Korban tewas Gaza lampaui 1.200 di tengah pembicaraan gencatan senjata

Korban tewas Gaza lampaui 1.200 di tengah pembicaraan gencatan senjata

Ilustrasi - Krisis Gaza (Berbagai sumber/Grafis)

Warga Israel tidak bisa hidup dengan ancaman roket dan terowongan-terowongan kematian dari atas dan dari bawah."
Kota Gaza, Wilayah Palestina (ANTARA News) - Organisasi Pembebasan Palestina menyatakan siap untuk gencatan senjata Gaza dan Washington mengatakan, Israel Selasa meminta bantuan untuk meredakan konflik 22 hari yang telah menewaskan lebih dari 1.200 orang di wilayah tersebut.

Namun pemerintah Israel tetap diam terhadap masalah ini sambil terus melakukan pemboman, meningkatkan jumlah kematian setelah lebih dari tiga pekan meluncurkan serangan militer terhadap gerilyawan yang menembakkan roket, lapor AFP.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah meminta bantuan terbaru dari Amerika dalam mencoba untuk menengahi gencatan senjata.

"Tadi malam kami berbicara, dan perdana menteri berbicara kepada saya tentang gagasan dan kemungkinan satu gencatan senjata. Dia ajukan itu kepada saya, karena ia telah konsisten," kata Kerry.

Diplomat tertinggi AS itu menambahkan bahwa Netanyahu telah mengatakan ia "akan menyetujui gencatan senjata yang memungkinkan Israel untuk melindungi diri terhadap terowongan (pejuang Palestina) dan jelas tidak dirugikan oleh pengorbanan besar yang telah mereka buat sejauh ini."

Tidak ada komentar dari pemerintah Israel.

Sekjen PLO Yasser Abed Rabbo mengatakan setelah berkonsultasi dengan Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok militan utama di Gaza, bahwa ada "keinginan untuk gencatan senjata dan gencatan senjata kemanusiaan selama 24 jam".

Satu delegasi gabungan yang dipimpin oleh Presiden Palestina Mahmud Abbas akan melakukan perjalanan ke Kairo untuk mengambil langkah-langkah berikutnya.


Sikap Bersatu

"Ini adalah bukti bahwa kita memiliki sikap Palestina bersatu," kata Abed Rabbo. "Delegasi itu akan menuju ke Kairo di bawah payung PLO diwakili oleh presiden Mahmud Abbas."

Hamas mengatakan, sejauh ini belum sepakat dengan gencatan senjata baru dan sedang menunggu Israel untuk menunjukkan tangannya terlebih dahulu.

"Ketika kita memiliki komitmen Israel ... pada gencatan senjata kemanusiaan, kita akan melihat ke dalamnya, tetapi kami tidak pernah akan mendeklarasikan gencatan senjata dari pihak kami sementara tentara pendudukan terus membunuhi anak-anak kita," kata juru bicara Hamas, Sami Abu Zukhri di Facebook.

Mohammed Deif, kepala sayap militer gerakan itu, menggemakan sikapnya.

"Tidak ada gencatan senjata tanpa berhenti agresi dan akhir dari pengepungan," katanya dalam pernyataan yang disiarkan di radio dan televisi Hamas.

Serangkaian gencatan senjata dalam beberapa hari terakhir telah gagal, karena kedua pihak tampak lebih bertekad untuk melakukan pertempuran.

Serangan-serangan Israel, yang dimulai pada 8 Juli, telah menewaskan lebih dari 1.200 warga Palestina, kebanyakan warga sipil menurut PBB, dan melukai lebih dari 7.000 lainnya.

Lima puluh enam nyawa melayang di sisi Israel, semua tentara kecuali tiga dari mereka.


Banjir Bom

Dalam pertumpahan darah terbaru, sedikitnya 13 warga Palestina tewas oleh serangan Israel di Jabaliya di Jalur Gaza utara pada Selasa, kata Juru Bicara Pelayanan Darurat Ashraf al-Qudra.

Pada Senin malam, banjir bom menghujani Gaza, setelah gencatan senjata rentan untuk menandai akhir bulan puasa Ramadhan dan libur Hari Raya Idul Fitri.

Peluru-peluru mortir yang ditembakkan oleh tank-tank melanda pembangkit listrik terbesar di Gaza, membawanya berhenti dan memperburuk pemadaman yang sudah tersebar luas.

Serangan udara juga ditargetkan rumah kosong pemimpin Hamas Ismail Haniya di kamp pengungsi Shati di Kota Gaza.

Penggerebekan terjadi setelah Israel mengumumkan lima tentaranya tewas dalam penyergapan Senin malam setelah militan menyelinap ke Israel selatan melalui satu terowongan.

Pada hari yang sama, tembakan mortir menewaskan empat tentara dekat kibbutz selatan, kata militer, sementara yang lain tewas dalam aksi di Gaza selatan.

Militer mengatakan 57 roket menghantam Israel pada Selasa, dan lainnya 10 tembakan, salah satunya sekitar 30 kilometer, (19 mil) dari Yerusalem.

Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa lebih dari 215.000 orang, atau satu warga Gaza dari setiap delapan orang, telah meninggalkan rumah mereka di wilayah yang penuh sesak itu.

Banyak yang menuju ke sekolah-sekolah PBB yang sudah sempit di utara, di mana anak-anak berlarian bertelanjang kaki di sekitar halaman sekolah yang kotor dengan tumpukan bau sampah.

Meningkatnya kekerasan tersebut menarik tuntutan internasional semakin mendesak untuk mengakhiri permusuhan.

"Atas nama kemanusiaan, kekerasan harus berhenti," kata Sekjen PBB Ban Ki-moon pada Senin.

Tetapi seruan-seruan itu diabaikan, dengan Netanyahu memperingatkan akan "memperpanjang serangan" yang berlangsung sampai tentara negara Yahudi itu menghancurkan terowongan lintas perbatasan yang digunakan untuk melakukan serangan terhadap Israel.

"Warga Israel tidak bisa hidup dengan ancaman roket dan terowongan-terowongan kematian dari atas dan dari bawah," katanya.

Ketegangan telah meningkat tajam setelah meriam-meriam pada Senin mendarat di dalam kompleks rumah sakit Shifa di Kota Gaza, diikuti oleh satu ledakan di taman bermain anak-anak di kamp pengungsi Shati di kota itu, yang menewaskan 10, delapan dari mereka anak-anak.

"Kami tidak menembaki rumah sakit atau di kamp pengungsi Shati," kata Mayor Arye Shalicar kepada AFP, mengatakan bahwa tentara memiliki rekaman yang menunjukkan para pejuang Palestina menembaki Israel tetapi rudal mereka jatuh di wilayah Gaza.


Penerjemah: Askan Krisna

Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Indonesia tentang AS soal permukiman Israel di Tepi Barat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar