Ekstrak bayam bisa bantu kurangi rasa lapar

Ekstrak bayam bisa bantu kurangi rasa lapar

Petani memanen bayam di Taman BMW Papango, Jakarta Utara, Rabu (24/10). Ekstrak bayam bisa membantu mengurangi rasa lapar. (FOTO ANTARA/ M. Luthfi Rahman)

Jakarta (ANTARA News) - Sebuah studi jangka panjang yang dilakukan peneliti di Lund Unversity, Swedia, menunjukkan bahwa ekstrak bayam mengandung membran hijau daun atau tilakoid yang dapat mengurangi rasa lapar hedonis hingga 95 persen dan membantu pengurangan berat badan sampai 43 persen.

Lapar hedonis adalah istilah lain dari keinginan kuat untuk mengonsumsi makanan-makanan tidak sehat seperti makanan manis atau makanan cepat saji, yang merupakan penyebab umum obesitas dan kebiasaan makan yang tidak sehat.

Hasil studi menunjukkan bahwa tilakoid dapat memperkuat produksi hormon kenyang dalam tubuh dan menekan rasa lapar hedonik, yang pada akhirnya juga berdampak lebih baik pada pengendalian nafsu makan, penerapan kebiasaan makan sehat dan meningkatkan penurunan berat badan.

"Analisis kami menunjukkan bahwa minum minuman yang mengandung tilakoid sebelum sarapan mengurangi keinginan untuk makan dan membuatmu merasa lebih kenyang sepanjang hari," kata Profesor Kedokteran dan Kimia Fisiologis dari Lund University, Charlotte Erlanson-Albertsson.

Dalam studi tiga bulan yang melibatkan 38 perempuan dengan kelebihan berat badan itu, para peneliti meminta peserta penelitian setiap pagi mengonsumsi minuman hijau.

Setengah dari perempuan-perempuan itu diberi lima gram ekstrak bayam dan sisanya menjadi kelompok kontrol yang diberi plasebo.

Para peserta tidak mengetahui mereka berada dalam grup mana. Mereka hanya diminta mengonsumsi makanan diet seimbang termasuk makan tiga kali sehari dan tidak melakukan diet lainnya.

"Dalam studi tersebut, kelompok kontrol kehilangan rata-rata 3,5 kilogram sedangkan kelompok yang diberi tilakoid kehilangan lima kilogram berat abdan. Kelompok yang diberi tilakoid juga lebih mudah makan tiga kali sehari secara konsisten -- dan tidak punya keinginan kuat untuk makan sesuatu," kata Charlotte Erlanson-Albertsson dalam siaran publik Lund University.

Dalam hal ini kuncinya adalah rasa kenyang dan penekanan lapar hedonis versus lapar homeostasis yang berhubungan dengan kebutuhan energi dasar.

Makanan olahan modern dicerna sangat cepat sehingga hormon di usus yang mengirimkan sinyal kenyang ke otak dan menekan nafsu tidak bisa mengikutinya.

Membran hijau daun memperlambat proses pencernaan, memberikan waktu hormon usus dilepaskan dan mengkomunikasikannya ke otak bahwa kita kenyang.

"Ini tentang memanfaatkan waktu untuk mencerna makanan kita. Tidak ada yang salah dengan sistem pencernaan kita, tetapi hanya tidak bekerja secara baik dengan makanan modern. Tilakoid memperpanjang waktu pencernaan, menghasilkan perasaan kenyang," kata Charlotte Erlanson-Albertsson.

"Artinya kita bisa tetap berpegang pada diet yang kita inginkan tanpa kudapan dan makanan yang tidak kita perlukan seperti keripik, manisan dan lain-lain," kata dia.

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar