counter

Bioteknologi bisa kurangi impor pangan

Jakarta (ANTARA News) - Pemanfaatan bioteknologi dalam pertanian dapat meningkatkan produktivitas tanaman pangan sehingga Indonesia dapat mengurangi impor, kata Sidi Asmono dari Masyarakat Bioteknologi Pertanian Indonesia di Depok, Rabu.

Sidi mengatakan Indonesia sudah meneliti beberapa tanaman rekayasa genetik yang dapat meningkatkan produktivitas petani karena memiliki sifat tahan hama dan penyakit, salah satunya tebu PRG event NXI-4T yang merupakan tebu hasil bioteknologi pertama di dunia.

"Tebu PRG itu dapat meningkatkan produksi hingga 30 persen, coba hitung produksinya bila sudah ditanam selama lima tahun, kita bisa mengurangi impor gula karena produksi tebu nasional sudah mencukupi," ujar dia usai diskusi panel bioteknologi di Kampus UI Depok.

Selain tebu PRG, berbagai institusi Indonesia seperti Puslit Biogen LIPI, BB- Biogen dan IPB telah membuat penelitian rekayasa genetika, tanaman pangan dan tanaman perkebunan.

Mereka merekayasa genetika tanaman dengan tujuan menghasilkan karakteristik tertentu, misalnya jagung yang tahan penggerek batang, tebu yang tahan kekeringan dan padi yang kaya kandungan beta karoten.

Meskipun demikian, pemerintah Indonesia hingga saat ini belum mengeluarkan regulasi yang mengizinkan penyebarluasan benih-benih hasil bioteknologi tersebut untuk ditanam oleh para petani.

Butuh berbagai proses pengujian yang membuktikan bahwa benih rekayasa genetik tersebut aman untuk dikonsumsi dan juga bagi lingkungan yang melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan POM, Balai Kliring Keamanan Hayati.

Dia menyebut Filipina dan Vietnam sebagai negara di Asia Tenggara yang telah menerapkan bioteknologi dalam pertanian.

"Thailand akan menyusul, Kamboja dan Laos juga sudah menyiapkan diri," kata dia.

Dia berharap pemerintah dapat mempercepat izin implementasi bioteknologi di Indonesia.

"Vietnam itu tiga tahun lalu masih di belakang kita, namun proses mereka lebih cepat sehingga kini mereka sudah mendahului Indonesia soal bioteknologi," kata dia.

Menurut Ketua Konsorsium Bioteknologi Indonesia (KBI) Misri Gozan, bioteknologi merupakan upaya intervensi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas lahan yang terbatas di tengah meningkatnya kebutuhan pangan seiring pertumbuhan penduduk.

"Jumlah penduduk dan persediaan pangan selalu berkejaran, ibaratnya seperti gas dan rem. Bila pangan terbatas maka ada ancaman krisis pangan," pungkasnya.



Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Bioteknologi Atasi Masalah Buah Busuk di Perjalanan

Komentar