Jakarta (ANTARA) - Meski informasi mengenai tuberkulosis atau TBC semakin mudah diakses, masih banyak mitos keliru yang beredar di masyarakat.
Kesalahpahaman ini sering membuat orang salah paham mengenai cara penularan, proses pengobatan, hingga siapa saja yang berisiko terinfeksi. Akibatnya, banyak orang menjadi terlalu takut atau justru meremehkan penyakit ini.
Mitos yang salah kaprah ini juga memicu stigma negatif terhadap penderita TBC. Beberapa orang percaya bahwa TBC hanya menyerang kelompok tertentu atau tidak dapat disembuhkan, padahal pengobatan yang tepat memungkinkan pasien pulih sepenuhnya. Memahami fakta di balik mitos-mitos ini penting untuk mencegah penyebaran informasi yang salah dan menciptakan lingkungan yang lebih peduli dan suportif.
Lalu, apa saja mitos keliru tentang TBC yang masih dipercaya banyak orang beserta fakta yang benar berikut penjelasannya
1. Mitos: TBC hanya menyerang orang miskin atau yang kurang gizi
Fakta:
TBC tidak memandang status sosial atau kondisi ekonomi. Siapa saja bisa terinfeksi jika terpapar bakteri Mycobacterium tuberculosis di lingkungan yang padat atau memiliki ventilasi buruk. Meskipun malnutrisi dapat melemahkan sistem imun dan meningkatkan risiko infeksi, orang dengan gaya hidup sehat pun tetap berisiko tertular jika berada di lingkungan yang terkontaminasi bakteri dalam waktu lama.
2. Mitos: TBC menular lewat kontak fisik atau berbagi peralatan makan
Fakta:
TBC tidak menyebar melalui kontak fisik seperti berjabat tangan atau berbagi alat makan. Penularannya terjadi melalui udara ketika penderita TBC aktif batuk, bersin, atau berbicara tanpa menutup mulut. Oleh karena itu, penting bagi pasien TBC menggunakan masker dan menjaga etika batuk untuk mencegah penyebaran bakteri kepada orang lain.
3. Mitos: Jika gejala membaik, pengobatan bisa dihentikan
Fakta:
Merasa lebih baik bukan berarti bakteri TBC sudah hilang. Pengobatan TBC harus diselesaikan sesuai anjuran dokter, biasanya selama minimal enam bulan. Menghentikan pengobatan lebih awal dapat menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap obat (resistensi), sehingga pengobatan menjadi lebih sulit dan memerlukan waktu lebih lama.
4. Mitos: TBC adalah penyakit keturunan
Fakta:
TBC bukan penyakit yang diwariskan dari orang tua ke anak. Mitos ini mungkin muncul karena anggota keluarga yang tinggal serumah sering kali tertular satu sama lain. Penularan terjadi karena kedekatan fisik yang memungkinkan bakteri menyebar melalui udara. Meskipun ada bukti bahwa faktor genetik dapat mempengaruhi apakah seseorang dengan infeksi laten akan berkembang menjadi TBC aktif, bakteri tetap menjadi penyebab utama penyakit ini.
5. Mitos: Vaksin BCG dapat mencegah TBC sepenuhnya
Fakta:
Vaksin BCG memberikan perlindungan terhadap bentuk TBC berat pada anak-anak, seperti TBC meningitis. Namun, vaksin ini tidak memberikan perlindungan penuh terhadap TBC paru pada orang dewasa. Karena itu, tetap penting menjaga pola hidup sehat dan waspada terhadap gejala TBC untuk mencegah penyebaran penyakit.
6. Mitos: TBC adalah penyakit masa lalu yang sudah tidak perlu dikhawatirkan
Fakta:
TBC masih menjadi ancaman kesehatan global hingga saat ini. Menurut data Kementerian Kesehatan, Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi di dunia, mencapai sekitar satu juta kasus per tahun. Penyakit ini tetap memerlukan perhatian serius untuk dikendalikan dan dicegah penyebarannya.
Baca juga: RI optimalkan skrining TBC di lapas atasi tingginya penularan
Baca juga: Wamenkes: Penyebaran TBC di Lapas miliki risiko 10 kali lebih tinggi
Baca juga: Pemberian makanan tambahan dari Bukit Asam: Demi anak sehat dan masa depan cerah
Pewarta: Allisa Luthfia
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.