Jakarta (ANTARA) - Sebagian besar wanita sudah tidak asing lagi dengan istilah menopause. Secara umum, menopause merujuk pada fase kehidupan seorang wanita ketika siklus menstruasi berhenti secara permanen, yang menandakan berakhirnya masa reproduksi atau kesuburan.

Kondisi ini secara alamiah kerap terjadi pada usia tua yakni 45 - 55 tahun, namun dalam beberapa kasus, menopause bisa datang lebih awal atau dipicu oleh faktor medis tertentu.

Perubahan hormon selama menopause juga dapat menyebabkan berbagai gejala fisik dan emosional, seperti gangguan tidur dan perubahan suasana hati.

Namun, tidak semua wanita mengalami gejala menopause dengan cara yang sama, sehingga menopause terbagi dalam beberapa jenis.

Baca juga: Dokter kandungan sarankan perempuan menopause rajin latihan beban

1. Menopause alami

Menopause alami terjadi ketika ovarium secara bertahap berhenti memproduksi hormon estrogen dan progesteron.

Biasanya, proses ini berlangsung secara perlahan dalam beberapa tahun, dimulai dengan fase perimenopause, yang ditandai dengan menstruasi yang tidak teratur karena kadar hormon sudah menurun.

Setelah satu tahun penuh tanpa menstruasi, seorang wanita dinyatakan memasuki masa menopause.

Gejala umum dari menopause alami kerap terjadi rasa panas, gangguan tidur, kekeringan pada vagina, dan perubahan suasana hati.

Baca juga: Perubahan pola makan dapat meringankan gejala menopause

2. Menopause dini

Menopause dini terjadi ketika seorang wanita mengalami menopause sebelum usia 40 tahun.

Kondisi ini dapat disebabkan oleh kondisi kesehatan, faktor genetik, kelainan kromosom seperti sindrom Turner, gangguan autoimun, atau paparan toksin tertentu.

Wanita yang mengalami menopause dini lebih berisiko terkena osteoporosis dan penyakit jantung karena tubuh kehilangan estrogen lebih awal dibandingkan wanita lainnya.

Gejala yang muncul serupa dengan menopause alami. Menopause dini juga dapat memengaruhi kesuburan, hormon yang tidak seimbang, dan emosional.

Baca juga: Kiat melindungi kesehatan tulang saat memasuki menopause

3. Menopause induksi

Menopause induksi terjadi akibat tindakan medis tertentu seperti operasi pengangkatan ovarium, kemoterapi atau terapi radiasi yang merusak fungsi ovarium.

Karena menopause induksi terjadi secara tiba-tiba tanpa melalui fase perimenopause, gejalanya sering kali lebih berat dan mendadak, seperti gangguan tidur, dan peningkatan risiko osteoporosis.

Wanita yang mengalami menopause induksi sering memerlukan terapi penggantian hormon (HRT) untuk mengurangi dampak buruknya terhadap kesehatan.

Baca juga: Vaksin HPV picu menopause dini pada anak perempuan, benarkah?

4. Perimenopause

Perimenopause adalah periode transisi sebelum menopause dapat berlangsung selama beberapa tahun, umumnya ini terjadi sekitar selama 10 tahun.

Pada tahap ini, kadar hormon estrogen mulai menurun, menyebabkan berbagai gejala seperti menstruasi tidak teratur, gangguan tidur, perubahan suasana hati, dan penurunan libido.

Meskipun kadar estrogen menurun, wanita tetap perlu berhati-hati karena peluang untuk hamil masih bisa terjadi. Oleh karena itu, bagi wanita yang tidak berencana memiliki anak, penggunaan alat kontrasepsi tetap diperlukan.

Baca juga: Hati-hati menggunakan obat menopause

5. Pascamenopause

Fase ini biasanya merujuk pada rentang waktu sekitar 10 tahun setelah menopause terjadi. Pada tahap ini, berbagai gejala yang mengganggu, seperti rasa panas berlebih atau hot flashes mulai mereda.

Namun, wanita tetap perlu memperhatikan kesehatan mereka, karena penurunan kadar estrogen secara drastis dapat meningkatkan risiko munculnya masalah kesehatan lain, seperti osteoporosis.

Kondisi ini membuat tulang menjadi lebih rapuh dan rentan terhadap patah, sehingga diperlukan pencegahan, seperti pola makan kaya kalsium, olahraga teratur, dan pemeriksaan kesehatan.

Baca juga: Dokter ungkap kaitan kanker serviks dan menopause

Gejala terjadi menopause

Setiap wanita dapat mengalami berbagai gejala menopause yang berbeda-beda. Beberapa hanya merasakan gejala ringan, sementara yang lain mengalami gangguan gejala yang cukup berat pada tubuhnya.

Berikut adalah gejala-gejala yang kerap terjadi saat fase menopause:

  • Hot flashes (keringat malam): Sensasi panas mendadak disertai keringat berlebih, terutama saat tidur.
  • Menstruasi tidak teratur: Siklus haid menjadi tidak teratur hingga berhenti sepenuhnya.
  • Kekeringan vagina: Kurangnya pelumasan yang menyebabkan ketidaknyamanan saat berhubungan intim.
  • Gangguan tidur: Sulit tidur atau sering terbangun di malam hari.
  • Masalah saluran kemih: Frekuensi buang air kecil meningkat.
  • Perubahan berat badan: Penambahan berat badan dan perubahan bentuk tubuh.
  • Mood swings: Emosi tidak stabil, mudah marah, atau sensitif.
  • Kecemasan dan depresi: Peningkatan risiko gangguan kesehatan mental.
  • Gangguan daya pikir: Kesulitan fokus dan gangguan ingatan.
  • Penurunan libido: Berkurangnya hasrat seksual.
  • Kulit dan rambut berubah: Ketebalan rambut berkurang dan kulit kepala menjadi kering.
  • Kepadatan tulang menurun: Risiko osteoporosis meningkat akibat penurunan estrogen.

Baca juga: Tablet hormon untuk menopause dapat pengaruhi kesehatan jantung

Baca juga: Hati-hati menggunakan obat menopause

Pewarta: Putri Atika Chairulia
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.