Jakarta (ANTARA) - PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) menyatakan bahwa perseroan fokus untuk menjaga kinerja perseroan agar tetap baik dan terus bertumbuh, merespons pasar saham yang belakangan ini menghadapi tekanan.
Sebelumnya pada Selasa siang (18/3), Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) yang dipicu oleh anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai lebih dari 5 persen.
“Kami lebih fokus untuk memastikan kinerja tetap baik, terus tumbuh, terus bisa menghasilkan kinerja yang positif dan berkesinambungan, dan senantiasa menyampaikan berbagai komunikasi yang memang diperlukan,” kata Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja dalam paparan publik tahunan di OCBC Tower, Jakarta, Kamis.
Sebagai salah satu bank yang tertua di Indonesia, Parwati mengatakan bahwa OCBC NISP telah melalui berbagai kondisi sulit yang terjadi di Indonesia termasuk krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 dan 2008.
Meski begitu, imbuh dia, perseroan tetap percaya bahwa langkah terbaik dalam menghadapi kondisi sulit yaitu tetap menjaga kinerja agar berkesinambungan yang diiringi dengan prinsip kehati-hatian.
Parwati mengatakan, OCBC juga senantiasa memastikan kecukupan likuiditas, di mana loan to deposit ratio (LDR) pada 2024 tercatat berada di level 81,82 persen. Selain itu, perseroan juga berkomitmen untuk menjaga kualitas penyaluran kredit di mana rasio non-peforming loan (NPL) gross dan net masing-masing tercatat 1,55 persen dan 0,56 persen pada periode yang sama.
“Jadi kembali lagi, kami yakini bahwa kalau misalnya posisi kami sudah baik, pasti masih banyak pemain-pemain usaha yang baik yang membutuhkan modal (untuk penyaluran kredit). Bahkan, biasanya (saat kondisi ekonomi sulit) adalah waktu terbaik untuk kita bisa masuk ke pasar,” kata dia.
Pada kesempatan yang sama, Direktur OCBC Johanes Husin menilai bahwa saat ini risiko pasar memang cenderung volatile, namun masih dalam rentang yang cukup sehat karena likuiditas dan intervensi dari regulator tetap berjalan dengan baik. Dalam hal ini, OCBC juga selalu bekerja sama dengan regulator untuk memastikan pasar tetap stabil.
“Kalau lihat mundur ke belakang bahwa semua keputusan-keputusan yang diambil regulator serta Bank Indonesia terkait suku bunga, mempertahankan nilai tukar, itu sangat efektif. Likuiditas juga sangat terjaga dengan baik,” kata Johannes.
IHSG pada Kamis sore ditutup menguat 70,01 poin atau 1,11 persen ke posisi 6.381,67, dipimpin oleh saham-saham sektor teknologi.
Sebagian besar saham-saham bank besar masih berada di zona merah selama sepekan terakhir. Namun saham bank besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada penutupan perdagangan Kamis sudah berada di zona hijau.
Adapun OCBC (NISP) sendiri mencatat kenaikan harga saham sebesar 2,70 persen dalam sepekan terakhir. Pada penutupan perdagangan Kamis, NISP naik 3,91 persen ke level Rp1.330 per saham.
Pada 2024, OCBC membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 19 persen year on year (yoy) menjadi Rp4,9 triliun. Dengan capaian ini, return on equity (ROE) naik menjadi 13 persen.
Total kredit yang disalurkan OCBC tumbuh 11 persen yoy mencapai Rp170,5 triliun, sedangkan total simpanan nasabah atau dana pihak ketiga (DPK) meningkat 13 persen yoy menjadi Rp205,9 triliun.
Perseroan mencatat, OCBC juga memiliki modal yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ke depan yang tecermin dalam capital adequacy ratio (CAR) sebesar 23,6 persen.
Baca juga: RUPST OCBC sepakati pembagian dividen Rp2,43 triliun
Baca juga: FWD Insurance dan OCBC bekerja sama produk "bancassurance"
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.