Berkunjung ke Kota Hiroshima di Jepang, apalagi saat musim gugur dan musim dingin, paling nikmat menyantap tiram panggang, okonomiyaki, dan pulang membawa oleh-oleh kue manju yang manis dan aneka kudapan dari jeruk lemon.

Tiram, kerang penghasil mutiara, merupakan makanan kebanggaan warga kota demikian pula okonomiyaki, sejenis martabak telur berisi mi, sayur dan daging.

Kedai penjual kerang tiram panggang ada di banyak sudut kota, demikian pula di sepanjang deretan toko di Pulau Miyajima, tetapi pada akhir musim gugur dan musim dingin, restoran musiman "Kakigoya fair bar" merupakan pilihan yang menarik.

Warung musiman ini didirikan di pelataran taman di depan Pelabuhan Hiroshima, berdinding plastik tembus pandang yang cukup kuat menahan terpaan angin dan hujan, dengan kerangka besi penyangga atap.

Peti-peti bekas botol minuman ditata bertutup papan menjadi meja dan bangku-bangku tempat para pelanggan menikmati hidangan panggang yang diolah sendiri.

Meskipun sesederhana itu tempatnya, dalam sehari restoran musiman tersebut bisa menampung tiga ribu pengunjung yang menghabiskan tiga ton tiram. Ini pengakuan petugas kedai yang juga mahir berbahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan wisatawan.

Untuk menikmati hidangan, pelanggan akan dibawa memilih makanan, yaitu tiram, udang, cumi, ikan, aneka sayur dan jamur serta udang yang sudah bersih dan siap panggang.

Setelah duduk menghadap meja dengan tungku penuh briket yang membara, para pegawai warung akan memberi "kursus kilat" cara memanggang tiram.

Mula-mula letakkan tiram dengan bagian datar yang menghadap bara, tunggu dua menit, kemudian balik serta tunggu dua menit lagi. Pada saat itu, air di dalam cangkang akan mendidih dan sebagian merembes keluar.

"Hati-hati, kadang tiram akan meletus," kata petugas.

Kalimat peringatan yang sama tertulis dalam huruf Hiragana pada papan tipis yang tergantung di beberapa tempat, berbaur dengan nama-nama menu makanan dan minuman.

Aroma barbeque sari laut dan sayur menyeruak di bar tiram ini, ditingkah suara gelak tawa dan orang bercakap-cakap.

Hawa dingin di luar terhalau, bahkan wajah-wajah menjadi hangat dan kemerahan karena menghadap anglo yang juga dibuat seadanya, dari beton pembatas jalan yang diletakkan terbalik.

Awas jangan terlalu lama memanggangnya, agar cairannya tidak kering dan daging tiram yang lembut berair mengeluarkan rasa yang paling lezat, pria paruh baya pekerja kedai memperingatkan tetamu sambil berkeliling kalau-kalau jasanya diperlukan.

Tiap meja akan dilengkapi dengan sarung tangan kaos, dengan saran dikenakan di tangan kiri untuk memegang tiram yang masih panas, alat pencukit cangkang berikut pelajaran teknik menyungkitnya.

"Beruntung sekali bisa makan di tempat ini, selain santapannya lezat, juga ada pengalaman baru yang unik," kata Heru, seorang tamu asal Indonesia yang dalam dua kali mencoba sudah mahir membuka cangkang tiram bakar.

"Memang beruntung, karena warung ini hanya buka musiman, tidak sepanjang tahun," kata pemandu asal Tokyo.


Okonomiyaki

Di tempat makan Okonomiyaki atau martabak telor khas Hiroshima pembeli juga bisa mengolah sendiri hidangan.

Kedai makan menyediakan meja datar panjang menghadap kursi-kursi tamu dan menyiapkan bahan-bahan berupa potongan sayur, daun bawang, potongan daging atau ikan yang bisa dipesan sesuai selera.

Para tamu dapat menumis sendiri bahan-bahan tersebut kemudian mencampurnya dengan telur dan tepung hingga masak menjadi semacam telur dadar.

Okonomiyaki biasa disantap bersama-sama dengan membubuhkannya saus khusus yang berisi ramuan kecap Jepang dengan saus tiram dan bumbu lain, serta mayones.

Penganan ini juga popular di daerah Osaka, bedanya, jika di Osaka tanpa campuran mi goreng.

Pondok Okonomiyaki juga diperkenalkan khusus oleh Gubernur Hiroshima, Hidehiko Yuzaki, dalam jamuan malam Konferensi Wartawan Asia-Tenggara mengenai liputan konflik dan bencana pada 26 November lalu.

"Silakan menikmati kehangatan Hiroshima dengan mencicipi okonomiyaki dan sake khas kami," ujarnya.

"Apakah Anda sudah mencoba okonomiyaki?" begitu orang-orang Hiroshima senantiasa menyapa para tamu dari kota dan negara lain.

Di jantung Kota Hiroshima bahkan ada deretan warung okonomiyaki, disebut Desa Okonomiyaki, tempat wisatawan biasanya menikmati makanan khas tersebut.


Jangan Lupa Momiji Manju

Manju adalah jenis kue bolu berisi pasta kacang merah, kue manis yang banyak ditemukan di seluruh pelosok Jepang. Tetapi Momiji Manju adalah khas Hiroshima.

Kue ini dicetak dengan bentuk menyerupai daun momiji, yaitu sejenis daun maple Jepang.

Pada musim gugur orang Jepang senang berwisata ke Hiroshima karena pemandangan daun-daun momiji yang memerah dan beberapa daun ginko yang kuning berpadu serasi dengan daun-daun hijau di bukit-bukit menghadap laut.

"Ini adalah musim berwisata dan pulangnya, jangan lupa membawa momiji manju sebagai buah tangan," saran seorang sopir taksi di kota bersejarah yang pernah diramalkan dalam 70 tahun tidak akan ada tetumbuhan yang bisa tumbuh setelah terkena bom atom pada 6 Agustus 1945.

Kue momiji manju dengan berbagai variasi rasa isi dan campuran dikemas dengan cantik dalam berbagai ukuran yang memanjakan konsumen untuk bisa menemukan pilihannya.

Jeruk lemon juga menjadi produk andalan Hiroshima. Kreativitas industri makanan membuat buah bercitarasa asam itu tampil dalam banyak bentuk yang menarik dan bisa menerbitkan air liur dengan rasa asam, manis, asin yang berpadu, dengan gambar potongan lemon.

Di toko oleh-oleh kita bisa menemukan acar kulit jeruk, coklat rasa jeruk, kue kering rasa jeruk, selai jeruk, permen, minuman hingga cuka.

Tiram pun tersaji sebagai oleh-oleh dalam bentuk direndam minyak zaitun, direndam bumbu pedas, tiram dan kimchi, saus tiram, nasi tim tiram, krupuk tiram dan dalam bentuk segar.

Hiroshima adalah kota pelabuhan yang dibangun di atas delta memunggungi perbukitan, oleh-olehnya pun mewakili produk laut dan produk gunung dan para tamu diharapkan meninggalkan kota itu dengan membawa pesan damai ke seluruh dunia.

"Jangan ada lagi senjata nuklir yang ditimpakan pada manusia, penderitaan kami tidak pernah berakhir," ujar Keiko Ogura, seorang penyintas dalam bencana bom atom tersebut.

Laut biru, daun musim gugur yang merah serta penduduknya yang ramah adalah pesan damai dari Hiroshima yang mendorong tercapainya dunia bebas senjata nuklir pada 2020.

Oleh Maria D. Andriana
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2014