Upaya meregang harga karet yang mengkerut

Upaya meregang harga karet yang mengkerut

Menteri Perdagangan Indonesia Rachmat Gobel (kanan) bersama Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas Malaysia Datuk Amar Douglas Uggah Embas (tengah) serta Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand Petipong Pungbun Na Ayudhya (kiri) menghadiri pertemuan tingkat menteri Dewan Karet Tripartit Internasional (ITRC) di Kuala Lumpur, Kamis (20/11). Pertemuan tersebut bertujuan untuk mencari solusi penaikan harga karet di pasar internasional. (FOTO ANTARA/Aulia Badar)

Konsumsi karet alam lokal akan dinaikkan dengan membangun industri hilir berbasis karet. Saya akan membahas hilirisasi karet itu dengan Menteri Perindustrian."
Jakarta (ANTARA News) - Dalam tiga tahun terakhir harga karet alam yang menjadi komoditas unggulan ekspor Indonesia terus menurun.

Harga tertinggi komoditas tersebut pernah dicapai tahun 2011 yaitu sebesar empat dolar AS per kilogram.

Sejak itu harga karet alam terus menurun. Bahkan pada November ini harga komoditas hanya sebesar 1,54 dolar AS per kilogram.

Harga tersebut dinilai tidak wajar oleh produsen karet alam dunia, termasuk Indonesia, karena sudah di bawah biaya produksi.

Di tingkat petani, harga getah karet hanya mencapai sekitar Rp4.500 sampai Rp5.000 per kilogram.

"Sempat (harga getah karet) naik pertengahan bulan lalu menjadi Rp6.500 per kilogram, tapi itu pun masih jauh dari harapan atau belum seimbang dengan berbagai harga kebutuhan pokok yang meningkat," kata Halim, petani penyadap karet di Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Senin (24/11).

Penurunan harga karet alam yang drastis tersebut, juga mempengaruhi kontribusi komoditas tersebut terhadap ekspor nonmigas nasional.

Jika pada 2011 karet alam Indonesia menyumbang 11,7 miliar dolar AS dari total ekspor nonmigas nasional, maka pada 2013 anjlok sekitar 40 persen menjadi 6,9 miliar dolar AS.

Kondisi itu tentu saja tidak bisa dibiarkan, karena Indonesia merupakan produsen karet alam ke-2 terbesar di dunia, setelah Thailand. Selain itu, sekitar 85 persen produksi karet alam Indonesia berasal dari perkebunan rakyat yang dikelola petani.

"Banyak petani tergantung hidupnya dari karet, sehingga harus diperjuangkan agar mereka tidak beralih ke tanaman lain," kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel.


ITRC

Tekad itu diwujudkan Rachmat -- yang belum genap satu bulan menjabat Menteri Perdagangan (Mendag) -- dengan menghadiri perundingan dan pertemuan tingkat menteri International Tripartite Rubber Council (ITRC) di Kuala Lumpur, Malaysia, pekan lalu.

Meski sibuk blusukan ke pasar tradisional untuk mengetahui langsung perkembangan pasokan dan harga kebutuhan pokok pascakenaikan harga BBM, Rachmat menyempatkan berunding selama dua jam bersama koleganya Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia, Datuk Amar Douglas Uggah serta Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand Petipong Pungbun Na Ayudya.

Indonesia, bersama Thailand dan Malaysia merupakan negara produsen karet alam besar yang menguasai sekitar 67 persen produksi karet alam dunia. Selain itu ketiga negara anggota ITRC tersebut menguasai 79 persen perdagangan ekspor karet internasional.

Berdasarkan data IRSG (International Rubber Study Group) yang diolah Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) produksi karet alam dunia mencapai sekitar 12 juta metrik ton pada 2013, yang sekitar delapan juta berasal dari tiga anggota ITC yaitu Thailand (4,14 juta ton), Indonesia (3,08 juta ton), dan Malaysia (824 ribu ton). Sedangkan konsumsi karet alam dunia sekitar 11 juta ton.

Kelebihan pasokan itulah yang menyebabkan harga karet alam dunia anjlok, dan mendorong anggota ITRC berupaya mengatur pasokan mereka ke pasar dunia.

Sayangnya tidak semua anggota ITRC mentaati pembatasan ekspor sehingga harga tetap jatuh dalam tiga tahun terakhir. Selain itu ada negara lain anggota ASEAN yang juga menjadi produsen karet lumayan besar yaitu Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam (CLMV) dengan pangsa pasar 10 persen dan belum menjadi anggota ITRC.

"Kehadiran perwakilan CLMV pada pertemuan (ITRC) ini merupakan sinyal mereka mau bersinergi," kata Datuk Amar Douglas Uggah yang menjadi ketua pada pertemuan ITRC 20 November 2014 itu.

Pada pertemuan itu, tiga negara itu sepakat mengurangi pasokan ekspor antara lain dengan meningkatkan 10 persen pemanfaatan karet alam untuk industri di dalam negeri masing-masing dan mengatur penanaman kebun karet baru dalam skema managemen pasokan (supply management scheme/SMS (2015-2020).

"Kami juga meminta IRCo (International Rubber Consortium) untuk memperkuat peranannya," kata Datuk Amar.

Para menteri yang berunding juga sepakat untuk membentuk Regional Rubber Market untuk mendapatkan harga karet yang lebih baik dan sistem hedging yang efektif serta menguntungkan produsen dan konsumen, termasuk para pemain pasar.

"Kami menargetkan dalam 18 bulan regional rubber market itu terelisasi," katanya lagi.


Hilirisasi

Sebenarnya pertemuan tiga menteri ITRC tersebut dijadwalkan 12 Desember 2014, namun kondisi yang harga karet yang terus nyungsep membuat ketiganya sepakat mempercepat perundingan tersebut.

Indonesia sendiri, seperti yang dikatakan Mendag Rachmat Gobel sangat berkepentingan, karena 2,4 juta petani penyadap getah karet bergantung pada perdagangan karet internasional.

"Penurunan harga karet alam saat ini harus segera diatasi dengan mengelola pasokan ekspor, agar harga tidak semakin jatuh," katanya kepada Antara dalam penerbangan dengan pesawat khusus yang membawa kami pulang pergi Jakarta-Kuala Lumpur.

Ia mengatakan kesepakatan ITRC tersebut merupakan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk menaikkan harga karet secara bertahap.

"Konsumsi karet alam lokal akan dinaikkan dengan membangun industri hilir berbasis karet. Saya akan membahas hilirisasi karet itu dengan Menteri Perindustrian," ujar Rachmat.

Apalagi, kata dia, berdasarkan pengalaman Thailand, karet alam juga bisa dimanfaatkan untuk pembangunan jalan, konstruksi, dan lainnya, disamping industri yang selama ini dikembangkan seperti ban, sarung tangan karet, komponen, dan kondom.

Oleh karena itu, kesepakatan untuk menaikkan konsumsi karet dalam negeri juga disambut Indonesia karena sesuai dengan kebijakan untuk memberi nilai tambah pada produk primer nasional.

"Ke depan Indonesia harus semakin memperbesar ekspor industri olahan yang memberi nilai tambah tinggi, bukan lagi produk bahan mentah," kata Rachmat.

Sementara itu Wakil Ketua Gapkindo mengatakan saat ini industri berbasis karet di Indonesia relatif masih sedikit. Dari produksi karet alam Indonesia yang mencapai sekitar 3,2 juta metrik ton, prediksi tahun ini, konsumsi domestik hanya 500 ribu metrik ton per tahun.

"Industri hilir karet di dalam negeri belum banyak. Di Indonesia juga belum ada keharusan misalnya gedung dan jalan menggunakan bahan berbasis karet untuk konstruksi tahan gempa," katanya.

Kendati demikian ia optimistis kesepakatan ITRC menaikkan konsumsi karet domestik sebesar 10 persen bisa diimplementasi Indonesia.

"Kan saat ini banyak investasi dan pabrik ban baru di dalam negeri," ujar Moenardji.

Ia berharap hilirisasi industri berbasis karet di dalam negeri semakin berkembang sehingga Indonesia tidak terlalu banyak mengandalkan ekspor karet alam mentah yang selama ini sebagian besar diekspor ke Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang.  

Oleh
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar