Jakarta (ANTARA) - Praktisi kesehatan dr. Jeffrey Ariesta Putra mengatakan keberadaan produk tembakau alternatif dapat membantu masa transisi perokok yang mencoba berhenti dari merokok.
"Sebagai praktisi kesehatan, saya sulit meminta pasien secara langsung untuk berhenti merokok, karena sudah menjadi kebiasaan, dan edukasi terkait bahaya merokok tidak kurang banyak. Menurut saya, produk rokok elektronik merupakan alternatif yang diharapkan dapat menjadi substitusi," kata dr. Jeffrey Ariesta Putra dalam keterangan, di Jakarta, Kamis.
Menurutnya, perokok yang mencoba berhenti merokok tanpa beralih ke produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko cenderung menghadapi tingkat kegagalan yang lebih tinggi.
Pihaknya mengutip sebuah studi yang dipublikasikan oleh JAMA Network pada 17 Januari 2025 yang bertajuk "Prevalence of Popular Smoking Cessation Aids in England and Associations With Quit Success" mengungkapkan produk tembakau alternatif, termasuk rokok elektronik, menjadi alat bantu berhenti merokok yang populer digunakan di Inggris.
Baca juga: SOS ajak fans K-pop dukung hidup sehat tanpa rokok
Baca juga: Pakar ungkap dampak positif CKG bisa bikin masyarakat setop merokok
Studi tersebut melibatkan 25.094 perokok berusia minimal 16 tahun dan ditemukan bahwa rokok elektronik merupakan alat bantu berhenti merokok yang paling umum digunakan sepanjang tahun 2023-2024, yakni mencapai 40,2 persen dan menjadi metode dengan peluang keberhasilan berhenti merokok tertinggi jika dibandingkan dengan metode lain.
Dia menambahkan prevalensi merokok di Indonesia masih sangat tinggi, salah satunya disebabkan oleh harga produk tembakau alternatif yang lebih mahal dibandingkan rokok konvensional.
Jeffrey menilai keterjangkauan produk alternatif berperan penting dalam mendorong perokok untuk beralih ke pilihan lain yang lebih rendah risiko.
Oleh karena itu, dr. Jeffrey mendorong pemerintah untuk memberikan insentif atau kebijakan yang mendukung aksesibilitas produk tembakau alternatif, sehingga lebih banyak perokok dapat beralih dan mengurangi risiko akibat kebiasaan merokok.
"Saat ini masyarakat masih tertarik dengan rokok konvensional karena produk substitusi cenderung memiliki harga yang mahal. Salah satu langkah yang mungkin dapat dilakukan adalah insentif atau subsidi dari pemerintah. Faktor harga memegang peranan penting," kata Jeffrey Ariesta Putra.*
Baca juga: Publik dan pakar soroti konflik kepentingan dalam studi soal vape
Baca juga: IYCTC desak pemerintah implementasikan PP 28/2024, kendalikan tembakau
Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.