Pelukis Sidik Martowidjojo raih emas di Paris

Beijing (ANTARA News) - Maestro lukis asal Indonesia Sidik W. Martowidjojo meraih penghargaan emas untuk karya lukisnya bertajuk "Jalan" pada ajang pameran lukis Louvre Internationals Arts di Carrousel du Louvre, Paris, Prancis, pada 11-14 Desember 2014.

"Jika pelukis dari 40 negara lain hanya boleh menampilkan satu karya pelukisnya, saya yang baru pertama kali ikut, bisa menampilkan 21 karya dan mendapat ruang tersendiri dalam ajang itu," kata Sidik kepada Antara di Beijing, Kamis.

Dalam pameran itu, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, itu mengambil tema "Pencerahan dari Timur" atau "Enlighten Orientalism" yang merupakan hasil karyanya sejak 2004.

Karya Sidik yang banyak bercerita tentang lanskap dan pemandangan dibuat menggunakan media tinta cair. Sidik merupakan pelukis pertama Indonesia yang ikut dalam pameran lukis di Louvre.

"Saya berharap pameran ini juga bisa menginspirasi pelukis-pelukis Indonesia lainnya untuk bisa pameran di sana (Louvre)," katanya.

"Louvre Internationals Arts Exhibition" digelar oleh Asosiasi Seniman Nasional Prancis (SNBA). Ajang yang telah berlangsung selama 126 tahun tersebut merupakan festival tahunan di dunia seni rupa internasional.

Perjalanan seni Sidik yang memiliki nama lain Ma Yong Qiang memiliki jalan panjang. Bermula dikeluarkannya Peraturan Presiden No 6 Tahun 2000, saat diperbolehkannya ekspresi kebudayaan Tiongkok tampil kembali di Indonesia setelah sempat dilarang pada 1967, sampai era Reformasi pada 1998.

Sidik belajar melukis sejak usia kanak kanak. Pada usia sembilan tahun, ia belajar kaligrafi dari Nie Phing Chong dan Xiau Pai Xin (alm), seorang kepala sekolah Tionghoa di Malang. Ia juga otodidak belajar sastra dari ayahnya, Phe Hwie Kwan, yang mengenalkannya kepada buku-buku karya pelukis maestro Tiongkok, Qi Pai She.

Pengagum Handrio, H Widayat, S Sudjojono dan Hendra Gunawan itu memilih Yogyakarta, tempat dia menetap dan memulai pameran tunggalnya yang pertama pada 1998. Setelah itu, beberapa kali ia mengadakan pameran di gedung WTC Jakarta (2003), Langgeng Gallery di Magelang, Jawa Tengah (2004), dan Galeri Nasional Jakarta (2005).

Sejak 1998, Sidik telah menggelar lebih dari 20 pameran tunggal dan beberapa kali pameran bersama di Galeri Nasional, Jakarta, Langgeng Gallery, Magelang, Nadi Gallery, Jakarta, dan ia mulai pameran di Tiongkok, seperti The China Millenium Monument, Beijing, National Art Museum of China (NAMoC), Beijing, Liu Haisu Art Museum, Shanghai, Fuzhou National Gallery, Fuzhou, dan Huafu Tiandi, Shanghai.

Sidik beberapa kali mendapat penghargaan, antara lain dari karya Bunga Phoenix (media cat hitam putih) sebagai Lukisan Tiongkok Mutu Terbaik dalam kompetisi seni lukis dan kaligrafi Tiongkok sedunia di Beijing (2001) dan di Nanjing (2002).

Ia juga mendapat piagam penghormatan 10 Besar Seni Budayawan pada forum diskusi ilmiah "Masyarakat Kecil dan Makmur di Beijing" pada 2006 dari Pusat Pemuda Partai Tiongkok, karena dianggap berhasil melakukan pembaruan dalam seni budaya Tiongkok, dan Sidik satu-satunya orang dari luar Tiongkok.

Sidik juga diangkat sebagai peneliti pada Pusat Penelitian Seni Republik Rakyat Tiongkok di Beijing dan sebagai pengajar tamu (guest professor) di Eastern International Art College of Zhengzhou University of Light Industry pada 2007.

Oleh
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar