counter

Digital forensik, kunci pembuktian kasus @Triomacan2000

Digital forensik, kunci pembuktian kasus @Triomacan2000

Tersangka kasus pemerasan berinisial RN (kiri) dan ES (kanan) berteriak saat mengikuti rilis di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (3/11). (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)

...tersangka tidak akan bisa mengelak karena rekam ketik dan catatan-catatan sebelumnya akan terlihat."
Jakarta (ANTARA News) - Penyidik Cyber Crime Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya  masih melakukan pemeriksaan digital forensik barang bukti milik tersangka terduga melakukan perbuatan tidak menyenangkan, pemerasaan dan pencucian uang melalui akun Twitter @Triomacan2000.

"Saat ini sedang berlangsung pemeriksaan digital forensik, cepat atau lambat pemeriksaan ini tergantung besaran data yang dimiliki tersangka," kata Kepala Subdit Cyber Crime Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Hilarius Duha kepada ANTARA News, Kamis.

Hilarius mengatakan penyidik memiliki keterbatasan alat sehingga waktu yang diperlukan untuk memeriksa menjadi tidak bisa dipastikan.

"Kami keterbatasan alat kloning data, untuk data dua terabyte membutuhkan waktu sampai dua hari untuk kloning saja, itu belum termasuk proses pemeriksaan yang bisa berhari-hari lamanya," kata Hilarius Duha.

Penyidikan kasus kejahatan di dunia maya, lanjutnya, akan melewati proses pemeriksaan digital forensik untuk melacak dan menemukan fakta terkait kejahatan yang dilakukan pelaku.

Dalam kasus @Triomacan2000, fakta yang telusuri berdasarkan pemeriksaan digital berupa data rekam ketik di komputer, laptop, dan ponsel milik tersangka.

"Tersangka bisa saja berbohong, tapi jika sudah dibuktikan melalui pemeriksaan digital forensik maka tersangka tidak akan bisa mengelak karena rekam ketik dan catatan-catatan sebelumnya akan terlihat," kata Hilarius.

Dia mengatakan tersangka RN tidak mengaku sebagai pemilik akun Twitter tersebut.

Hilarius mengatakan kemungkinan adanya tersangka atau fakta baru akan terungkap jika pemeriksaan digital forensik telah rampung.

"Bahkan jika ada tindak pidana lain juga bisa kelihatan dari pemeriksaan itu," katanya.

Selain itu, menurut dia, penerapan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) untuk menjerat tersangka sangat tepat karena tersangka melakukannya melalui media sosial.

"Jadi bisa dikatakan penerapan UU ITE ini tepat, namun penyidik juga harus teliti menemukan fakta-fakta baru," kata Hilarius.

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Waspadai, kejahatan seksual anak melalui internet

Komentar