counter

Lima tahun lagi ekspor mebel dan kerajinan 5 miliar dolar AS setahun

Lima tahun lagi ekspor mebel dan kerajinan 5 miliar dolar AS setahun

Pekerja melakukan sentuhan akhir kerajinan berbahan baku rotan di kawasan sentra rumah industri di Curug, Kab.Tangerang, Banten. (ANTARA/Lucky.R)

Jakarta (ANTARA News) - Asosiasi Mebel dan Kerajinan Industri (AMKRI) menargetkan nilai ekspor produk mebel, furnitur, dan kerajinan Indonesia akan mencapai 5 miliar dolar AS per tahun pada lima tahun mendatang.

Menurut Ketua Umum AMKRI, Soenoto, untuk mencapai nilai tersebut ekspor mebel, furnitur dan kerajinan Indonesia setidaknya harus meningkat 20 persen per tahun.

"Dari hari ini hingga lima tahun ke depan, untuk mencapai 5 miliar dolar AS per tahun itu dibutuhkan sedikitnya pertumbuhan ekspor sebesar 20 persen per tahun," katanya dalam konferensi pers di sela-sela Rapat Pimpinan Nasional AMKRI di Jakarta, Kamis.

Saat ini nilai ekspor mebel, furnitur dan kerajinan Indonesia mencapai sekira 2,6 miliar dolar AS, dengan rincian 1,8 miliar dolar AS untuk mebel dan 800 juta dolar AS untuk kerajinan.

Dengan nilai tersebut, ekspor produk mebel Indonesia hanya menempati posisi ke-18 di dunia yang berdasarkan data UN Comtrade 2013 masih dipuncaki Tiongkok dengan nilai ekspor lebih dari 52 miliar dolar.

Sementara itu, dua negara Asia Tenggara lain Vietnam dan Malaysia menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia, masing-masing di posisi 7 dan 11 dengan nilai ekspor 5,3 miliar dolar AS dan 2,3 miliar dolar AS.

Soenoto menuturkan bahwa target tersebut tidaklah muluk-muluk, hanya saja memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk itu seperti keseriusan terhadap pengembangan pasar, peningkatan produksi, ketersediaan bahan baku.

"Intinya setiap komponen industri baik input, proses, maupun output harus selaras merasakan pembangunan yang baik."

"Pertumbuhan 20 persen per tahun tidak muluk-muluk selama tidak ada gangguan," kata Soenoto merujuk pada polemik regulasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang dianggap AMKRI memberatkan para pengusaha mebel, furnitur dan kerajinan, serta berpotensi menghambat pertumbuhan ekspor.

"Kalau 1 Januari 2015 betul-betul diberlakukan secara penuh, maka target penjualan bakalan hancur," tambahnya.

Optimisme terkait pertumbuhan ekspor mebel dan kerajinan 20 persen per tahun juga disuarakan Anggota Dewan Penasihat AMKRI Au Bintoro, yang menilai target nilai ekspor 5 miliar dolar AS bukanlah angka yang luar biasa.

"Target mencapai ekspor 5 miliar dolar per tahun dalam lima tahun ke depan bukan angka yang menakutkan ataupun bisa dibilang hebat, sebab bisa dicapai oleh negara-negara lain. Jelasnya bukan sesuatu yang di awang-awang," katanya.

Di sisi lain, Au menilai bahwa pemerintahan baru di bawah Presiden Joko Widodo, yang kebetulan berlatar belakang industri mebel, akan membawa dampak baik pada pelaku industri mebel, furnitur dan kerajinan.

"Pada pemerintahan-pemerintahan lalu, untuk sektor perkayuan dan mebel boleh dibilang mereka buta sehingga membuat kebijakan-kebijakan yang tidak produktif dan cenderung membuat target di bidang mebel sulit dicapai dengan baik.

"Sementara pemerintahan baru ini, di bawah Presiden Joko Widodo yang berlatar belakang orang perkayuan dan mebel juga, dia pasti tahu kesulitan industri ini. Ini akan memberi dorongan positif," katanya.

Pabrik arang ekspor di Cirebon ludes terbakar

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar