Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyebutkan perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor angka pernikahan pada 2023 menurun 128 ribu berdasarkan data Publikasi Statistik Indonesia 2024 Badan Pusat Statistik (BPS).

"Pada tahun 2023, jumlah pernikahan tercatat sebanyak 1.577.255, menurun sekitar 128 ribu dari tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan angka pernikahan yakni perubahan gaya hidup," kata Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Kemendukbangga/BKKBN Nopian Andusti dalam Kelas Pranikah diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.

Ia menyebutkan dua faktor lain yang menyebabkan turunnya angka pernikahan, yakni prioritas karier dan pergeseran nilai-nilai sosial di generasi muda.

Selain itu, bonus demografi di mana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dari usia non-produktif juga berdampak meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesiapan sebelum menikah.

"Pasangan cenderung lebih selektif dan mempertimbangkan aspek finansial, emosional, serta kestabilan dalam hubungan sebelum memutuskan berumah tangga," ujar dia.

Menurut dia, pernikahan merupakan fase penting seseorang dalam kehidupan yang membutuhkan banyak kesiapan, baik dari segi kesehatan fisik, mental, finansial, spiritual, maupun keterampilan dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan sakinah.

"Dalam rumah tangga, suami dan istri memiliki fungsi dan peran yang saling melengkapi untuk menciptakan keluarga yang harmonis, bahagia, dan sejahtera. Peran tersebut tidak terbatas pada aspek ekonomi atau domestik, tetapi juga mencakup pengasuhan anak, dukungan emosional, dan pengambilan keputusan secara bersama," katanya.

Ia menegaskan pasangan yang belum siap menikah akan berisiko melahirkan anak stunting, sehingga pencegahan stunting dari hulu sebelum konsepsi atau pernikahan penting untuk diperhatikan oleh kedua calon pengantin.

"Pencegahan dapat dilakukan tiga bulan sebelum menikah. Kemendukbangga/BKKBN memiliki aplikasi elektronik siap nikah dan hamil atau elsimil guna memberikan pendampingan para calon pengantin yang berisiko melahirkan anak stunting," katanya.

Ia menjelaskan Kemendukbangga/BKKBN telah menetapkan lima program percepatan atau quick wins untuk tahun 2025, yakni Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Taman Asuh Anak melalui penyediaan tempat penitipan anak atau daycare unggulan, Gerakan Ayah Teladan (Gate).

Selain itu, aplikasi super berbasis akal imitasi (AI) yang melayani konsultasi keluarga, lanjut usia (lansia) berdaya yang menyediakan layanan berbasis komunitas untuk para lansia yang tidak mendapatkan perawatan oleh anaknya.

Baca juga: Pernikahan sebaiknya sudah dipikirkan sejak remaja

Baca juga: Kemendukbangga optimalkan posyandu edukasi Cek Kesehatan Gratis

Baca juga: Kemendukbangga ajak remaja tingkatkan kualitas sambut bonus demografi

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.