibadah pertama yang dibangun di Pulau Haruku oleh lelulur dari lima Negeri, yakni Rohomoni, Kabar, Kailolo, Pelauw dan Hulaliu.

Prosesi pergantian atap masjid tua itu berlangsung selama empat hari sejak Senin (19/5).

Tradisi sisih atap (mengganti atap) yang dilakukan setahun sekali tersebut diawali prosesi doa dan ritual adat oleh para pemangku adat.

Tidak sembarang orang diperbolehkan naik ke atap masjid untuk memotong atap yang rusak.

Hanya seorang tokoh adat dituakan yang diperbolehkan sebagai orang pertama naik ke atas atap Masjid.

Tokoh adat akan memanjatkan doa barulah memotong atap pertama.

Setelah itu barulah warga beramai-ramai naik untuk membongkar atap yang rusak, kemudian bergotong royong menggantinya dengan atap yang baru dibuat.

Para pemuda berbondong-bondong naik ke atas untuk memasang atap, sedangkan anak-anak dan remaja bertugas mengangkat daun atap yang rusak dari areal sekitar masjid untuk dibung.

Sedangkan orang tua di Negeri adat tersebut beramai-ramai menganyam daun sagu untuk menjadi atap.

Daun pohon sagu diperoleh dari hutan atau dusun masing-masing warga dan telah dipotong sepekan sebelumnya.

Kaum wanita dan ibu-ibu bertugas menyediakan "Halapinya" atau disebut nasi piring, yakni berbagai jenis makanan baik berupa hasil kebun, sayuran, buah-buahan, ikan dan daging maupun kue-kue yang telah dimasak untuk disantap secara bersama-sama oleh laki-laki dan anak-anak yang telah bergotong royong dalam prosesi adat tersebut.

Berbagai jenis makanan yang disaiapkan tersebut disajikan diatas tikar yang digelar pada rumah atau Soa tertentu, barulah laki-laki dan anak-anak duduk mengelilinginya untuk makan bersama-sama.

Tanggung renteng
Sesuai ketentuan adat yang dikeluarkan tokoh adat atau Raja, setiap pria dan wanita dewasa diwajibkan menanggung lima "bengkawang" atau lembar atap, tiga diantaranya berukuran panjang dan dua berukuran pendek.

Budaya tanggung-renteng yang tersirat sejak turun-temurun tersebut dimaksudkan agar tidak memberatkan, dan setiap warga ikut memikul beban kebutuhan ritual adat tersebut secara bersama-sama.

Warga Negeri tersebut yang merantau juga ikut menyumbang atap (sesuai ketentuan) untuk keperluan ritual adat tersebut, sebagai bentuk tanggung jawab dan kecintaan untuk membangun negerinya.

"Kewajiban menanggung atap, telah membudaya dan sudah membudaya di kalangan warga Negeri Rohomoni baik yang tinggal di kampung maupun telah merantau bertahun-tahun. Budaya ini berlangsung setiap tahun," kata Raja Negeri Rohomoni, Moh Jusuf Sangadji.

Sedikitnya 10.000 hingga 15.000 bengkawang atap dihabiskan dalam prosesi adat yang berlangsung setiap tahun tersebut.

Atap yang terkumpul itu juga secara bersamaan digunakan untuk mengganti atap Baileo (rumah adat), masjid kecil serta "sabuah Negeri" atau tempat pertemuan warga.

Moh Jusuf yang akrab disapa warga Negeri Tete Raja No tersebut menegaskan, tradisi adat tersebut digelar setiap tahun terutama menjelang datangnya bulan Suci Ramadhan.

"Tradisi adat ini berlangsung setiap tahun sebagai bentuk penyucian dan pembersihan diri warga Negeri dalam menyambut kedatangan bulan Suci Ramadhan," ujarnya.

Warisan budaya peninggalan leluhur tersebut pun dilakukan untuk mempererat tali atau hubungan persaudaraan dan kekeluargaan warga negeri tersebut. 

Oleh Jimmy Ayal
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar