"Soekarno" raih penghargaan film terpuji FFB 2014

"Soekarno" raih penghargaan film terpuji FFB 2014

Para pendukung film Soekarno, Lukman Sardi, Tika Bravani, sutradara Hanung Bramantyo, produser Raam Punjabi, Ario Bayu, Ferry Salim, dan Tanta Ginting, saat hadir dalam konferensi pers film tersebut di Jakarta, Rabu, (8/5). Film yang mengangkat perjalanan Soekarno muda hingga perananannya sebagai proklamator kemerdekaan Republik Indonesia tersebut akan diluncurkan pada Desember 2013 dengan menampilkan para akting bintang film Lukman Sardi, Maudy Koesnadi, Tika Bravani, Agus Kuncoro, Ferry Salim, dan Tanta Ginting. (ANTARA FOTO/Teresia May)

... berlatar cerita sejarah dan terinspirasi kiprah sosok sang proklamator, Ir Soekarno... "
Bandung (ANTARA News) - Film sejarah Soekarno produksi MVP Film garapan sutradara muda, Hanung Bramantyo, terpilih menjadi film terpuji Festival Film Bandung (FFB) ke-27 2014 pada acara puncak di Kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Kota Bandung, Sabtu malam.

Film berlatar cerita sejarah dan terinspirasi kiprah sosok sang proklamator, Ir Soekarno itu, akhirnya berhasil menjadi pemenang setelah bersaing ketat dengan film lainnya termasuk berlatar sejarah Sang Kiai (Rapi Film).

Tiga film pesaing lain adalah Tenggelamnya Kapal van Der Wijk (Soraya Intercine Film), Adriana (Visi Lintas Film) dan film Sokola Rimba (Miles Film).

Sukses film Soekarno menjadi film terpuji, juga diikuti Bramantyo yang menyabet predikat sutradara film terpuji FFB 2014.

"Apresiasi buat Forum Film Bandung (FFB) yang memberi penghargaan buat film sejarah. Bukan sejarah milik siapa namun di sini FFB menghargai tafsir sejarah yang dilakukan anak muda," kata Bramantyo.

Sukses dia di ajang FFB ini lanjutan sukses sebelumnya yang juga menghantarkan film Sang Pencerah tentang kiprah KH Ahmad Dahlan yang juga mendapat penghargaan serupa.

"Luar biasa bagi saya dan juga tim kami," katanya.

Penghargaan utama FFB 2014 diserahkan Gubernur Jawa Barat, H Ahmad Heryawan, dan Wakil Gubernur, Deddy Mizwar, yang disaksikan insan perfilman dan sinetron nasional yang hadir pada acara itu.

Sementara itu pemeran pria terpuji FFB 2014 diraih Ikranagara yang bermain pada film Sang Kiai produksi Rafi Film serta Herjunot Ali dalam film Tenggelamnya Kapal van Der Wijk (Soraya Intercine Film).

Keduanya mengungguli unggulan lain, Joe Taslim (La Tahzan), Ario Bayu (Soekarno) dan Alex Komang (Sebelum Pagi Terulang).

"Saya tak menyangka berdiri dan menerima piala FFB 2014, bahkan saya tadi sempat tak yakin dan tak mendengar nama saya disebut, bersyukur dan itulah yang bisa saya capai bagi (film) Sang Kiai," kata Ikranagara.

Sedangkan Pevita Pearce menjadi pemeran wanita terpuji kategori film atas perannya pada Tenggelamnya Kapal van Der Wijk. Dia mengungguli Atiqah Hasiholan (Lah Tahzan), Adinia Wirasti (Laura dan Marsh), Prisia Nasution (Sokola Rimba) dan Eriska Rein (Bajaj Bajuri The Movie).

Sedangkan kategori penata artistik film terpuji diraih Frans XR Paat dalam film Sang Kiai dan penata Kamera terpuji Yudi Sugandi dalam film Adriana. Sementara itu kategori penata musik terpuji diraih Andika Triyadi.

Pada kesempatan itu juga disampaikan Penghargaan Penghargaan Seumur Hidup (Life Time Achievement) perfilman dari Festival Film Bandung yang diberikan kepada artis senior Rima Melati dan sutradara Putu Wijaya.

Keduanya mendapat tepuk tangan berdiri dari undangan yang hadir di ajang FFB 2014 begitu nama legenda hidup perfilman itu diumumkan Mizwar.

"Peghargaan terpuji juga bagi insan film yang menghabiskan sebagian besar hidupnya pada film, kehadiran mereka menginspisari dan terekam dalam sejarah perfilman nasional," kata Mizwar.

Wijaya yang hadir di atas podium dengan dipapah tetap memancarkan optimistis. Pekik semangat meluncur dengan lantang.

"Semangat... semangat dan tetap semangat," pekiknya dengan tangan mengepal ke atas.

Terkait penghargaan Capaian Seumur Hidup yang diterimanya merupakan bentuk dari kiprah konsisten. Ia menyebutnya penghargaan itu sebagai bentuk kemenangan dalam memerangi diri sendiri.

"Ini merupakan bentuk dari perjuangan menaklukan diri sendiri untuk tetap beradan di dunia film, bukan sekedar menaklukan sebuah kompetisi. Ini jauh lebih berat dan membutuhkan komitmen, semuanya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh," kata Wijaya.

Pewarta: Syarif Abdullah
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Satu PDP asal Bangladesh meninggal dunia di RSUD Soekarno Babel

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar