Jakarta (ANTARA) - Organisasi kemanusiaan, Wahana Visi Indonesia (WVI) menggelar Dialog Perlindungan Anak dalam upaya meningkatkan perlindungan yang lebih inklusif terhadap anak-anak, terutama yang memiliki kebutuhan khusus.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin, WVI menyoroti hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR, 2024), sekitar 33,64 persen anak usia 13--17 tahun atau sekitar 7,6 juta anak di Indonesia mengalami kekerasan dalam hidup mereka.

"Angka ini menunjukkan pentingnya upaya perlindungan yang lebih kuat terhadap anak-anak, terutama yang memiliki kebutuhan khusus," demikian petikan pernyataan WVI kepada wartawan.

Untuk mengatasi permasalahan ini, WVI dengan dukungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), menggelar Serial Dialog Perlindungan Anak.

Baca juga: WVI nyatakan sinergi bersama pemerintah dalam penanganan stunting

Kegiatan ini dimulai pada November 2024 dan akan berlangsung secara bertahap hingga April 2025. Dialog ini memberikan ruang bagi anak-anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, untuk menyampaikan suara dan aspirasi mereka.

Dalam pernyataannya, WVI menyampaikan bahwa dari 4,4 juta anak penyandang disabilitas di Indonesia (BPS, 2020), sekitar 8,1 persen melaporkan mengalami kekerasan, angka yang 10 kali lebih tinggi dibandingkan anak tanpa disabilitas.

Dialog pertama yang berlangsung pada akhir November 2024 mengangkat tema “Suara Anak adalah Suara untuk Masa Depan Indonesia yang Inklusif”.

Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan rencana aksi yang melibatkan pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan upaya perlindungan anak, sejalan dengan UU Perlindungan Anak No. 35 tahun 2014 yang mendukung peran serta masyarakat.

Dalam dialog tersebut, perwakilan anak dari anggota Yayasan Setara, Griselda, berbagi pengalaman berharga. Griselda yang terpilih untuk mengikuti Konferensi Tingkat Menteri di Kolombia menegaskan pentingnya pelibatan aktif anak-anak dalam mengakhiri kekerasan.

“Saya mendapat kesempatan untuk berdiri di hadapan menteri seluruh dunia untuk menyampaikan suara saya dan teman-teman saya untuk pelibatan anak-anak secara aktif dalam mengakhiri kekerasan pada anak,” ujarnya.

Anggota Dewan Penasihat Anak WVI, Ridya menambahkan pentingnya semua anak memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat.

Baca juga: WVI: Pengasuhan dengan cinta perlu ditanamkan demi cegah perundungan

Baca juga: Sumbar perkuat perlindungan perempuan dan anak dengan Program Sahabat PPA

Ia menyarankan pemerintah desa untuk mendukung lebih banyak kegiatan seperti Posyandu Remaja guna menarik minat anak-anak remaja.

Deputi Pemenuhan Hak Anak KemenPPPA ,Pribudiarta Nur Sitepu menekankan bahwa suara anak harus didengar karena sering kali terabaikan dalam pembangunan.

“Budaya patriarki menciptakan anggapan bahwa suara anak tidak penting, padahal anak lebih tahu kondisi mereka saat ini,” ujarnya.

Masih dalam agenda yang sama, Technical Sectors Director WVI, Yacobus Runtuwene menegaskan bahwa perlindungan anak memerlukan perhatian semua pihak. “Anak-anak memiliki hak yang perlu diperhatikan, dihargai, dan dipenuhi,” tambahnya.

Melalui dialog ini, WVI berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dimana suara anak didengar dan dijadikan referensi dalam pembuatan kebijakan, sehingga upaya perlindungan anak dapat dilakukan secara lebih efektif dan menyeluruh.

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2024

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.