Jakarta (ANTARA News) - Letnan Jenderal Djamin Gintings merupakan salah satu tokoh pejuang kemerdekaan kebanggan masyarakat Sumatera Utara yang mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 2014 yang dianugerahkan oleh Presiden Joko Widodo atas nama pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Djamin Gintings lahir pada 12 Januari 1921, ia memiliki peran penting pada masa-masa penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh dan juga pada masa-masa genting di Sumatera saat terjadinya PRRI/Permesta di dekade 1950an.

Dikutip dari buku penerima gelar Pahlawan Nasional 2014 yang diterbitkan kementerian Sosial, Djamin Gintings mengawali karir kemiliterannya dengan mengikuti pendidikan calon perwira Giyugun di Siborong-borong. Ia kemudian menjadi Komandan Peleton Istimewa di Sumatera Giyugun Blangkejeren dan merekrut pemuda di daerah Gayo.

Setelah proklamasi kemerdekaan 1945, Djamin kemudian bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Kabanjahe,Sumatera Utara. Bersama pasukannya, Djamin kemudian melucuti tentara Jepang di Berastagi.

Saat pertempuran Medan Area terjadi, ia merupakan salah satu komandan tentara Indonesia yang terlibat pada salah satu pertempuran besar pascakemerdekaan di Indonesia tersebut. Pasukan Inggris meninggalkan Medan dan seluruh area Indonesia pada 1946.

Agresi militer Belanda I pada Juli 1947 membuat Djamin memimpin pasukan melawan Belanda pada mandala Tanah Karo di wilayah Sibolangit, Pancubatu, Tuntungan,Merek dan Saribudolok.

Ia juga sempat mengawal perjalanan Wakil Presiden Mohammad Hatta dari Berastagi ke Bukittinggi. Sepanjang 1947 hingga pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda pada 27 Desember 1949 , Djamin terlibat dari puluhan pertempuran melawan Belanda sebagai salah satu pengejawantahan perintah Panglima Besar Sudirman.

Pascapengakuan kedaulatan, Djamin kemudian ditunjuk sebagai Komandan Pertama Komando Pangkalan atau Komando Basis Kota Medan (KBKM) yang kemudian menjadi Komando Militer Kota Besar Medan.

Pada tahun 1954 sebagai Komandan Resimen Infantri 2 Sumatera Timur ia ikut memimpin penumpasan pemberontakan DI/TIIdi Aceh yang dipimpin Tengku Daud Beureueuh. Pada 1956 ia kemudian menjadi Kepala Staf Tentara dan Teritorium (TT) Bukit Barisan. Djamin juga berhasil menumpas organisasi pertahanan desa (OPD) yang dipengaruhi oleh Komunis pada 31 Oktober 1956.

Masa genting di Sumatera terjadi pada Desember 1956 ketika Panglima TT 1 Bukit Barisan Kolonel Maludin Simbolon membentuk Dewan Gajah dan menyatakan pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat.

Djamin Gintings selaku Kepala Staf TT 1 Bukit Barisan menentang keputusan atasannya dan menunjukkan kesetiannya pada pemerintah Republik Indonesia. Ia kemudian menjadikan wilayah Komandonya sebagai Pangkalan operasi pasukan pemerintah menggempur PRRI di Sumatera.

Pada 1966 Djamin Gintings mulai bertugas di sejumlah jabatan non militer antara lain Sekretaris Presiden/Kepala Kabinet merangkap Wakil Sekretaris Negara.

Pada 1968 diangkat oleh Presiden Soeharto sebagai anggota DPRGR dan MPRS mewakili eksponen 45.

Sebelum meninggal pada 1974, pemerintah menugaskan Djamin Gintings menjadi Duta Besar Berkuasa Penuh RI untuk Kanada. Ia meninggal di Ottawa, Kanada saat menjalakan tugas sebagai duta besar.

Sebelum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional yang diterima langsung oleh istri Djamin Gintings, Likas Boru Tarigan, tokoh pejuang itu telah menerima Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Dharma dan Bintang Mahaputera Utama.
(P008)

Editor: Desy Saputra
Copyright © ANTARA 2014