counter

Jamu pun tertera di relief Candi Borobudur

Jamu pun tertera di relief Candi Borobudur

Taman Wisata Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. (FOTO ANTARA)

... menggambarkan kehidupan masyarakat zaman dulu, di hutan dengan rumah panggung, menggunakan alat-alat tradisioinal untuk membuat ramuan untuk memasak, juga untuk membuat jamu... "
Magelang, Jawa Tengah (ANTARA News) - Seorang di antara 22 finalis pemilihan Ratu Jamu Gendong dan Jamu Gendong Teladan 2014, sangat terharu saat melawat ke Candi Borobudur. Sebabnya, ternyata hal-hal tentang jamu tertera pada relief Candi Borobudur itu. 

Informasi bahwa relief bangunan warisan peradaban dunia di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang juga menorehkan kisah tentang jamu, sama sekali tak mereka ketahui.

Penyelenggara menyatakan, keputusan tentang lokasi final pemilihan Ratu Jamu Gendong dan Jamu Gendong Teladan 2014 itu di Candi Borobudur, antara lain karena ada bagian di dinding candi Buddha terbesar di dunia tersebut yang menorehkan relief ihwal jamu. 

Rangkaian puncak pemilihan berlangsung sejak 5-7 Desember 2014, antara lain tahapan karantina, kunjungan wisata desa di sekitar Candi Borobudur, pawai kesenian, dan final di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur.

Sebanyak 22 finalis pemilihan Ratu Jamu Gendong dan Jamu Gendong Teladan 2014 dengan prakarsa perusahaan jamu, PT Jamu Jago, sejak 2008 itu, adalah mereka yang lolos audisi dengan total 707 peserta.

Audisi di tujuh kota yakni Jakarta, Bogor, Bandung, Cikampek, Cirebon, Semarang, dan Solo, berlangsung sejak Agustus hingga Oktober 2014. Peserta pemilihan Ratu Jamu Gendong berusia 18-35 tahun, sedangkan Jamu Gendong Teladan 35-55 tahun.

Penilaian oleh dewan juri terhadap mereka, menyangkut pengetahuan tentang jamu, kemampuan menyeduh jamu, kemampuan menjual jamu, pengetahuan produk jamu, keterampilan interpersonal, etika, dan daya tarik penampilan.

"Baru sekali ini ke Borobudur, tidak tahu kalau ada relief tentang jamu," begitu kira-kira pernyataan Siti Lestari (19), seorang finalis pemilihan yang asalnya dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, namun selama tiga tahun terakhir menjadi penjual jamu gendong di Bandung, Jawa Barat.

Pemegang gelar Ratu Jamu Gendong 2012 yang menjadi tamu kehormatan dalam rangkaian pemilihan pada 2014, Triningsih (27), berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah. Namun selama 10 tahun terakhir menjadi penjual jamu gendong di Cirebon, Jabar, juga menyatakan hal serupa dengan Siti.

"Belum tahu," katanya, di sela mengikuti agenda wisata desa di sekitar Candi Borobudur bersama para finalis itu.

Ketua Panitia Pemilihan Ratu Jamu Gendong dan Jamu Gendong Teladan 2014 Aries Rahardjo mengatakan rangkaian agenda final pemilihan cukup padat sehingga tidak dijadwalkan mereka naik ke Candi Borobudur.

Lokasi final pemilihan pada Minggu (7/12) di zona II TWCB, sekitar 50 meter timur candi itu. Mereka yang berjumlah 22 perempuan itu, terdiri atas 13 finalis pemilihan Ratu Jamu Gendong dan sembilan finalis pemilihan Jamu Gendong Teladan.

"Tidak ada rencana naik candi," katanya saat memimpin rombongan finalis itu mengunjungi pusat kerajinan kriya kayu "Rik Rok" di Dusun Tingal, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, sekitar 1,5 kilometer timur Candi Borobudur, Sabtu (6/12).

Sejumlah relief di dinding Candi Borobudur yang dibangun sekitar abad ke-8 masa pemerintahan Dinasti Syailendra, memang tidak serta merta menggambarkan tentang penjual jamu gendong.

Hal yang umum telah diketahui bahwa, relief Candi Borobudur menggambarkan tentang sejarah kehidupan Sidharta Gautama hingga mencapai kesempurnaan sebagai Sang Buddha dengan berbagai ajaran kebudhaan dan ajaran kemanusiaan yang universal lainnya.

Dengan sigap, petugas bagian hubungan masyarakat Balai Konservasi Borobudur Mura Aristina, pagi itu, menunjukkan secara khusus kepada Antara tentang dua panel relief yang umumnya diterjemahkan sebagai gambaran orang sedang membuat jamu.

Satu relief tentang orang membuat jamu di panel 19 relief Karmawibangga, yang letakknya di dinding dasar candi bagian tenggara. Relief yang antara lain menggambarkan orang sedang menumbuk dengan alat itu, bercerita tentang ungkapan syukur atas kesembuhan seseorang dari sakitnya.

"Yang diketahui selama ini, ada dua relief jamu. Itu menunjukkan bahwa tak terbantahkan, jamu warisan nenek moyang bangsa kita," kata Mura yang sering menjadi pemandu tamu kenegaraan yang berkunjung ke Candi Borobudur.

Satu relief tentang jamu lainnya di Candi Borobudur ditunjukkannya terletak di pojok lorong pertama, sisi utara, dinding utama bawah, tepatnya di dekat relief kapal. Relief itu, menggambarkan seorang perempuan memegang batu giling atau pipisan dengan di atasnya berupa relief rumah panggung.

Ia mengaku mendapat informasi pertama kali tentang relief jamu dari orang yang disebutnya sebagai Mbah Yono (almarhum), seorang pekerja pemugaran Candi Borobudur pada 1973-1983 yang kemudian menjadi pemandu wisata Borobudur.

"Relief yang ini menggambarkan kehidupan masyarakat zaman dulu, di hutan dengan rumah panggung, menggunakan alat-alat tradisioinal untuk membuat ramuan untuk memasak, juga untuk membuat jamu," katanya.

Sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia, tradisi budaya jamu memang penting untuk dilestarikan dari generasi ke generasi. 

Tentu pada masa lalu belum ada jamu gendong sebagaimana telah menyebar di berbagai kota pada zaman sekarang, menjadi aktivitas perekonomian untuk tujuan kesehatan tubuh, dengan sajian baik yang masih secara racikan tradisional maupun dalam bentuk seduhan.

Siti mengaku omzet berjualan jamu gendong setiap hari, di salah satu pasar di Cimahi sekitar Rp80 ribu dengan kurun waktu berjualan mulai pukul 04.00 hingga 07.00 WIB, sedangkan omzet Triningsih yang berjualan di salah satu pasar di Cirebon setiap hari sekitar Rp100.000.

Mereka menekuni pekerjaan sebagai penjual jamu gendong karena warisan dari orang tua masing-masing. Produk jamu yang mereka jajakan kepada masyarakat, antara lain berupa seduhan untuk pegal linu dan masuk angin, serta racikan yang berupa beras kencur serta kunir asem.

"Yang minum jamu sekarang tidak hanya ibu-ibu, tetapi juga anak-anak, remaja, dan orang dewasa lainnya. Orang dari luar negeri juga ada yang suka minum jamu," kata Triningsih.

Oleh karena gelarnya sebagai Ratu Jamu Gendong, selama dua tahun terakhir, Triningsih berperan dalam menguatkan kembali budaya masyarakat minum jamu melalui promosi di berbagai kota, seperti Semarang, Solo, Jakarta, dan Bandung.

Pemenang pemilihan Ratu Jamu Gendong dan Jamu Gendong Teladan 2014, akan menjadi duta aktif jamu untuk menggalakkan budaya minum jamu oleh masyarakat Indonesia.

"Supaya budaya minum jamu sebagai kebanggaan bangsa makin dicintai masyarakat. Seni merawat kesehatan dan pengobatan dengan menggunakan bahan-bahan alami yang sering disebut jamu itu memang sudah turun-temurun. Warisan budaya ini harus dilestarikan," kata Direktur Utama PT Jamu Jago Ivana Suprana.

Harta kekayaan budaya bangsa berupa jamu itu, katanya, juga tertera dalam relief Candi Borobudur. 

Oleh Hari Atmoko
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Makna sakral lampion api Waisak

Komentar